Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia Makin Mendunia dalam Ajang World of Coffee Expo Dublin 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – KBRI Brussels dan KBRI London bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) mempromosikan kopi Indonesia di kancah Internasional “World of Coffee Expo Dublin 2016”.

“Mengingat Eropa merupakan pangsa pasar terbesar untuk kopi Indonesia, melalui kolaborasi ini, kita berharap promosi kopi Indonesia lebih kuat, dan lebih luas, sehingga pada akhirnya ekspor kita juga lebih besar,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma dalam keterangan resminya.

“Tahun depan kita rencanakan untuk berpartisipasi juga di London Coffee Festival dan saya harapkan para eksportir kopi Indonesia dapat turut serta,” ucap Rizal.

“Melalui kopi, kita juga bisa menampilkan keberagaman Indonesia,” tambah Rizal.

Dalam kesempatan tersebut KBRI Brussel bersama delegasi 16 perusahaan atau eksportir kopi Indonesia termasuk beberapa koperasi petani kopi dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia membawa produk-produk kopi unggulan Indonesia.

Produk-produk seperti sustainable dan specialty coffee asal Gayo, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Flores, sampai Papua turut dipamerkan dalam acara yang dilaksanakan mulai 23 Juni 2016.

Untuk pengembangan industri dan perdagangan kopi Indonesia yang berkelanjutan di pasar dunia, pihak KBRI melakukan update informasi kepada para buyers tentang bagaimana proses pengolahan kopi Indonesia.

Sementara itu, tahun 2017 World Coffee Expo akan diadakan di Budapest-Hongaria.

Sejalan dengan akan diikutinya Europalia di 70 kota besar di UE, kopi juga akan menjadi duta perdagangan dan pariwisata Indonesia di pasar Eropa.

Penulis : Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta

Categories
Bisnis Kopi

Kopi Spesial Asli Indonesia Dipromosikan di Dublin

TEMPO.CO, Jakarta – Indonesia mempromosikan kopi spesial dari daerah-daerah, seperti Gayo, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Flores, dan Papua dalam ajang World of Coffee Expo Dublin 2016 di Dublin, Irlandia, 23-25 Juni 2016.

Keduataan Besar Rerublik Indonesia Brussel dan KBRI London mendukung Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) mengajak para pembeli Eropa menikmati kopi-kopi spesial dan berkelanjutan asal Indonesia dalam ajang tersebut.

Dari Indonesia, ada 16 perusahaan atau eksportir kopi Indonesia, termasuk koperasi petani kopi dan AKSI, yang membawa produk kopi unggulan dan mengadakan cupping (penilaian rasa kopi) untuk para pembeli setiap hari selama tiga hari pameran.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma mengatakan Eropa merupakan pangsa pasar terbesar bagi kopi Indonesia.

“Melalui kolaborasi ini, dua perwakilan RI di luar negeri, beberapa kementerian, dan asosiasi kopi, diharapkan promosi kopi Indonesia lebih kuat, dan lebih luas, sehingga pada akhirnya ekspor kita juga lebih besar,” katanya dalam siaran pers kedutaan.

“Melalui kopi, kita juga bisa menampilkan keberagaman Indonesia,” ujarnya.

Siaran pers kedutaan menyebutkan bahwa sebagian negara konsumen kopi utama ada di Eropa, termasuk di antaranya Belanda, Finlandia, Swedia, Denmark, Jerman, Slovakia, Ceko, Polandia, Slovenia, Belgia, Prancis, Spanyol, Inggris, Italia, dan Irlandia.

Dalam diplomasi kopi, para pemangku kepentingan mengedepankan edukasi dan pembaruan informasi kepada para pembeli mengenai proses budi daya dan pengolahan kopi yang berkelanjutan, indikasi geografis, peningkatan nilai tambah, dan mekanisme perdagangan berkelanjutan.

Mereka juga mengajak para pembeli Eropa bertemu dengan para petani dan mengunjungi perkebunan kopi di Indonesia, seperti yang baru-baru ini dilakukan untuk para pembeli dari Portugal.

Selain pameran di Dublin, kopi Indonesia juga rencananya dipromosikan di London Coffee Festival dan 2017 World Coffee Expo di Budapest, Hungaria.

