Categories
Berita Kopi Cerita Kopi

8 Jenis Kopi Papua Yang Harus Dikenal Dunia

Walaupun telah disebutkan dalam artikel sebelumnya “4 Jenis Kopi Asal Papua Jadi Idola Dunia” berikut ada penambahan 4 Jenis Kopi Papua lagi dengan penjelasan yang mirip tetapi bervariasi.

Tujuan kami menyajikan informasi jenis Kopi Papua pertama-tama agar penikmat kopi di Tanah Papua dapat merasakan berbagai jenis kopi yang ada di Tanah Papua, dan juga para penikmat kopi di seluruh dunia untuk dapat menikmati kopi-kopi dimaksud.

Tentu saja nama-nama Kopi berikut memilik “Brand Names” yang berbeda-beda, akan tetapi jenis kopi disebutkan berikut berdasarkan “indikasi geografis”, atau asal kopi berdasarkan nama-nama wilayah pemerintahan.

1. Kopi Wamena

Wamena adalah kota di Pegunungan Tengah Papua yang terkenal dengan kopi Arabika berkualitas tinggi. Kopi Wamena memiliki citarasa yang kaya dan kompleks dengan aroma bunga dan rempah-rempah yang khas. Kopi

Di daerah ini, kopi sering ditanam secara organik dan dipetik secara manual oleh petani-petani lokal. Proses pengolahan yang cermat memberikan kualitas akhir yang luar biasa.

2. Kopi Baliem

Ditanam di wilayah Baliem Valley, kopi Baliem juga termasuk dalam kelompok kopi asal Papua yang terkenal dan pada umumnya dikenal petani kopi setempat sebagai Kopi Wamena. (Karena nama Wamena adalah nama asing yang diberikan orang asing dan nama Baliem adalah nama asli, yang juga dikenal sepanjang 7 Suku Koteka di pegunungan tengah Papua).

Kopi ini memiliki citarasa yang lembut dengan sentuhan buah-buahan segar, cokelat, dan sedikit asam. Iklim sejuk di daerah ini memberikan kondisi ideal untuk pertumbuhan kopi yang lambat dan berkualitas tinggi.

3. Kopi Arfak

Ditanam di Pegunungan Arfak di bagian barat Papua, kopi Arfak memiliki ciri khas berupa keasaman yang lembut dan sentuhan buah-buahan tropis. Permen & ManisanDaerah yang relatif tinggi ini memberikan iklim yang cocok untuk perkembangan biji kopi dengan kualitas terbaik.

4. Kopi Paniai (Moanemani)

Paniai adalah wilayah lain di Papua yang juga menghasilkan kopi yang patut diperhitungkan. Kopi ini memiliki keasaman yang cerah dengan rasa buah-buahan yang kuat, seperti stroberi dan blackcurrant.

Proses pengeringan yang hati-hati di bawah sinar matahari di dataran tinggi memberikan karakteristik unik pada kopi Paniai.

5. Kopi Lanny Jaya (Kopi Lani)

Terletak di Pegunungan Tengah Papua, kopi Lanny Jaya menampilkan profil rasa yang beragam, termasuk cokelat, buah-buahan tropis, dan bunga. Kopi

Daerah ini memiliki berbagai variasi mikroklimat (iklim lingkungan) yang mendukung pertumbuhan kopi dengan kompleksitas citarasa yang tinggi.

6. Kopi Nabire

Kopi Nabire ditanam di wilayah Nabire, Papua. Kopi ini memiliki citarasa lembut dengan sentuhan cokelat, karamel, dan rempah-rempah.

Umumnya, Kopi Nabire tumbuh di ketinggian yang beragam sehingga memberikan karakteristik unik pada setiap varietasnya.

7. Kopi Amungme

Kopi Amungme ditanam di kawasan Amungme yang merupakan bagian dari Distrik Mimika, Papua. Kawasan ini terkenal dengan pertambangan tembaga dan emas di Grasberg, yang dikelola oleh Freeport-McMoRan. Permen & Manisan

Walaupun pertambangan besar hadir di daerah ini, petani kopi Amungme berusaha untuk mempertahankan budidaya kopi tradisional mereka dengan baik.

Citarasa kopi Amungme umumnya memiliki ciri khas rasa yang lembut dengan sentuhan cokelat dan buah-buahan tropis.

Keasaman kopi ini biasanya lembut, memberikan kesan keseimbangan dan kelembutan pada setiap cangkirnya.

