Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia Makin Mendunia dalam Ajang World of Coffee Expo Dublin 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – KBRI Brussels dan KBRI London bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) mempromosikan kopi Indonesia di kancah Internasional “World of Coffee Expo Dublin 2016”.

“Mengingat Eropa merupakan pangsa pasar terbesar untuk kopi Indonesia, melalui kolaborasi ini, kita berharap promosi kopi Indonesia lebih kuat, dan lebih luas, sehingga pada akhirnya ekspor kita juga lebih besar,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma dalam keterangan resminya.

“Tahun depan kita rencanakan untuk berpartisipasi juga di London Coffee Festival dan saya harapkan para eksportir kopi Indonesia dapat turut serta,” ucap Rizal.

“Melalui kopi, kita juga bisa menampilkan keberagaman Indonesia,” tambah Rizal.

Dalam kesempatan tersebut KBRI Brussel bersama delegasi 16 perusahaan atau eksportir kopi Indonesia termasuk beberapa koperasi petani kopi dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia membawa produk-produk kopi unggulan Indonesia.

Produk-produk seperti sustainable dan specialty coffee asal Gayo, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Flores, sampai Papua turut dipamerkan dalam acara yang dilaksanakan mulai 23 Juni 2016.

Untuk pengembangan industri dan perdagangan kopi Indonesia yang berkelanjutan di pasar dunia, pihak KBRI melakukan update informasi kepada para buyers tentang bagaimana proses pengolahan kopi Indonesia.

Sementara itu, tahun 2017 World Coffee Expo akan diadakan di Budapest-Hongaria.

Sejalan dengan akan diikutinya Europalia di 70 kota besar di UE, kopi juga akan menjadi duta perdagangan dan pariwisata Indonesia di pasar Eropa.

Penulis : Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta

Categories
Bisnis Kopi

Bisnis Kopi Papua, KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com

Sejak tahun 2015, tepatnya pertengahan tahun lalu, bulan Mei 2015, telah dilakukan berbagai penyesuaian berarti dalam bisnis Kopi Papua. Penyesuaian utama dan terpenting dalam sejarah bisnis Kopi Papua ialah perombahan struktur organisasi dan jalur distribusi Kopi Papua.

Perombakan dimaksud sebagai tindak-lanjut dari kebijakan pembentukan Unit Marketing & Sales Kopi Papua yang telah didirikan tahun 2013, berkantor pusat di pulau Jawa: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan pembentukan Unit Markting dan Sales KSU Baliem Arabica pada tahun 2013, maka secara otomatis pemasaran Kopi Papua berorientasi kadada konsumen dan pebisnis Kopi di Indonesia, sebuah perubahan yang berarti, karena pada tahun-tahun sebelumnya telah terjadi export kopi Papua secara berturut-turut sejak tahun 2009.

Setelah toko Online PAPUAmart.com didirikan tahun 2014, maka disusul dengan proposal kepada KSU Baliem Arabica untuk membentuk sebuah Minimarket PAPUamart.com di Tanah Papua

PAPUAmart.com dimaksudkan untuk melanjutkan fungsi dan tugas Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arabica, mempromosikan dan menjual Kopi Papua produk KSU Baliem Arabica kepada konsumen di Indonesia.

Perombahan cukup berarti yang terjadi pertengahan tahun 2015 dimaksudkan untuk menyelamatkan bisnis Kopi Papua karena banyak tengkulak dan mafia Kopi Papua. Menyusul strukturisasi Unit Marketing & Sales, maka dilakukan pembenahan di Gudang Produksi Kopi Papua.

Pada akhir tahun 2015, sejalan dengan peluncuran MEA (Masyarakat Ekonomi Eropa) maka KSU Baliem Arbaica juga membuka Gudang Kopi PAPUAmart.com di Jakarta.

Pada tahun 2016 ini diharapkan agar semua penjualan Kopi Papua dipusatkan dari Jakarta, sehingga dapat dibagikan secara merata di seluruh pulau Jawa dan Sumatera, sementara penjualan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan dari Yogyakarta, dan penjualan ke Bali dan Sulawesi serta Borneo dilakukan langsung dari Tanah Papua.

Categories
Bisnis Kopi

SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini

Anggi Oktarinda  Jum’at, 24/04/2015 05:12 WIB

Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.

Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.

Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.

Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.

Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.

Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.

Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.

Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.

Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.

Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.

Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.

Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.

Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.

Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.

Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?

Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?

Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.

Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.