Categories
Bisnis Kopi

RI Penghasil Kopi Terbesar di Dunia, Harga Dikendalikan Amerika dan Inggris

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 19:31 wib

JAKARTA – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia. Bahkan, untuk kopi robusta, Indonesia saat ini menduduki peringkat tiga eksportir terbesar di dunia dengan kualitas terbaik.

Namun, saat ini Indonesia masih belum dapat menentukan sendiri harga kopi pada tingkat perdagangan global. Padahal, menurut Wakil Ketua Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI), Pranoto Soenarto, saat ini kopi Indonesia telah diekspor 400.000 ton per tahun.

“Produksi kopi di Indonesia itu mencapai 600.000 ton per tahun, 400.000 ton itu impor. Malahan kita itu adalah eksportir kopi nomor 4 di dunia. Tapi belum bisa menentukan harga,” jelasnya saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Saat ini, lanjutnya, harga kopi robusta dikendalikan oleh bursa berjangka di London dan kopi arabica dikendalikan bursa berjangka di New York. Hal ini pun dikemukakan oleh pengusaha eksportir kopi. Pasalnya, negara tersebut bukanlah merupakan penghasil kopi namun justru berhasil menentukan harga kopi.

Keadaan ini berdampak pada rendahnya harga kopi. Padahal, saat ini jumlah produksi kopi telah menurun.

“Makanya saya mau masukkan ke bursa di Jakarta agar harga kopi kita tinggi,” jelasnya.

Pemerintah saat ini tengah berencana untuk melakukan perdagangan kopi di Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Diharapkan, nilai jual kopi akan meningkat dan Indonesia dapat menentukan harga kopi tanpa harus bergantung kepada negara lain.

Ditargetkan, dalam tiga bukan mendatang harga kopi telah meningkat dari saat ini sebesar USD1.600 per metrik ton di bursa London menjadi lebih tinggi lagi dengan menjualnya dari bursa Jakarta.

(dni)

Categories
Berita Kopi

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 16:49 wib
Kopi RI Terbaik di Dunia, Petani Tak Kunjung Sejahtera

JAKARTA – Indonesia selama ini telah dikenal sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia. Bahkan, kopi asal Indonesia telah diekspor pada beberapa negara.

Namun, petani kopi di Indonesia saat ini tak kunjung sejahtera. Padahal, petani kopi di Indonesia seharusnya dapat mengubah nasib seiring tenarnya nama kopi Indonesia di dunia internasional.

“Kopi kita itu terkenal di dunia, tapi petani kopi tak kunjung sejahtera,” kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (AEKI) Irfan Anwar dalam sambutannya saat membuka diskusi perkopian nasional di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Untuk itu, pemerintah memiliki tantangan agar kopi Indonesia dapat menjadi tuan di negeri sendiri. Sebagai salah satu negara penghasil kopi terbaik di dunia, Indonesia seharusnya dapat mengendalikan harga kopi untuk dapat menyejahterakan petani lokal.

Peran pemerintah juga sangat diharapkan untuk dapat membantu petani kopi. Diantaranya adalah bantuan peningkatan kualitas hasil tanam dan fasiltas pertanian. Dengan begitu, maka produksi kopi di Indonesia akan semakin dikenal di mata dunia internasional sehingga dapat mensejahterakan petani kopi.

“Pak presiden pada Desember lalu berjanji memberikan bantuan Rp 5,9 triliun untuk membantu KUR kita. Mudah-mudahan ini dapat meningkatkan kesejarahan petani kopi,” tukasnya.

(rzy)

Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia Belum Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 17:44 wib

JAKARTA – Kualitas kopi di Indonesia memang tak perlu diragukan. Dunia Internasional pun telah mengakui kualitas kopi di Indonesia. Namun, saat ini kopi Indonesia masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Harga kopi asal Indonesia pun masih didikte oleh Amerika dan Brazil.

Keadaan ini tentunya sangat merugikan petani. Bahkan, hingga saat ini petani kopi di Indonesia masih belum sejahtera akibat rendahnya harga jual kopi di Indonesia.

“Kita belum bisa menentukan harga. Karena kopi kita masih mengikuti harga internasional. Padahal untuk kopi robusta kita salah satu yang terbaik,” kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (AEKI) Irfan Anwar dalam acara diskusi perkopian nasional di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Untuk itu, saat ini pemerintah berencana akan memperdagangkan kopi dalam Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Diharapkan, kopi Indonesia dapat kembali menjadi tuan di negeri sendiri dan dapat menentukan harga secara nasional.

