Categories
Bisnis Kopi

Bisnis Kopi Papua, KSU Baliem Arabica dan PAPUAmart.com

Sejak tahun 2015, tepatnya pertengahan tahun lalu, bulan Mei 2015, telah dilakukan berbagai penyesuaian berarti dalam bisnis Kopi Papua. Penyesuaian utama dan terpenting dalam sejarah bisnis Kopi Papua ialah perombahan struktur organisasi dan jalur distribusi Kopi Papua.

Perombakan dimaksud sebagai tindak-lanjut dari kebijakan pembentukan Unit Marketing & Sales Kopi Papua yang telah didirikan tahun 2013, berkantor pusat di pulau Jawa: Daerah Istimewa Yogyakarta.

Dengan pembentukan Unit Markting dan Sales KSU Baliem Arabica pada tahun 2013, maka secara otomatis pemasaran Kopi Papua berorientasi kadada konsumen dan pebisnis Kopi di Indonesia, sebuah perubahan yang berarti, karena pada tahun-tahun sebelumnya telah terjadi export kopi Papua secara berturut-turut sejak tahun 2009.

Setelah toko Online PAPUAmart.com didirikan tahun 2014, maka disusul dengan proposal kepada KSU Baliem Arabica untuk membentuk sebuah Minimarket PAPUamart.com di Tanah Papua

PAPUAmart.com dimaksudkan untuk melanjutkan fungsi dan tugas Unit Marketing & Sales KSU Baliem Arabica, mempromosikan dan menjual Kopi Papua produk KSU Baliem Arabica kepada konsumen di Indonesia.

Perombahan cukup berarti yang terjadi pertengahan tahun 2015 dimaksudkan untuk menyelamatkan bisnis Kopi Papua karena banyak tengkulak dan mafia Kopi Papua. Menyusul strukturisasi Unit Marketing & Sales, maka dilakukan pembenahan di Gudang Produksi Kopi Papua.

Pada akhir tahun 2015, sejalan dengan peluncuran MEA (Masyarakat Ekonomi Eropa) maka KSU Baliem Arbaica juga membuka Gudang Kopi PAPUAmart.com di Jakarta.

Pada tahun 2016 ini diharapkan agar semua penjualan Kopi Papua dipusatkan dari Jakarta, sehingga dapat dibagikan secara merata di seluruh pulau Jawa dan Sumatera, sementara penjualan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur dilakukan dari Yogyakarta, dan penjualan ke Bali dan Sulawesi serta Borneo dilakukan langsung dari Tanah Papua.

Categories
Bisnis Kopi

Pemasaran Kopi Papua Difokuskan ke Seluruh Indonesia

Sejak tahun 2013, orientasi pemasaran Kopi Papua telah diarahkan ke pasar Indonesia, mengingat karena konsumen kopi di seluruh Indonesia menjamur, bukan bertumbuh cepat lagi. Dalam waktu kurang dari lima tahun saja, di semua kota di seluruh Indonesia, telah terdapat banyak cafe, bukan Warkop (Warung Kopi) tetapi Kedai Kopi dan Cafe.

Tidak hanya di Jawa, di Bali, Makassar, Manado, Medan, bahkan Jayapura sudah terdapat banyak kedai Kopi. Memang dari dulu Warkop jarang kelihatan di Tanah Papua. Sekarang bukan Warkop lagi yang muncul tetapi Cafe. Memang Tanah Papua dan orang Papua sudah banyak mengalami lompatan-lompatan dalam hidup. Dari tidak tahu tulis-menulis menjadi memegang Smartphone dan iPad, itukah sebuah lompatan dahsyat. Dari tidak ada Warkop sama sekali menjadi banyak Cafe menjamur di Jayapura. Ini juga lompatan.

Kebutuhan Kopi di Indonesia begitu besar, tak pernah dibayangkan sebelumnya. Dibandingkan dengan produksi Kopi Papua secara total berkisar 50 ton per tahun. Walaupun hitung-menghitung berdasarkan ketersediaan lahan dan pohon yang ada bisa menghasilkan ratusan ton per tahun, faktanya tidak demikian. Apalagi kalau Koperasi Baliem Arabica menerapkan standarisasi Kopi Spesialti, maka banyak produk tidak masuk dalam kategori Papua Arabica Specialty Coffee.