Categories
Bisnis Kopi

Menikmati Kopi Papua Diiringi Musik Jazz

JIKA Anda penikmat kopi dan penggemar musik jazz, datanglah ke kafe Intro Jazz di BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Di kafe ini, setiap Jumat malam dan Sabtu malam, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik jazz yang dimainkan berbagai komunitas dan grup jazz berganti-ganti.

Sabtu (4/10/2014) malam lalu, grup jazz yang terdiri dari Cendy Luntungan, Aga Hamzah, Happy Pretty, dan Gomez tampil di tempat ini. Malam itu mereka membawakan lagu-lagu di antaranya “As Time Goes By” dan “Just The Two of Us”.

Kehadiran kafe khusus jazz yang dibuka satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tentu saja disambut gembira oleh penggemar jazz. “Sudah lama saya mencari kafe khusus jazz. Saya gembira menemukan kafe ini,” kata Andin, seorang pecinta musik jazz. Andy Noya, “host” program Kick Andy di Metro TV juga pelanggan tetap kafe ini.

Direktur Operasi Intro Jazz Cafe & Bistro, Ivan Tanuwijaya, mengungkapkan, dia dan 12 mitra pemilik kafe ini memilih konsep kafe jazz karena bertujuan ingin memajukan jazz di Indonesia.

“Kami tahu ini tidak mudah karena jazz bukanlah musik sehari-hari yang disukai banyak orang. Biasanya kafe jazz tidak tahan lama dan terpengaruh musik lain. Tapi kami yakin kafe jazz di Serpong ini akan berkembang,” cerita Ivan. Di Serpong sendiri, sudah berkembang komunitas jazz BSD.

Pada awalnya Ivan dan kawan-kawannya hanya ingin menyediakan kopi. Tetapi kemudian mereka berpikir perlu menyediakan juga mocktail dan makanan. Yang menarik, semua kopi yang disediakan di Intro Jazz berasal dari Papua. “Kami menggunakan kopi Papua karena ingin mempromosikan Papua sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi Papua. Selain itu, kopi Papua lebih organik, rasanya fruity, dan diambil langsung dari hutan,” jelas Ivan.

Ivan yang menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat dan bekerja di sana selama 12 tahun itu, bermimpi, suatu hari Intro Jazz menjadi basecamppemain-pemain jazz di Indonesia, seperti klub-klub jazz Blue Note di Tokyo, Jepang, atau Baked Potato di Los Angeles, Amerika Serikat. “Ada rasa bangga bila bermain di klub jazz itu. Kami berharap siatu hari Intro Jazz mencapai itu,” ungkap Ivan.

Dia juga merencanakan mengajak pemain jazz internasional bermain di Intro Jazz agar menjadi bagian edukasi bagi pemain-pemain jazz Indonesia.

Atmosfer Kafe Intro Jazz seperti gudang, tak ada pembatas dan plafon. Yang ada hanya foto-foto para pemain jazz terkenal yang dipajang di sekeliling kafe yang dipinjamkan jazzer Ireng Maulana. Foto-foto pemain jazz dunia itu mulai dari George Benson, Al Green, Wynton Marsalis, Herbie Hancock, Candy Dulfer, Pat Metheny, John Scofield, sampai Miles Davis.

Makanan

Suasana nge-jazz di kafe ini diimbangi dengan makanan yang disajikan, kombinasi makanan Indonesia dan barat. Salah satu yang terkenal adalah Fat Man Burger 750 gram. Burger setebal itu biasanya dihabiskan oleh empat sampai delapan orang. Makanan barat lainnya yang digemari tamu yaitu Sirloin. Daging empuk ini diimpor khusus dari Amerika Serikat.

Adapun makanan Indonesia yang dicari pengunjung adalah ayam panggang madu dan mi tek-tek. Makanan-makanan ini hasil racikan chef yang “dibajak” dari sebuah hotel bintang empat di Jakarta.

Meskipun masih baru, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong dan hang-out para mahasiswa di kawasan Serpong, mulai dari Swiss German University, Universitas Multimedia Nusantara, sampai Universitas Pelita Harapan. “Keunggulan kami adalah akses internet yang cepat,” kata Ivan.

Intro Jazz Cafe & Bistro berlokasi di kawasan CBD BSD, di antara McDonald’s dan Lembur Kuring, di belakang Giant BSD. Akses ke BSD saat ini makin cepat dan mudah setelah jalan tol JORR W2 beroperasi. Penggemar jazz dari Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bekasi, lebih cepat mencapai lokasi ini.