8. Kopi Pegunungan Bintang

Kopi ini berasal dari daerah Pegunungan Bintang, yang terletak di perbatasan antara Papua Nugini dan Indonesia.

Wilayah ini adalah bagian dari Provinsi Papua dan terkenal dengan keindahan alamnya serta budaya suku-suku yang tinggal di sana.

Citarasa kopi Pegunungan Bintang seringkali memiliki sentuhan buah-buahan tropis yang segar, seperti stroberi dan blackcurrant yang memberikan dimensi rasa yang unik. Selain itu, cokelat dan rempah-rempah juga bisa menjadi bagian dari profil rasa kopi ini.

Tanah Papua begitu kaya dengan mineral dan kekayaan hutan, dikenal sejak zaman purbakala. Baru selepas tahun 2000 maka banyak orang mengenal ragam biji kopinya yang melimpah. Sudah waktunya bagi kita untuk lebih memperhatikan para petani kopi di Tanah Papua agar perekonomian masyarakat Papua .

Itulah delapan jenis kopi asal Papua yang sebaiknya kita kenal dan lestarikan agar tidak musnah ditelan zaman dan terus dikembangkan untuk menambahkan merek dagang dan single origin yang lainnya. ***

Diedit sesuai kebutuhan dari Source:

Categories
Cerita Kopi

Calon Barista Papua Recruit KSU Baliem Arabica ke Tanah Papua per 13 Januari 2015

Pada tanggal 12 Januari merupakan hari bersejarah dalam sejarah Kopi Papua, secara khusus KSU Baliem Arabica lewat Unit Marketing & Sales PAPUAmart.com, karena pada hari ini berakhir proses magang, atau dalam pendekatan belajar-mengajar Papua sudah terkenal sejak nenek-moyang kita ialah datang, lihat, tiru, tanya, dengar, coba, yang hasilnya ialah sebuah proses “pengalaman”, yang dalam istilah metode belajar-mengajar modern kita sebut “learning by doing”. Tanggal 13 Januari ialah tanggal para calon Barista menuju Tanah leluhur, pulau New Guinea.

Dalam pelepasan ini, dengan keharuan yang penuh harapan, menatap ke masa depan Kopi Papua yang begitu cerah, Jhon Kwano melatunkan “Lee Ndawe”, yang dalam bahasa Indonesia ialah Kidung Ratapan,

“Ya Tuhan, Engkau tahu maksud hati kami, untuk datang dan belajar dengan melihat, meniru, bertanya, dan mencoba di sini. Pada hari ini, anak-anak kami sudah menyelesaikan proses dimaksud. Kami tahu, bahwa perjalanan masih sangat, dan sangat jauh. Tetapi saya juga tahu bahwa tanpa proses ini, maka perjalanan yang sangat jauh itu tidak akan pernah saya dan KSU Baliem Arabica tempuh.

Engkah tahu, kami bukanlah orang tua dengan latar-belakang pengusaha. Kami sendiri lahir di zaman batu, ya Tuhan. Dan kami sekarang harus berjuang di era pascamodern. Kami tidak dapat mengharapkan siapapun datang membantu, kami harus bangkit, menyambut dan merebut masa depan yang tersedia. Kalau tidak, ya Tuhan, Engkau tahu, kami akan tertinggal. Kami akan disebut manusia zaman batu, manusia telanjang, manusia miskin, manusia kolot, manusia bodoh. Kami ciptaan-Mu, Tuhan! Kami tahu semua julukan dan anggapan ini meremehkan diri-Mu Pencipta kami. Kami berjuang untuk menutup kekurangan dalam kesempurnaan, demi masa depan orang Papua dan Tanah Papua, yang lebih maju dan berdaya-saing.

Biarlah semua orang Papua, pejabat, pegawai, pengusaha kecil dan besar, ibu dan bapak, kecil dan besar, tua dan muda, di kota dan di kampung, di hutan dan di luar tanah Papua, semua memahami dan maju selangkah dalam irama yang sama, bahwa kemajuan tanah Papua tidak ditentukan oleh Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY, ataupun Jokowi. Semuanya tidak! Kami tahu, maju-mundurnya Tanah Papua ditentukan oleh kami orang Papua sendiri. Itu nubuat, dan itu realias hari ini, itu pula realitas yang kami lihat akan terwujud besok.