Selama ini KSU Baliem Arabica sendiri hanya sanggup membeli dan mensuplai 6-10 ton per tahun. Jumlah ini bukan karena stock kurang tetapi karena biaya pembelian terbatas.

Dan hasilnya perlu diketahui publik, bahwa PAPUAmart.com sebagai Unit Sales & Marketing Koperasi tidak sanggup memenuhi permintaan dari seluruh Indonesia yang begitu membludak, dan malahan kami harus membatasi karena stock tidak cukup.

Menurut Ketua Koperasi Baliem Arabica Ev. Selion Karoba, S.Th., kalau saja Pemda Provinsi Papua punya keberpihakan kepada Ekonomi Kerakyatan dan Wirausaha Orang Asli Papua, sudah lama Kopi Papua sanggup mensuplai 300 – 1000 ton pun masih sanggup.

Menurutnya lagi

Jangan lupa, bicara tentang Kopi Papua, kita bicara terkait Kopi dari Sorong sampai Samarai, mulai dari Kopi Arfak sampai ke Kopi Sigri, dan di antara ini ada puluhan Single Origin, yang kalau dibandingkan dengan Single Origin yang ada di Indonesia, masih lebih banyak Kopi Single Origin di Tanah Papua, dari Sorong sampai Samarai.

Dalam kaitan hubungan perdagangan Papua dengan kawasn Melanesia, seharusnya Gubernur Papua melihat prospek Kopi Papua, karena kopi adalah nomor dua dari komoditas BBM yang terbanyak yang diperdagangkan di dunia, tetapi Pemerintah Provinsi Papua lebih sibuk urus Freeport dan pertambangan daripada emas hijau yang terus berbuah dan berbuah selama-lamanya ini.

Categories
Bisnis Kopi

Kopi asli Indonesia punya gengsi di mata asing

Reporter : Anisyah Al Faqir | Sabtu, 23 Januari 2016 10:15

strasi kopi luwak. ©shutterstock.com/Hasloo Group Production Studio
strasi kopi luwak. ©shutterstock.com/Hasloo Group Production Studio

Ilustrasi kopi luwak. ©shutterstock.com/Hasloo Group Production Studio

Merdeka.com – Bagi Anda penikmat kopi pasti tak asing lagi dengan Hawaian Cona, Panama Gheisha atau Blue Montain. Tiga kopi mendunia ini menjadi primadona di kalangan para penikmat kopi.

Namun, tahukah Anda, bahwa ada tiga jenis kopi yang tak kalah mendunia asal Indonesia? Adalah Sumatra Mandailing, Java Mocca dan Toraja Kalofi, tiga jenis kopi yang namanya sudah dikenal penikmat kopi dunia. Ketiga kopi ini memiliki karakteristik yang berbeda dan sulit ditemukan di luar Indonesia.

“Indonesia kaya akan jenis kopi. Karakter dan kepribadian dari tiap jenis kopi di Indonesia itu berbeda-beda,” kata Asosiasi Ekspor-Impor Holikultura Indonesia Kafi Kurnia saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (22/1).

Sebagai pencinta kopi ia tahu benar rasa dari jenis-jenis kopi yang mendunia. Misalnya Toraja Kalofi. Jenis kopi ini memiliki rasa yang mirip dengan kopi asal Hawai, Hawaian cona. Rasa lembut dari kopi arabika ini digandrungi pecandu kopi asal jepang.

Seiring perkembangan waktu, kini muncul jenis kopi baru yang dikenal dengan single origin. Jenis kopi ini sangat spesifik dari suatu daerah yang tidak dicampur dengan jenis kopi lainnya. Misalnya Blue Lintong dari Sumatera Utara, Bali Kintamani dari Bali dan Papua Wamena dari Papua.

“Sesuai namanya, Blue Lintong, blue itu darah biru jadi kopi ini kopi ningrat. Kalau Bali Kintmani dikenal dengan endnote yang rasa diujung kopinya seperti rasa coklat,” cerita Kafi.

Berbagai kopi mendunia ini memang memiliki harga yang cukup menguras kantong. Namun cukup sebanding dengan cita rasa yang dihasilkan. Semakin langka kertersediaan suatu jenis kopi justru menjadi semakin dicari penikmat kopi. Artinya eksotisme karakteristik dan kepribadian kopi menjadi kunci dari harga secangkir kopi. Meskipun, tangan seorang barista juga tak bisa dipungkiri memegang peran vital dalam meracik secangkir kopi mahal.