Penulis : R. Adhi Kusumaputra
Editor : I Made Asdhiana

Rabu, 8 Oktober 2014 | 09:41 WIB, Travel.Kopmas.com 

Dicopy Uland Dari PAPUACoffees.com

Categories
Berita Perusahaan

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial berakhir per 17 Agustus 2014

Dengan ini diberitahukan kepada seluruh pelanggan Kopi Papua, secara khusus pelanggan KSU Baliem Arabica bahwa produk yang tersedia dan ditawarkan kepada pembeli di seluruh dunia sebagai “Penawaran Spesial, dengan Harga Spesial, bagi Pembeli Spesial” musim panen 2014 tahap perdana telah berakhir, lebih cepat daripada waktu yang telah ditargetkan KSU Blaiem Arabica, yaitu selama sebulan.

Sebagaimana dilansir oleh Situs Resmi KSU Baliem Arabica dengan judul “Penawaran Khusus Panen Perdana 2014 Berakhir” ini menandakan penawaran tahap pertama untuk musim panen tahun ini telah berakhir.

Diharapkan agar pada bulan ini atau bulan depan sudah dilakukan penawaran tahap kedua, tetapi kabar penawaran tahap kedua itu memang ada atau tidak, dan kalau ada kapan akan ditawarkan kepada pembeli di seluruh dunia juga belum diberitakan dari kantor KSU Baliem Arabica.

Dari catatan di situs Koperasi terlihat akan terjadi penambahan sumber “single origin’ dari kopi Papua, akan tetapi waktu penambahan kopi single origins lainnya seperti

  • Kopi Moanemani
  • Kopi Dogiyai
  • Kopi Goroka
  • Kopoi Deiyai
  • Kopi Arfak, dan
  • Kopi Hagen

belum jelas kapan akan ada persediaannya karena berdasarkan komunikasi dari situs ini, Ketua Koperasi Baliem Arabica menyatakan tidak dapat memastikan dengan tepat kapan ketersediaan kopi-kopi lain itu sudah ada di Gudang Produksi KSU Baliem Arabica di Jayapura, Papua.

Categories
Berita Perusahaan

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial untuk 10 Pembeli Pertama Musim Kopi Juli – September 2014

Dear Penikmat dan Pengusaha Kopi di Seluruh Indonesia dan Team Kerja KSU Baliem Arabica,
Selamat Pagi!, semangat Pagi!
Dari Kantor Pusat KSU Baliem Arabica sebagai pusat pembelian Kopi di Pegunungan Tengah Papua dengan ini kami sampaikan PENAWARAN KHUSUS kepada 10 Pembeli Pertama untuk Musim Panen 2014 (Juli – September 2013) dengan harga khusus.
Koperasi Baliem Arabica ingin menawarkan penjualan kopi Biji ke beberapa Pembeli lokal yang selama ini aktif dengan harga special. Bagi pembeli baru, kami sarankan menjelaskan kepada Koperasi seberapa sering mereka akan beli dan berapa jumlah pembelian regular yang direncanakan untuk kami ketahui sebelum memutuskan apakah kami akan jual kepada pembeli baru atau tidak.
Karena Tahun ini kami punya stock beberapa ton.
Berikut Informasi Kopi.
1. Coffee Variety : Arabica
2. Kadar Air/ Moisture : 11,5-12,5 %
3, Grade : Grade One
4. Certification : Organic RA
5. Price : FOB Sentani Wirehouse, Jayapura dengan harga special Rp. 67.000/ kg.

Info Selengkapnya silahkan hubungi

  1.  Email: coffeebaliemblue@yahoo.com; info@coffea.asia; info@baliemarabica.com
  2. SMS/ Telepon: 081248129978 / 081238301001
Demikian informasi penawaran, jika ingin membeli/ memesannya mohon info balik dalam waktu dekat.
Terima kasih atas kerja sama dan jawaban anda sangat kami nantikan.
wa wa wa
On behalf KBA Wamena

SUmber: PapuaCoffees.com

Categories
Bisnis Kopi

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

Penjualan Kopi Papua di Sorong
Penjualan Kopi Papua di Sorong

Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.

“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.

Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.

Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.

“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.

Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.

“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.

Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.