Dalam merayakan realitas mendatang itu, kami-pun mengambil langkah-langkah dalam segala kelebihan dan keterbatasan kami. Tuhan, kami hanya berjuang, Engkau-lah yang melengkapi dan menyempurnakan. Gerakanlah semua orang lain di pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Bali, pulau Borneo dan pulau Sulawesi, untuk memberikan dukungan moril dan doa.

Engkau tahu, kami tidak butuh dianak-emaskan atau diperlakukan khusus, kami tidak mengemis dan kami tidak mengeluh. Yang kami lakukan saat ini ialah memicu kebangkitan orang Papua sendiri mengejar ketertinggalan. Kami punya mimpi, membangun “Kerajaan Kopi Tanah Papua, yang megah dan perkasa!” bukan sebagai simbol kesombongan dan kebanggaan kami, bukan sebagai bukti Tanah Papua sebagai sorga kecil yang jatuh ke Bumi, bukan sebagai tanda Papua itu kaya. Bukan semuanya ini Tuhan. Ini hanyalah tanda, ya, tanda, bahwa kami ciptaan-Mu, kami anak-anak-Mu, dan kami hadir untuk memuliakan realitas itu saja, tidak lain.

Berkati mereka, engkau tahu nama mereka, engkau tahu rumah-tangga mereka, pribadi mereka, keluarga besar mereka. Engkau tahu pergumulan hidup mereka. Engkau tahu usaha cafe mereka di tengah persaingan ketat di Era MEA ini. Engkah kunjungi dan berkati mereka satu per satu. Pemilik cafe, para tutur, pelatih dan pembimbing anak-anak kami, calon Barista Papua.

Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat! Amin!

Dalam cucuran air mata, doa inipun diakhiri. Ini bukan air mata buaya, bukan air mata kesedihan dan mengemis kepada Tuhan. Tetapi inilah airmata Ucapan Syukur! kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tuhan Pelindung Kita semua, Pohon Berkat! Ini air mata harapan, air mata kebahagiaan, karena satu dari sekian pintu telah terbuka bagi Tanah Papua, pintu memasuki Kerajaan Kopi Tanah Papua.

Kwano mengatakan magang seperti ini akan terus digiatkan sepanjang tahun 2016. Menurutnya, “Kalau Tuhan berkehendak, Tahun 2017 kita bicara tentang Baliem Blue Coffee sebagai sebuah product yang sudah siap masuk ke jaringan bisnis kopi di seluruh dunia.”

 

Categories
Cerita Kopi

Kopi Papua Wamena, Beda Teknik Seduh Beda Rasa

KOMPAS.com – Bagi penikmat kopi, pastinya sangat menginginkan rasa kopi yang sebisa mungkin memiliki variasi. Sebenarnya Anda bisa mendapatkan rasa kopi yang beda dari biji kopi yang sama, rahasianya ada pada teknik menyeduh.

Biasanya, banyak orang memilih teknik seduh praktis, yakni memasukkan kopi dalam cangkir, lalu diseduh dengan air mendidih. Abud, bagian research and development Djournal Coffee mengatakan, setidaknya ada tiga teknik seduh kopi lainnya yang bisa digunakan. Ketiganya yakni pour over, syphon dan cold drip.

“Masing-masing teknik seduh kopi, menggunakan gadget atau bentuk alat yang juga berbeda,” ujar Abud, saat ditemui di Djournal Coffee, Grand Indonesia, Rabu (11/9/2013).

Pour over, kata Abud merupakan teknik lama yang sekarang menjadi tren. Kopi disaring dengan filter kertas yang mengerucut. Dengan alat ini, beda cara menuang akan melahirkan rasa yang berbeda. Begitu juga dengan filternya, bisa dibasahi terlebih dahulu bisa juga tidak. Lagi-lagi setiap langkah akan membuat rasa kopi berbeda. Untuk pour over, durasinya merentang antara dua sampai tiga menit.

Teknik seduh kedua, ada syphon. Bentuknya seperti vacuum pot, yang terdiri dari dua gelas, dengan posisi atas dan bawah. Bagian atas tempat menuangkan kopi, sementara itu bagian bawah menjadi sumber pemanasnya. Kopi dituangkan setelah air yang ada di bagian atas tampak sudah mendidih. Durasinya cukup 40 detik dan setelah pemanas dimatikan, kopi dengan sendirinya turun ke bagian bawah.