Baginya, sudah sepatutnya pemerintah mematenkan Indonesia sebagai Surga Kopi Dunia. Sayangnya, pemerintah gagal dalam memanfaatkan momentum tersebut untuk mendeklarasikan surganya kopi itu di Indonesia.

“Kalau saja jadi pemerintah, saya akan bangun museum kopi Indonesia. Kita punya jenis-jenis kopi yang banyak variaetasnya,” tandasnya.

[rhm]

Categories
Cerita Kopi

Calon Barista Papua Recruit KSU Baliem Arabica ke Tanah Papua per 13 Januari 2015

Pada tanggal 12 Januari merupakan hari bersejarah dalam sejarah Kopi Papua, secara khusus KSU Baliem Arabica lewat Unit Marketing & Sales PAPUAmart.com, karena pada hari ini berakhir proses magang, atau dalam pendekatan belajar-mengajar Papua sudah terkenal sejak nenek-moyang kita ialah datang, lihat, tiru, tanya, dengar, coba, yang hasilnya ialah sebuah proses “pengalaman”, yang dalam istilah metode belajar-mengajar modern kita sebut “learning by doing”. Tanggal 13 Januari ialah tanggal para calon Barista menuju Tanah leluhur, pulau New Guinea.

Dalam pelepasan ini, dengan keharuan yang penuh harapan, menatap ke masa depan Kopi Papua yang begitu cerah, Jhon Kwano melatunkan “Lee Ndawe”, yang dalam bahasa Indonesia ialah Kidung Ratapan,

“Ya Tuhan, Engkau tahu maksud hati kami, untuk datang dan belajar dengan melihat, meniru, bertanya, dan mencoba di sini. Pada hari ini, anak-anak kami sudah menyelesaikan proses dimaksud. Kami tahu, bahwa perjalanan masih sangat, dan sangat jauh. Tetapi saya juga tahu bahwa tanpa proses ini, maka perjalanan yang sangat jauh itu tidak akan pernah saya dan KSU Baliem Arabica tempuh.

Engkah tahu, kami bukanlah orang tua dengan latar-belakang pengusaha. Kami sendiri lahir di zaman batu, ya Tuhan. Dan kami sekarang harus berjuang di era pascamodern. Kami tidak dapat mengharapkan siapapun datang membantu, kami harus bangkit, menyambut dan merebut masa depan yang tersedia. Kalau tidak, ya Tuhan, Engkau tahu, kami akan tertinggal. Kami akan disebut manusia zaman batu, manusia telanjang, manusia miskin, manusia kolot, manusia bodoh. Kami ciptaan-Mu, Tuhan! Kami tahu semua julukan dan anggapan ini meremehkan diri-Mu Pencipta kami. Kami berjuang untuk menutup kekurangan dalam kesempurnaan, demi masa depan orang Papua dan Tanah Papua, yang lebih maju dan berdaya-saing.

Biarlah semua orang Papua, pejabat, pegawai, pengusaha kecil dan besar, ibu dan bapak, kecil dan besar, tua dan muda, di kota dan di kampung, di hutan dan di luar tanah Papua, semua memahami dan maju selangkah dalam irama yang sama, bahwa kemajuan tanah Papua tidak ditentukan oleh Sukarno, Suharto, Habibie, Gus Dur, Mega, SBY, ataupun Jokowi. Semuanya tidak! Kami tahu, maju-mundurnya Tanah Papua ditentukan oleh kami orang Papua sendiri. Itu nubuat, dan itu realias hari ini, itu pula realitas yang kami lihat akan terwujud besok.

Dalam merayakan realitas mendatang itu, kami-pun mengambil langkah-langkah dalam segala kelebihan dan keterbatasan kami. Tuhan, kami hanya berjuang, Engkau-lah yang melengkapi dan menyempurnakan. Gerakanlah semua orang lain di pulau Jawa, pulau Sumatera, pulau Bali, pulau Borneo dan pulau Sulawesi, untuk memberikan dukungan moril dan doa.