Sumber Berita: travel.detik.com/read/2013/10/07/091902/2379498/1519/2/kisah-unik-kopi-senang-dari-sorong-papua

Sumber Cerita: PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Papua Wamena, Beda Teknik Seduh Beda Rasa

KOMPAS.com – Bagi penikmat kopi, pastinya sangat menginginkan rasa kopi yang sebisa mungkin memiliki variasi. Sebenarnya Anda bisa mendapatkan rasa kopi yang beda dari biji kopi yang sama, rahasianya ada pada teknik menyeduh.

Biasanya, banyak orang memilih teknik seduh praktis, yakni memasukkan kopi dalam cangkir, lalu diseduh dengan air mendidih. Abud, bagian research and development Djournal Coffee mengatakan, setidaknya ada tiga teknik seduh kopi lainnya yang bisa digunakan. Ketiganya yakni pour over, syphon dan cold drip.

“Masing-masing teknik seduh kopi, menggunakan gadget atau bentuk alat yang juga berbeda,” ujar Abud, saat ditemui di Djournal Coffee, Grand Indonesia, Rabu (11/9/2013).

Pour over, kata Abud merupakan teknik lama yang sekarang menjadi tren. Kopi disaring dengan filter kertas yang mengerucut. Dengan alat ini, beda cara menuang akan melahirkan rasa yang berbeda. Begitu juga dengan filternya, bisa dibasahi terlebih dahulu bisa juga tidak. Lagi-lagi setiap langkah akan membuat rasa kopi berbeda. Untuk pour over, durasinya merentang antara dua sampai tiga menit.

Teknik seduh kedua, ada syphon. Bentuknya seperti vacuum pot, yang terdiri dari dua gelas, dengan posisi atas dan bawah. Bagian atas tempat menuangkan kopi, sementara itu bagian bawah menjadi sumber pemanasnya. Kopi dituangkan setelah air yang ada di bagian atas tampak sudah mendidih. Durasinya cukup 40 detik dan setelah pemanas dimatikan, kopi dengan sendirinya turun ke bagian bawah.

Sementara, teknik seduh kopi ketiga ada cold drip. Bentuknya menjulang dengan ukuran lebih besar. Durasi pembuatan bisa berlangsung 8 hingga 10 jam, tapi dengan kapasitas yang bisa mencapai 10 cangkir kopi.

Untuk rasanya, kopi dengan teknik seduh pour over memiliki rasa lebih kuat dibanding syphon yang lebih ringan. Sementara cold drip dengan rasa dingin, ibarat menikmati wine, rasanya menjadi lebih unik, minumlah dan kumpulkan di dalam mulut, kemudian dalam hitungan menit tenggorokan pun akan terasa hangat.

“Bagi mereka penikmat kopi, tiga teknik ini menjadi sensasi tersendiri, dan di sini mereka bisa melihat prosesnya langsung,”

ujar Christine Utomo, asisten brand manager Djournal Coffee.

Ketiga teknik tersebut bisa diimplementasikan pada kopi arabika yang berasal dari Papua Wamena. Selain itu, ada Djournal Daily dan Toraja Kalosi untuk pour over dan syphon, serta kopi enrekang untuk cold drip.

Penulis : Rahman Indra
Editor : D. Syafrina Syaaf
Kamis, 12 September 2013 | 07:26 WIB,  Female Kompas.com

Dicopy Ulang dari: PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Wamena setara dengan kopi kelas dunia

Blue Mountains coffee adalah salah satu kopi terbaik di dunia yang terkenal dengan karakter good acidity, intense aroma, fairly good body, clean. Ditanam di area perbukitan di bagian timur pulau Jamaika bernama Blue Mountains, perpaduan kondisi tanah, curah hujan, dan temperatur yang sesuai menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan rasa menawan.

Menurut sebuah sumber, Indonesia memiliki daerah penghasil kopi yang kualitasnya setara dengan Blue Mountains Coffee yaitu Wamena di Papua. Hal ini dimungkinkan karena menurut sumber tersebut bibit kopi yang ditanam dari Papua berasal dari Blue Mountains yang dibawa oleh orang Belanda pada jaman kolonial.

Saya tidak begitu peduli pada keabsahan cerita tersebut. Saya sendiri belum pernah mencoba merasakan kopi dari Blue Mountains, namun buat saya kopi Papua Wamena adalah kopi terfavorit. Entah apakah kopi ini bisa mewakili rasa Blue Mountains coffee yang legendaris itu atau tidak.