Sementara, teknik seduh kopi ketiga ada cold drip. Bentuknya menjulang dengan ukuran lebih besar. Durasi pembuatan bisa berlangsung 8 hingga 10 jam, tapi dengan kapasitas yang bisa mencapai 10 cangkir kopi.

Untuk rasanya, kopi dengan teknik seduh pour over memiliki rasa lebih kuat dibanding syphon yang lebih ringan. Sementara cold drip dengan rasa dingin, ibarat menikmati wine, rasanya menjadi lebih unik, minumlah dan kumpulkan di dalam mulut, kemudian dalam hitungan menit tenggorokan pun akan terasa hangat.

“Bagi mereka penikmat kopi, tiga teknik ini menjadi sensasi tersendiri, dan di sini mereka bisa melihat prosesnya langsung,”

ujar Christine Utomo, asisten brand manager Djournal Coffee.

Ketiga teknik tersebut bisa diimplementasikan pada kopi arabika yang berasal dari Papua Wamena. Selain itu, ada Djournal Daily dan Toraja Kalosi untuk pour over dan syphon, serta kopi enrekang untuk cold drip.

Penulis : Rahman Indra
Editor : D. Syafrina Syaaf
Kamis, 12 September 2013 | 07:26 WIB,  Female Kompas.com

Dicopy Ulang dari: PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Wamena setara dengan kopi kelas dunia

Blue Mountains coffee adalah salah satu kopi terbaik di dunia yang terkenal dengan karakter good acidity, intense aroma, fairly good body, clean. Ditanam di area perbukitan di bagian timur pulau Jamaika bernama Blue Mountains, perpaduan kondisi tanah, curah hujan, dan temperatur yang sesuai menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan rasa menawan.

Menurut sebuah sumber, Indonesia memiliki daerah penghasil kopi yang kualitasnya setara dengan Blue Mountains Coffee yaitu Wamena di Papua. Hal ini dimungkinkan karena menurut sumber tersebut bibit kopi yang ditanam dari Papua berasal dari Blue Mountains yang dibawa oleh orang Belanda pada jaman kolonial.

Saya tidak begitu peduli pada keabsahan cerita tersebut. Saya sendiri belum pernah mencoba merasakan kopi dari Blue Mountains, namun buat saya kopi Papua Wamena adalah kopi terfavorit. Entah apakah kopi ini bisa mewakili rasa Blue Mountains coffee yang legendaris itu atau tidak.

Salah satu kedai kopi tempat saya mampir untuk menikmati Papua Wamena adalah Rumakopi di Jl. Suryo 20 lt. 2, Jaksel. Beda kedai kopi bisa beda rasa Wamena-nya. Dan Rumakopi menyajikan rasa kopi Papua Wamena yang pas untuk saya

Sumber : tukangkopi.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Wamena termasuk kopi the best di dunia

Kopi dari ujung barat sampai timur Indonesia akan tampil di Indonesian Coffee Festival. Festival Kopi Indonesia tersebut akan diselenggarakan pada 15-16 September 2012 di Ubud, Bali.

“Kita tampilkan kopi dari ujung Indonesia, Aceh, sampai Wamena. Kopi Wamena termasuk kopi the best di dunia. Sayang, kita belum berani melakukan branding kopi Indonesia. Kita belum branding ‘kopi tubruk’ seperti halnya branding ‘cappucinno’,”

tutur Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sapta Nirwandar saat jumpa pers di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Rabu (15/8/2012).

Saat ini, tutur Sapta, Indonesia telah memiliki branding “Kopi Luwak”. Menurutnya, kopi luwak begitu terkenal di dunia, salah satunya Korea Selatan. Apalagi di Busan Indonesia Center yang berada di Korea Selatan sengaja didirikan kafe kopi luwak.

“Awalnya kita ragu, karena orang Korea minumnya teh. Ternyata teh bisa kalah dengan kopi luwak. Ada 300 cangkir kopi luwak yang terjual tiap harinya di sana,”

jelas Sapta.

Selain keunikan cita rasa kopi asal Indonesia yang begitu beragam, daya tarik lainnya adalah teknik pembuatan atau penyeduhan kopi itu sendiri. Sapta memberi contoh cara menikmati kopi Gayo dari Aceh.

“Kopi Gayo bukan hanya kopinya yang terkenal, teknik pembuatannya juga unik. Kopi diseduh dengan cara ditarik-tarik. Alat penyaringnya dulu itu pakai kaus kaki, sekarang sudah tidak,”

tutur Sapta.