Engkau tahu, kami tidak butuh dianak-emaskan atau diperlakukan khusus, kami tidak mengemis dan kami tidak mengeluh. Yang kami lakukan saat ini ialah memicu kebangkitan orang Papua sendiri mengejar ketertinggalan. Kami punya mimpi, membangun “Kerajaan Kopi Tanah Papua, yang megah dan perkasa!” bukan sebagai simbol kesombongan dan kebanggaan kami, bukan sebagai bukti Tanah Papua sebagai sorga kecil yang jatuh ke Bumi, bukan sebagai tanda Papua itu kaya. Bukan semuanya ini Tuhan. Ini hanyalah tanda, ya, tanda, bahwa kami ciptaan-Mu, kami anak-anak-Mu, dan kami hadir untuk memuliakan realitas itu saja, tidak lain.

Berkati mereka, engkau tahu nama mereka, engkau tahu rumah-tangga mereka, pribadi mereka, keluarga besar mereka. Engkau tahu pergumulan hidup mereka. Engkau tahu usaha cafe mereka di tengah persaingan ketat di Era MEA ini. Engkah kunjungi dan berkati mereka satu per satu. Pemilik cafe, para tutur, pelatih dan pembimbing anak-anak kami, calon Barista Papua.

Dalam nama Yesus, Tuhan dan Juruselamat! Amin!

Dalam cucuran air mata, doa inipun diakhiri. Ini bukan air mata buaya, bukan air mata kesedihan dan mengemis kepada Tuhan. Tetapi inilah airmata Ucapan Syukur! kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Tuhan Pelindung Kita semua, Pohon Berkat! Ini air mata harapan, air mata kebahagiaan, karena satu dari sekian pintu telah terbuka bagi Tanah Papua, pintu memasuki Kerajaan Kopi Tanah Papua.

Kwano mengatakan magang seperti ini akan terus digiatkan sepanjang tahun 2016. Menurutnya, “Kalau Tuhan berkehendak, Tahun 2017 kita bicara tentang Baliem Blue Coffee sebagai sebuah product yang sudah siap masuk ke jaringan bisnis kopi di seluruh dunia.”

 

Categories
Bisnis Kopi

Kopi Papua sudah miliki Gudang di Jakarta per Desember 2015

Sebagaimana diberitakan oleh PAPUAmart.com dalam blognya, Kopi Papua, pertama-tama Wamena Single Origin kini telah tersedia di Gudang PAPUAmart.com atau Gudang Kopi Papua di Jakarta dengan alamat lengkap berikut:

Jl. Muhammad Kahfi no. 1
Gg, Nila No. 75
Kel. Ciganjur
Kec. Jagakarsa
Jakarta Selatan
SMS: 0856-9135-0287 (Mas Gito) / WA: 085769223000 (Jhon Kwano)

Email: info@pas.coffee; info@papua.coffee; info@kopipapua.biz; info@baliemarabica.com; papuamart@gmail.com

Social Media:
Twitter @papuamart  & @bbcoffee
FB: @papuamart  @bbcoffee
Linkedin @papuamart @bbcoffee
Tumblr: @papuamart @baliemarabica

Harga Kopi yang kami sediakan di Jakarta per kg Green Beans ialah Rp.130.000,-

Anda dapat membelinya sebanyak 1 kg – 599 kg dengan harga Rp.130.000,-

Kami berikan harga khusus untuk pembelian lebih dari 600 kg.

Dengan ini maka kami berharap para tengkulak yang telah lama menipu dengan memanipulasi dan mencampur kopi sembarangan lalu memberi nama “Kopi Papua” dapat kami hentikan dan kami maju memperbaiki nama “Kopi Papua” sebagai Kopi Specialty yang memiliki citarasa tersendiri dan unik.

Categories
Bisnis Kopi

Hingga Beberapa Bulan ke Depan, Harga Kopi Bakal Melambung

Kamis , 17 April 2014 00:05 | Ekonomi & Bisnis

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kekeringan yang melanda Brasil, salah satu negara produsen kopi dunia ditelah mengerek harga kopi dan akan terus mendorong kenaikan harga di pasar global. Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memprediksi tren kenaikan harga akan berlanjut hingga enam bulan ke depan.