“Itu dia sekarang lagi diomongin. Tapi (arahnya) akan kesitu. Supaya kayak timah bagus, kita bisa jadi pelopor harga dunia,” jelas Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Karyanto Suprih pada kesempatan yang sama.

Untuk diketahui, saat ini pemerintah akan mencoba memberdayakan anak muda untuk dapat mengolah kopi guna memiliki nilai jual lebih. Salah satunya adalah dengan proses pembuatan kopi yang menarik bagi konsumen.

Anak muda pun dituntut untuk dapat kreatif agar kopi di Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Diharapkan, kopi nantinya dapat mengurangi jumlah penggangguran di Indonesia.

(dni)

Categories
Bisnis Kopi

Tingkatkan Nilai Kopi, Kemendag: Jangan Cuma Diaduk Saja

Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 17:04 wib

JAKARTA – Kopi Indonesia saat ini telah menjadi primadona dunia internasional. Pengalaman Indonesia dalam menanam kopi sejak zaman Hindia Belanda telah menyebabkan kualitas kopi di Indonesia berhasil menyaingi kopi-kopi dari negara-negara di Amerika dan Timur Tengah.

Namun, saat ini nilai jual kopi di Indonesia masih rendah. Masyarakat pun belum dapat menjadikan kopi sebagai sumber peningkatan perekonomian.

Untuk itu, saat ini pemerintah akan mencoba memberdayakan anak muda untuk dapat mengolah kopi guna memiliki nilai jual lebih. Salah satunya adalah dengan proses pembuatan kopi yang menarik bagi konsumen.

“Sekarang lifestyle-nya berubah. Cara menyajikan kopinya yang berubah. Itu yang sekarang dibuat. Jadi anak-anak muda yang kreatif kita bina,” jelasnya dalam acara diskusi perkopian nasional di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

(Baca Juga: Kopi RI Terbaik di Dunia, Petani Tak Kunjung Sejahtera)

Anak muda pun dituntut untuk dapat kreatif agar kopi di Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Diharapkan, kopi nantinya dapat mengurangi jumlah penggangguran di Indonesia.

“Bagaimana menyajikan kopi bukan cuma diaduk aja. Ada macam-macam, padahal rasa kopinya sama,” tukasnya.

Untuk diketahui, perdagangan kopi nantinya juga akan lebih didorong untuk dilakukan melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Diharapkan, harga kopi dapat semakin melejit, khusunya harga kopi asal Indonesia yang telah menjadi produsen utama di dunia.

(dni)

Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia “Laku” Rp 1,5 Miliar di Ekspo Melbourne

SYDNEY, KOMPAS.com – Pada ajang pameran Melbourne International Coffee Expo (MICE) 2016 yang berlangsung pada 17-19 Maret 2016 lalu di The Melbourne Showgrounds, Melbourne, produk kopi Indonesia berhasil mencatatkan transaksi Rp 1,5 miliar atau 1,5 juta dollar Australia (Kurs Rp 10.059 per dollar Australia).

Kepala Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Sydney Agung Haris Setiawan punya strategi baru dalam mendongkrak ekspor produk Indonesia.

“Kementerian Perdagangan melalui perwakilan di luar negeri, baik Atase perdagangan (Atdag) maupun ITPC, akan lebih aktif berpromosi melalui media digital,” tegas Agung, Senin (28/3/2016).

Strategi promosi yang dikembangkan ITPC Sydney disebut SMART, yaitu social media (S) melalui Facebook, Twitter, LinkedIn, dan Youtube.

Kemudian mobile apps (M) dalam versi Android dan iOS. Berikutnya advertising (A), dilakukan baik secara offline maupun online.

Selanjutnya reliable database (R) yang menjadi sumber data eksportir terpercaya yang akan mendorong terjadinya trade (T) atau perdagangan antara Indonesia dan Australia.

Produk kopi Indonesia terbukti berhasil memikat pengunjung MICE 2016. Produk-produk kopi yang diusung sejumlah perusahaan nasional meraih popularitas berarti.