Menurut Sapta, selain bisa mencicipi beragam kopi dari berbagai daerah di Indonesia, pengunjung festival juga bisa melakukan tur ke kebun kopi yang berada di kawasan Gianyar, Bali. Indonesia sendiri kini berada di peringkat ketiga sebagai negara pengekspor kopi terbanyak di dunia.

Editor : I Made Asdhiana

Sumber : Kompas.com

Categories
Cerita Kopi

Wamena, Penghasil Kopi Terbaik di Dunia!

Jakarta – Menyeruput secangkir kopi hitam adalah hal yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Beberapa daerah pun punya kopi andalan, termasuk Wamena di Papua, yang rasanya digemari oleh seluruh dunia!

Beberapa negara identik dengan teh: Jepang, China, Mesir, Turki, Maroko, India, Sri Lanka. Tapi beberapa negara juga identik dengan kopi, salah satunya Indonesia.

Bicara tentang kopi di Indonesia, yang terbesit di benak para coffee-addict pastilah kopi luwak. Konon, kopi jenis ini adalah yang terbaik di dunia. Tapi tunggu dulu, Indonesia juga punya jenis kopi sesuai daerahnya. Masing-masing punya karakteristik lewat rasa dan aroma.

Mulailah dari wilayah paling barat. Aceh Gayo, dengan aroma memikat dan rasa asam yang tak terlalu pekat. Lalu ada kopi Lampung, kopi Bandung (dengan merk paling ternama: Aroma), kopi Toraja, kopi Bali, hingga kopi Papua.

Nah, satu daerah di Papua yang terkenal sebagai penghasil kopi adalah Wamena. Kopi bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam. Tak heran kopi Wamena digemari oleh seluruh dunia.

“Wamena punya daya tarik khusus sebagai penghasil kopi terbaik di dunia,”

tutur Wempi Wetipo, Bupati Kabupaten Jayapura di Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (27/7/2012) lalu.

Kopi Wamena, lanjut Wempi, telah diekspor ke berbagai belahan dunia dan telah menjadi penyokong tetap merk kedai kopi paling ternama di dunia. Kedai kopi yang lambangnya berwarna hijau itu menggunakan kopi Wamena sebagai bahan baku utamanya.

“Kopi Papua itu enak sekali. Makanya mereka selalu beli, dan akhirnya kita jadi penyalur tetap,”

tambah Wempi.

Pernah mencoba kopi Wamena? Kalau belum, inilah waktu yang tepat untuk mencicipinya. Jangan lupa, awal mencicipi, jangan pakai campuran gula ke dalam cangkir kopi Anda. Biarkan semua indera Anda bekerja.

Oleh: Sri Anindiati Nursastri – Minggu, 29/07/2012 10:25 WIB  detikTravel

Disalin: PAPUACOFFEES.com

Categories
Cerita Kopi

Minum Kopi (di) Papua

OLEH ONNY WIRANDA, 15 Desember 2012 Lumbung

LEMBAH BEANEKOGOM, TSINGA

Seperti sebuah pementasan, hari memasuki babak baru ketika matahari menyingkir dari langit. Rombongan kecil kami yang baru saja datang memeriksa pembangkit listrik di Sungai Beanagogom, Tsinga, kini berkumpul di depan perapian untuk menikmati makan malam dan mengakhirinya dengan beberapa gelas kopi. Beberapa kali aku menawari Pak Yoap Beanal, kepala suku di Tsinga dan Pak Jack Dendegau Kepala Desa Tsinga untuk ikut minum kopi. Tapi mereka selalu hanya menjawab singkat, “Ah, tidak, terima kasih pak.”

Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sekelompok anak muda Tsinga sedang berkumpul di sebuah honai. Di rumah bujang itu, mereka sedang melepas kepergian seorang guru yang akan turun gunung ke Timika.

Berbagai macam sajian khas pegunungan Papua disajikan. Mulai dari betatas (ubi), sayur pakis, teh hangat, dan tembakau gulung. Tidak ada segelas kopi pun yang tersaji di honai. Padahal tidak jauh dari situ, terletak perkebunan kopi skala kecil yang menjadi salah satu tumpuan produksi sebuah merk kopi yang terkenal: Amungme Gold Arabica Coffee.

PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KOPI

Paling tidak di Mimika, tempat saya tinggal selama beberapa tahun ini, nampak bahwa minum kopi masih belum sepenuhnya jadi bagian dari budaya kuliner setempat. Di Mimika, orang Kamoro yang tinggal di pesisir pantai mengenal kopi dari pos misionaris di Kaokanao. Pada sekitar tahun 1930an, tempat itu berubah menjadi pos pemerintahan.

Menurut Lodefikus Saklil, pada saat itu kesempatan untuk mencicip barang yang namanya kopi biasanya terjadi di Pastoran. Istilah untuk tempat tinggal para pastor dan bruder. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa diduga. Orang-orang Kamoro yang telanjur suka kopi dan tembakau, banyak yang datang menukar keduanya dengan hasil bumi, seperti sagu atau ikan.

Kopi baru tersedia dalam jumlah yang banyak ketika perusahaan tambang raksasa Freeport McMoran memulai operasinya di Mimika. Pada tahun 1967, industri itu membuka landasan udara perintis dan kamp di Timika Pantai. Demikian pula di Tsinga, tempatku mulai menulis catatan ini, kopi bersama dengan teh dan mie instan baru dikenal masyarakat Amungme pada awal tahun 1990an.

Para misionaris tidak mengajari masyarakat untuk menanam kopi di pesisir Mimika. Alasannya, kondisi geografis daerah pesisir Mimika yang terdiri dari rawa-rawa dan delta sungai.

Catatan paling tua mengenai kopi di Papua adalah dari HW Moll (1959). Ia mengkaji kemungkinan penanaman kopi di area sekitar Danau Wisselmeren (sekarang disebut Danau Tigitane) di dataran tinggi Paniai. Tapi kopi baru dikembangkan oleh misionaris pada tahun 1980. Saat itu, seorang bernama Bruder Jan Sjerps, OFM menanam 1000 pohon kopi jenis Arabica untuk melatih anak-anak SMP dan petani di Moanemani, Paniai, Papua. Selain mengajar cara menanam dan merawat kopi, Bruder Jan juga mengajarkan cara menggoreng biji kopi. Sejak itu Kopi Moanemani mulai terkenal.

PERTEMUAN DENGAN KOPI PAPUA

Bagi saya, menjajal berbagai macam kopi Papua selalu menimbulkan sensasi istimewa. Serupa halnya ketika menjajal berbagai penganan Papua yang sebelumnya asing bagiku seperti tambelo (ulat sagu), pinang, dan papeda.

Sekalipun kopi bukan barang asing di Jawa, tapi proses mengenali berbagai macam kopi Papua seperti membuka cakrawala baru berpikir saya. Bahwa minum kopi bukan hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, tapi juga untuk memperkaya ikatan kita dengan tanah asal kopi yang kita minum.

Disalin Ulang dari PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Papua Wamena Manis dan Wangi

Jum’at, 2 November 2012 , Mutya Hanifah – Okezone

Bianca Beatrice, Runner Up 1 Miss Coffee International 2012Bianca Beatrice Runner Up 1 Miss Coffee International 2012

Bianca Beatrice, Runner Up 1 Miss Coffee International SEBAGAI Runner Up I Miss Coffee International, pastilah Bianca Beatrice telah mencoba beragam kopi asli Indonesia. Kopi manakah yang menjadi favoritnya? Bianca Beatrice, yang mewakili Indonesia dalam ajang Miss Coffee International 2012, berhasil meraih posisi Runner Up 1.

Selama ajang pemilihan, Bianca telah mencoba beragam kopi Indonesia.

“Sewaktu pemilihan, ada kegiatan yang namanya cupping, yaitu mencoba semua kopi Indonesia, mulai dari kopi Gayo dari Aceh hingga kopi Papua,”

tuturnya kepada Okezone di Jakarta, belum lama ini. Selama mencoba semua kopi tersebut, ternyata yang menjadi favorit Bianca adalah kopi Papua Wamena.

“After taste-nya enak, manis. Aromanya juga wangi sekali,”

ujarnya. Ia mengaku baru mencoba kopi tersebut selama masa karantina di ajang Miss Coffee International 2012.