Pranoto Soenarto, Ketua Kompartemen Industri dan Spesialti Kopi AEKI menuturkan, dalam tiga pekan terakhir harga kopi naik cukup signifikan gara-gara kondisi di Brazil tersebut. Kenaikan harga kopi itu terjadi baik untuk jenis kopi arabika maupun kopi robusta. “Naiknya harga kopi internasional juga berpengaruh pada harga kopi Indonesia,” jelasnya kepada KONTAN Senin (10/3/2014).

Pranoto bilang, saat ini harga kopi arabika ada di kisaran US$ 4 per kilogram (kg), naik 81,8% ketimbang tiga pekan lalu yang ada di kisaran US$ 2,2 per kg. Sedangkan harga kopi robusta saat ini ada di kisaran US$ 2,1 per kg, naik 31,25% dari tiga pekan yang lalu yang ada di kisaran US$ 1,6 per kg.

Pranoto memperkirakan, dalam enam bulan ke depan harga kopi arabika akan mencapai US$ 5 per kg. Sementara untuk harga kopi robusta diprediksi bakal terkerek ke kisaran US$ 2,5 per kg.

Saimi Saleh, Presiden Direktur PT Indokom Citra Persada bilang, fluktuasi harga kopi sangat dipengaruhi oleh hasil panen di negara produsen kopi dunia. Selain itu kondisi ekonomi global seperti adanya perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika juga turut berpengaruh terhadap permintaan kopi.

Seperti dikutip Bloomberg pekan lalu, cuaca kering dan panas melanda Brasil yang merupakan salah satu sentra produksi kopi pada Januari hingga Februari lalu. Kondisi tersebut diperkirakan bakal berdampak pada produksi kopi dunia di dua tahun ini, yaitu 2014 – 2015.

Mengenai Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Pertanian, realisasi produksi kopi 2013 mencapai 670.000 ton, naik 1,97% dari 657.000 ton di tahun 2012. Sementara itu, secara global produksi kopi dunia untuk periode 2013-2014 sekitar 526,77 juta ton, turun dari periode 2012-2013 sekitar 542,56 juta ton.

Tahun ini AEKI memperkirakan produksi biji kopi nasional sekitar 480.000-500.000 ton. Jenis produksi kopi Indonesia ini terdiri dari 75% merupakan jenis kopi robusta, dan sekitar 25% kopi arabika. Sementara itu, ekspor kopi Indonesia tahun ini diperkirakan sama seperti tahun lalu yang sekitar 400.000 ton.

Selama ini Indonesia mengekspor kopi ke lebih dari 80 negara. Diantaranya, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, Italia, Inggris, Afrika, Timur Tengah, dan negara-negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia dan Singapura.

Categories
Bisnis Kopi

Teh dan Kopi Indonesia Kuasai Pasar Malaysia

Senin , 21 April 2014 02:17 | Ekonomi & Bisnis; 14 April 2014 02:16:47, dari Deiyaikab.go.id

DEIYAI – Indonesia tercatat sebagai pemasok utama produk teh dan kopi di Malaysia dengan pangsa pasar yang terus meningkat, di mana nilainya kini mencapai hingga ratusan juta ringgit dalam setahun.

Dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa tren ekspor teh dan kopi asal Indonesia ke negara ini terus meningkat dengan nilai yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data ekspor teh Indonesia ke Malaysia, pada 2013 mencapai 57,96 juta ringgit (Rp200 miliar) dan ekspor kopi senilai 281,22 juta ringgit (Rp973 miliar).

Pangsa pasar teh Indonesia di Malaysia pada 2013 mencapai 36 persen, diikuti Tiongkok 18,5 persen, India (7,2 persen), Vietnam (7 persen) dan Sri Lanka (5,5 persen). Sedangkan pangsa pasar kopi Indonesia di negara ini sebesar 43,2 persen diikuti Vietnam (32,7 persen), dan Brasil (10 persen).

Besarnya permintaan akan hasil komoditas perkebunan dari sejumlah daerah di Tanah Air ini sejalan dengan terus menjamurnya tempat minum teh ataupun kedai kopi di negara jiran itu.

Teh hitam jenis dust dari Indonesia merupakan produk yang paling dicari karena menjadi bahan pencampur utama bagi produk teh Malaysia.
Sebelumnya, dalam pameran Malaysia International Tea & Coffee Expo (MITCE) yang berlangsung 27-31 Maret di Kuala Lumpur, aneka produk teh dan kopi asal Indonesia juga mendapatkan peminat yang besar.