Salah satu kedai kopi tempat saya mampir untuk menikmati Papua Wamena adalah Rumakopi di Jl. Suryo 20 lt. 2, Jaksel. Beda kedai kopi bisa beda rasa Wamena-nya. Dan Rumakopi menyajikan rasa kopi Papua Wamena yang pas untuk saya

Sumber : tukangkopi.com

Categories
Cerita Kopi

Minum Kopi (di) Papua

OLEH ONNY WIRANDA, 15 Desember 2012 Lumbung

LEMBAH BEANEKOGOM, TSINGA

Seperti sebuah pementasan, hari memasuki babak baru ketika matahari menyingkir dari langit. Rombongan kecil kami yang baru saja datang memeriksa pembangkit listrik di Sungai Beanagogom, Tsinga, kini berkumpul di depan perapian untuk menikmati makan malam dan mengakhirinya dengan beberapa gelas kopi. Beberapa kali aku menawari Pak Yoap Beanal, kepala suku di Tsinga dan Pak Jack Dendegau Kepala Desa Tsinga untuk ikut minum kopi. Tapi mereka selalu hanya menjawab singkat, “Ah, tidak, terima kasih pak.”

Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sekelompok anak muda Tsinga sedang berkumpul di sebuah honai. Di rumah bujang itu, mereka sedang melepas kepergian seorang guru yang akan turun gunung ke Timika.

Berbagai macam sajian khas pegunungan Papua disajikan. Mulai dari betatas (ubi), sayur pakis, teh hangat, dan tembakau gulung. Tidak ada segelas kopi pun yang tersaji di honai. Padahal tidak jauh dari situ, terletak perkebunan kopi skala kecil yang menjadi salah satu tumpuan produksi sebuah merk kopi yang terkenal: Amungme Gold Arabica Coffee.

PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KOPI

Paling tidak di Mimika, tempat saya tinggal selama beberapa tahun ini, nampak bahwa minum kopi masih belum sepenuhnya jadi bagian dari budaya kuliner setempat. Di Mimika, orang Kamoro yang tinggal di pesisir pantai mengenal kopi dari pos misionaris di Kaokanao. Pada sekitar tahun 1930an, tempat itu berubah menjadi pos pemerintahan.

Menurut Lodefikus Saklil, pada saat itu kesempatan untuk mencicip barang yang namanya kopi biasanya terjadi di Pastoran. Istilah untuk tempat tinggal para pastor dan bruder. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa diduga. Orang-orang Kamoro yang telanjur suka kopi dan tembakau, banyak yang datang menukar keduanya dengan hasil bumi, seperti sagu atau ikan.

Kopi baru tersedia dalam jumlah yang banyak ketika perusahaan tambang raksasa Freeport McMoran memulai operasinya di Mimika. Pada tahun 1967, industri itu membuka landasan udara perintis dan kamp di Timika Pantai. Demikian pula di Tsinga, tempatku mulai menulis catatan ini, kopi bersama dengan teh dan mie instan baru dikenal masyarakat Amungme pada awal tahun 1990an.

Para misionaris tidak mengajari masyarakat untuk menanam kopi di pesisir Mimika. Alasannya, kondisi geografis daerah pesisir Mimika yang terdiri dari rawa-rawa dan delta sungai.

Catatan paling tua mengenai kopi di Papua adalah dari HW Moll (1959). Ia mengkaji kemungkinan penanaman kopi di area sekitar Danau Wisselmeren (sekarang disebut Danau Tigitane) di dataran tinggi Paniai. Tapi kopi baru dikembangkan oleh misionaris pada tahun 1980. Saat itu, seorang bernama Bruder Jan Sjerps, OFM menanam 1000 pohon kopi jenis Arabica untuk melatih anak-anak SMP dan petani di Moanemani, Paniai, Papua. Selain mengajar cara menanam dan merawat kopi, Bruder Jan juga mengajarkan cara menggoreng biji kopi. Sejak itu Kopi Moanemani mulai terkenal.

PERTEMUAN DENGAN KOPI PAPUA

Bagi saya, menjajal berbagai macam kopi Papua selalu menimbulkan sensasi istimewa. Serupa halnya ketika menjajal berbagai penganan Papua yang sebelumnya asing bagiku seperti tambelo (ulat sagu), pinang, dan papeda.

Sekalipun kopi bukan barang asing di Jawa, tapi proses mengenali berbagai macam kopi Papua seperti membuka cakrawala baru berpikir saya. Bahwa minum kopi bukan hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, tapi juga untuk memperkaya ikatan kita dengan tanah asal kopi yang kita minum.

Disalin Ulang dari PAPUACoffees.com