“Kopinya memang di Jakarta masih sulit dicari, karena itu jenis kopi baru,” pungkasnya. Kopi Papua Wamena adalah kopi yang tumbuh di daerah Pegunungan Jayawijaya Wamena, di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Kopi ini memiliki aroma dan cita rasa yang khas, serta dapat digolongkan sebagai kopi organik karena proses pertumbuhannya alami. Kopi ini tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah. (ftr)

Sumber : www.okefood.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Torabica Siap Ditantang Kopi Papuabica

Kanal: Wisata, Wikimu.com, Rabu, 22-08-2007 08:58:32 oleh: Engelbertus Pr Degey

Ini berita menarik bagi pecandu kopi. Melalui Yayasan Bina Mandiri Utama (Yabimu), sudah mulai mempersiapkan berbagai hal guna mengangkat kopi arabica asli dari Papua untuk diekspor keluar Papua. Namanya pun sudah diberikan, Papuabica, begitupun logonya sudah dirancang oleh Frans X Wakei.

Direktur Yabimu, Ambrosius Degey, SH belum lama ini di ruang kerjanya mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan nama dan logo untuk ditawarkan kepada lembaga nirlaba asal Inggris, Oxfam Great Britania. Bila disepakati bersama, maka nama itu tetap akan digunakan sebagai nama asli kopi Papua yang sebelumnya lebih terkenal dengan nama, Kopi Murni Moanemani.

Kopi Murni Moanemani yang dikelolah Y-P5 sempat macet, dan potensi tersebut dilirik YABIMU dan ditawarkan kepada lembaga donator agar mendapat dukungan agar kopi asli gunung Papua itu bisa diproduksi kembali. Bagi setiap orang yang pernah mengkonsumsi kopi tersebut, akan menilai sendiri perbedaan rasanya.

Lanjut Ambros, program tersebut telah menjadi pilot project Oxfam dan akan menjadi proyek percontohan di tanah Papua. Program tersebut sudah mendapat dukungan penuh dari Wakil Gubernur Provinsi Papua, Alex Hesegem, SE. Alasannya, program tersebut ikut membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan perekomonian rakyat dengan membantu memasarkan kopi milik masyarakat kecil di kampung-kampung (dusun-dusun) tanah Papua.

Hanya saja, menurut Ambros, pemerintah provinsi tidak bisa berbuat apa-apa membantu sedikitpun karena APBD sudah selesai dan bila memungkinkan pada tahun anggaran berikut pemerintah akan mendukung berupa finansial. Tetapi khusus kepada pemerintahan kampung, menurut Wagub, dalam waktu dekat akan menyalurkan dana 100 juta rupiah per kampung. Diharapkan dengan dana itu, terutama masyarakat petani kopi, agar kepala kampungnya mau menggalakkan pertanian kopi selagi ada dukungan dari lembaga dunia untuk membantu memasarkan kepada konsumen.

Selama ini sajian kopi yang terkenal di tanah Papua adalah Kopi Murni Moanemani. Kopi yang digiling oleh Yayasan P-5 Moanemani ini menjadi laku di pasaran, karena kadar aroma kopine (arabika)-nya sangat tinggi. Tidak seperti kopi buatan pabrik lain atau kopi impor. Agar laku, sering kopi impor meniru cap / lebel Kopi Murni Moanemani, tetapi rasanya tetap beda. Hanya saja upaya P-5 Moanemani ini tidak mendapat dukungan sehingga Yabimu-Oxpam mencoba membangkitkan dengan cara mengumpulkan kopi dari masyarakat dan membantu memasarkan kepada konsumen.

Lanjut Ambros, jalur pemasaran akan dicoba lewat Enarotali – Kabupaten Paniai. Karena dari sisi transportasi, Kamuu-Mapia ke Enarotali sangat dekat dan bisa dijangkau dengan biaya murah. Kedua, karena dari Enarotali lebih mudah dipasarkan ke Nabire, Sugapa, Timika atau langsung ke Ibukota Provinsi Papua.

Dikatakan, Oxfam sendiri sedang membangun kantor perwakilan di tanah Papua, tepatnya di Jayapura. Dengan adanya kantor perwakilan ini, Oxfam akan menggalakkan berbagai kegiatan pembangunan yang pada prinsipnya membantu pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang berada di kempung-kampung.

Data Papuapos, selain membantu menggalakan perekomonian daerah, Yabimu juga sering melakukan pendampingan di bidang perkoperasian. Salah satu upaya di bidang kemanusiaan adalah, pasca gempa melanda kota Nabire dan sekitarnya, Yabimu gandeng UNDP membangun sejumlah TK dan SD yang hancur berantakan oleh Gempa.

sumber foto: blog.chosun.com

Sumber: PAPUACoffees.com