Contohnya, perusahaan perkebunan milik negara, dalam hal ini PTPN VIII yang ikut serta dalam pameran tersebut berhasil mendapatkan pembelian teh dalam jumlah besar mencapai 290 ton dengan nilai mendekati 600 ribu dolar AS. Marketing Manager PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), Ahmad Kertabumi, mengungkapkan bahwa Malaysia merupakan pasar utama dengan menyerap 23 persen dari total ekspor teh dari perkebunan milik negara ini.

Sementara itu, sebelumnya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Pagaralam sebagai produsen teh telah membangun unit pengolahan teh dengan metode CTC (crushing tearing curling). Tujuan pembangunan unit pengolahan teh CTC itu adalah untuk melakukan diferensiasi produk teh agar dapat memenuhi selera konsumen, termasuk mengincar pasar teh global yang mampu menciptakan produk brand new and different from the others.

Keistimewaan serta keunggulan teh produk PTPN VII Unit Usaha Pagaralam di Sumatera Selatan itu adalah pada rasa dan aroma teh yang unik dan khas. Kekhasan itu diperoleh tidak lain karena letak geografis kebun teh yang berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan dataran tertinggi di Sumsel.

Dalam upaya menciptakan produk yang memenuhi kriteria food grade tersebut, PTPN VII menerapkan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip higienis, dan juga didukung oleh peralatan full automatic processing serta konsultan produk berpengalaman dari India, sehingga menjamin mutu produk terjaga dan bisa memenuhi selera serta memberikan kepuasan konsumen. Beberapa produk CTC yang ada, antara lain mutu I, yakni BP, PF, Dust I, dan untuk mutu II yakni Dust II.

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dan umum dikonsumsi di dunia. Teh berasal dari China, di mana sekitar abad ke-16 ketika Portugis ke daerah tropis, kolonialnya, maka minuman teh diperkenalkan dan diimpor ke Eropa dan dengan cepat meraih popularitas. Popularitas ini membuat Portugis dan Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan teh skala besar di daerah tropis koloni mereka.

Saat ini, perkebunan teh di Indonesia kondisinya terus menurun diakibatkan karena luas lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang, saat ini 120.000 hektar di mana sebelumnya adalah 150.000 hektar.

Sampai saat ini Indonesia masih berada di peringkat ketiga untuk penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Hasil produksi kopi pada tahun 2012 sebesar 748 ribu ton atau 6,6% dari produksi kopi dunia.

Dalam kurun waktu dari Januari-November 2013 tercatat 32 juta dolar AS dari total 47 juta dolar impor kopi mesir, yakni menguasai 71 persen pangsa pasar dinegeri itu. Namun impor kopi Mesir dari Indonesia pada Januari-November 2013 menurun 9,43 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat 35,32 juta dolar.

Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta mencapai lebih dari mencapai lebih dari 601 ribu ton atau sebesar 80,4% dan produksi kopi arabika mencapai 147 ribu ton atau sebesar 19,6%. Kopi Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan letak geografisnya yang cocok untuk lahan perkebunan kopi. Dengan memiliki luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan arabika 0,30 ha. Dengan demikian industri kopi menjadi salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan.

Beberapa produk kopi yang menjadi andalan bagi penikmatnya ada Gayo Coffee, Mandaling Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee, dan juga Luwak Coffee.

Categories
Bisnis Kopi

Papua Kembangkan Kopi Arabika Dan Cokelat

Mulia Ginting Munthe Senin, 15/07/2013 15:46 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Koperasi dan UKM mengembangkan dua komoditas unggulan dari bumi Papua yang dilaksanakan melalui pendekatan program one village one product , yakni kopi arabika organik dan cokelat.

Deputi Bidang Pengkajian Sumberdaya UKMK Kementerian Koperasi dan UKM I Wayan Dipta menjelaskan optimalisasi komoditas kopi dan cokelat itu mengedepankan peranan koperasi di wilayah ini.

”Kedua unit koperasi yang diberi kepercayaan menjadi koordinator adalah Koperasi Serba Usaha (KSU) Baliem Arabika di Jayawijaya dan KSU Namblong Indah Mandiri di Kabuoaten Jayapura,” katanya kepada Bisnis, Senin (15/7/2013).

Setelah kedua komoditas tersebut ditetapkan sebagai unggulan Provinsi Papua, Kementerian Koperasi dan UKM menginginkan terjadi sinergitas antara pemerintah provinsi dengan seluruh perangkat Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).

Sinergi pengembangan kedua komoditas itu dari hulu hingga hilir akan membuat kopi dan cokelat dari Papua bisa bersaing pada pasar nasional dan luar negeri. Kopi dan cokelat Papua harus menjadi kebanggaan masyarakatnya.

Menurut Wayan Dipta, banyak masyarakat yang terlibat mengembangkan kopi dan cokelat sehingga berpotensi meningkatkan kesejahteraan. “Kami berharap ada instruksi dari gubernur sebagai dasar pengembangan produk unggulan di Papua.”

Apalagi KSU Baliem Arabika memiliki visi untuk mewujudkan salah satu program pemberdayaan ekonomi kerakyatan melalui pengembangan kopi arabika bersertifikasi organik berstandar ekspor.

Menghasilkan kopi standar ekspor, kata Wayan, akan meningkatkan standar nilai jual di tingkat petani serta memiliki posisi tawar untuk memasarkan hasil produk mereka. Saat ini KSU Baliem Arabika memasarkan kopi dengan merk dagang Baliem Vlue Coffee.

”Pasarnya, a.l. telah masuk ke Amerika Seriklat, Belgia, Belanda, dan Jerman. Prestasi ini bisa diraih, karena produknya diperkuat dengan srtifikasi kopi organik, sertifikasi fair trade serta sertifikasi rain forest alliance,” tutur I Wayan Dipta.

KSU Baliem Arabika sudah mampu mengekspor secara mandiri, akan tetapi masih terkendala dengan pelabuhan yang masih mengandalkan masuk Makassar lebih dulu. Hal ini membuat biaya gudang meningkat jadi Rp70 juta per tahun.

Categories
Cerita Kopi

Wamena, Penghasil Kopi Terbaik di Dunia!

Jakarta – Menyeruput secangkir kopi hitam adalah hal yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia. Beberapa daerah pun punya kopi andalan, termasuk Wamena di Papua, yang rasanya digemari oleh seluruh dunia!

Beberapa negara identik dengan teh: Jepang, China, Mesir, Turki, Maroko, India, Sri Lanka. Tapi beberapa negara juga identik dengan kopi, salah satunya Indonesia.

Bicara tentang kopi di Indonesia, yang terbesit di benak para coffee-addict pastilah kopi luwak. Konon, kopi jenis ini adalah yang terbaik di dunia. Tapi tunggu dulu, Indonesia juga punya jenis kopi sesuai daerahnya. Masing-masing punya karakteristik lewat rasa dan aroma.

Mulailah dari wilayah paling barat. Aceh Gayo, dengan aroma memikat dan rasa asam yang tak terlalu pekat. Lalu ada kopi Lampung, kopi Bandung (dengan merk paling ternama: Aroma), kopi Toraja, kopi Bali, hingga kopi Papua.

Nah, satu daerah di Papua yang terkenal sebagai penghasil kopi adalah Wamena. Kopi bertekstur ringan, minim ampas, harum semerbak, dan tidak asam. Tak heran kopi Wamena digemari oleh seluruh dunia.

“Wamena punya daya tarik khusus sebagai penghasil kopi terbaik di dunia,”

tutur Wempi Wetipo, Bupati Kabupaten Jayapura di Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (27/7/2012) lalu.

Kopi Wamena, lanjut Wempi, telah diekspor ke berbagai belahan dunia dan telah menjadi penyokong tetap merk kedai kopi paling ternama di dunia. Kedai kopi yang lambangnya berwarna hijau itu menggunakan kopi Wamena sebagai bahan baku utamanya.

“Kopi Papua itu enak sekali. Makanya mereka selalu beli, dan akhirnya kita jadi penyalur tetap,”

tambah Wempi.

Pernah mencoba kopi Wamena? Kalau belum, inilah waktu yang tepat untuk mencicipinya. Jangan lupa, awal mencicipi, jangan pakai campuran gula ke dalam cangkir kopi Anda. Biarkan semua indera Anda bekerja.

Oleh: Sri Anindiati Nursastri – Minggu, 29/07/2012 10:25 WIB  detikTravel

Disalin: PAPUACOFFEES.com

Categories
Cerita Kopi

Minum Kopi (di) Papua

OLEH ONNY WIRANDA, 15 Desember 2012 Lumbung

LEMBAH BEANEKOGOM, TSINGA

Seperti sebuah pementasan, hari memasuki babak baru ketika matahari menyingkir dari langit. Rombongan kecil kami yang baru saja datang memeriksa pembangkit listrik di Sungai Beanagogom, Tsinga, kini berkumpul di depan perapian untuk menikmati makan malam dan mengakhirinya dengan beberapa gelas kopi. Beberapa kali aku menawari Pak Yoap Beanal, kepala suku di Tsinga dan Pak Jack Dendegau Kepala Desa Tsinga untuk ikut minum kopi. Tapi mereka selalu hanya menjawab singkat, “Ah, tidak, terima kasih pak.”

Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sekelompok anak muda Tsinga sedang berkumpul di sebuah honai. Di rumah bujang itu, mereka sedang melepas kepergian seorang guru yang akan turun gunung ke Timika.

Berbagai macam sajian khas pegunungan Papua disajikan. Mulai dari betatas (ubi), sayur pakis, teh hangat, dan tembakau gulung. Tidak ada segelas kopi pun yang tersaji di honai. Padahal tidak jauh dari situ, terletak perkebunan kopi skala kecil yang menjadi salah satu tumpuan produksi sebuah merk kopi yang terkenal: Amungme Gold Arabica Coffee.

PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KOPI

Paling tidak di Mimika, tempat saya tinggal selama beberapa tahun ini, nampak bahwa minum kopi masih belum sepenuhnya jadi bagian dari budaya kuliner setempat. Di Mimika, orang Kamoro yang tinggal di pesisir pantai mengenal kopi dari pos misionaris di Kaokanao. Pada sekitar tahun 1930an, tempat itu berubah menjadi pos pemerintahan.

Menurut Lodefikus Saklil, pada saat itu kesempatan untuk mencicip barang yang namanya kopi biasanya terjadi di Pastoran. Istilah untuk tempat tinggal para pastor dan bruder. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa diduga. Orang-orang Kamoro yang telanjur suka kopi dan tembakau, banyak yang datang menukar keduanya dengan hasil bumi, seperti sagu atau ikan.

Kopi baru tersedia dalam jumlah yang banyak ketika perusahaan tambang raksasa Freeport McMoran memulai operasinya di Mimika. Pada tahun 1967, industri itu membuka landasan udara perintis dan kamp di Timika Pantai. Demikian pula di Tsinga, tempatku mulai menulis catatan ini, kopi bersama dengan teh dan mie instan baru dikenal masyarakat Amungme pada awal tahun 1990an.

Para misionaris tidak mengajari masyarakat untuk menanam kopi di pesisir Mimika. Alasannya, kondisi geografis daerah pesisir Mimika yang terdiri dari rawa-rawa dan delta sungai.

Catatan paling tua mengenai kopi di Papua adalah dari HW Moll (1959). Ia mengkaji kemungkinan penanaman kopi di area sekitar Danau Wisselmeren (sekarang disebut Danau Tigitane) di dataran tinggi Paniai. Tapi kopi baru dikembangkan oleh misionaris pada tahun 1980. Saat itu, seorang bernama Bruder Jan Sjerps, OFM menanam 1000 pohon kopi jenis Arabica untuk melatih anak-anak SMP dan petani di Moanemani, Paniai, Papua. Selain mengajar cara menanam dan merawat kopi, Bruder Jan juga mengajarkan cara menggoreng biji kopi. Sejak itu Kopi Moanemani mulai terkenal.

PERTEMUAN DENGAN KOPI PAPUA

Bagi saya, menjajal berbagai macam kopi Papua selalu menimbulkan sensasi istimewa. Serupa halnya ketika menjajal berbagai penganan Papua yang sebelumnya asing bagiku seperti tambelo (ulat sagu), pinang, dan papeda.

Sekalipun kopi bukan barang asing di Jawa, tapi proses mengenali berbagai macam kopi Papua seperti membuka cakrawala baru berpikir saya. Bahwa minum kopi bukan hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, tapi juga untuk memperkaya ikatan kita dengan tanah asal kopi yang kita minum.

Disalin Ulang dari PAPUACoffees.com