Agung menjelaskan, cupping adalah salah satu prosedur yang dilakukan dalam menganalisis kualitas rasa dan aroma kopi. Pengunjung dapat secara langsung merasakan dan menikmati kopi yang telah disiapkan oleh peserta di Paviliun Indonesia kemudian memberikan pendapat atas cita rasa dari kopi tersebut.

MICE 2016 dikunjungi oleh lebih dari 10 ribu orang yang terdiri dari produsen kopi, barista, peritel kopi, produsen dan distributor peralatan pembuat kopi, jasa makanan profesional, petani, pengekspor, pengimpor, peritel roaster, serta grosir.

Tahun ini, sebanyak 7 (tujuh) perusahaan kopi mengisi Paviliun Indonesia, yaitu Asia Connecting, Mandheling Coffee Pty Ltd, Opal Coffee Pty Ltd, Saman Estate Coffee, PT Santama Arta Nami, Sumatra Coffee House, dan The Q Coffee.

Penulis : Aprillia Ika
Editor : Aprillia Ika
Categories
Uncategorized

Workshop Kopi Papua

Pada sabtu 15 Mei 2010, bertempat di sekretariat Tji Liwoeng Balekembang, Condet, Yayasan Forum Kebangsaan Generasi Muda Papua, mengadakan Workshop Sehari bertemakan, “Peran mahasiswa dan pemuda dalam pemberdayaan petani Kopi di Papua”. Saya berkesempatan menghadirinya.

Hadir sebagi pembicara, Ir. Lili Toraja, dari Bina Desa dan Revitriho Hosodo dari Global Justic. Masing masing berbica tentang teknik budidaya kopi dan melawan hegemoni starbuck.

Dalam workshop itu terungkap, ternyata Papua mimilik kopi terbaik di seluruh Indonesia. Kualistanya punya potensi ekspor. Buktinya, baru-baru ini, Tempo interaktif melaporkan Papua akan mengeskpor kopi sebanyak 40 ton ke Amerika Serikat.

Walau demikian, potensi budidaya kopi ditanah Papua belum dimaksimalkan. Budidaya perkebunan kopi masi dilakukan secara tradisional. Petani kopi papua belum mendapatkan pendampingan yang baik dari para penyulu lapangan. Pasar juga masi menjadi salah satu kendala.

Di lain pihak, perdagangan Kopi ternyata masi dimonopoli oleh pedagang-pedangan besar. Salah satunya korporasi bernama starbuck. Korporasi ini mengendalikan distribusi dan juga turut mengatur harga komoditi kopi dunia. Lebih parah lagi korporasi ini mengambil keuntungan besar sementara itu banyak pedagan kopi di seluruh dunia yang tidak menikmati hasil jeripayah mereka.
Sumber : http://begitusudah.blogspot.com/

Categories
Bisnis Kopi

SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini

Anggi Oktarinda  Jum’at, 24/04/2015 05:12 WIB

Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.

Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.

Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.

Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.

Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.

Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.

Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.

Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.

Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.

Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.

Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.

Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.

Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.

Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.

Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?

Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?

Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.

Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.

Categories
Bisnis Kopi

Harga Kopi Robusta Diprediksi Naik pada 2014

Kamis , 17 April 2014 00:45 | Ekonomi & Bisnis, Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Harga biji kopi robusta pada 2014 diprediksi akan naik. Itu karena Vietnam yang selama ini menjadi pesaing kopi di pasar kopi robusta dunia, beberapa waktu lalu diserang Topan Haiyan.

“Produksi kopi mereka hancur. Sementara itu produksi komoditas ini diperkirakan mengalami penurunan dibawah 50 persen dibandingkan tahun lalu. Cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor penyebabnya,” kata Sunyoto,petani kopi di Way Tenong, Lampung Barat, Kamis (2/1/2014).

Menurut Sunyoto, tahun ini diperkirakan harga kopi robusta lebih bagus lagi dibandingkan tahun 2013. Meski begitu, kata Sunyoto, hingga Januari 2014, harga kopi masih rendah dan fluktuatif.

Pada November 2013 masih berada di kisaran Rp 16.000 /kg di tingkat basis (pedagang besar), sedang di tingkat pedagang pengumpul harga di kisaran Rp 15.000/kg. Namun sekarang harga sudah membaik mencapai Rp18.000 sampai Rp19.700/kg,” kata dia.

Sementara itu, stok kopi di tingkat petani tinggal sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, petani mengandalkan tanaman selang kopi dikebun.

“Stok kopi sekarang di petani tinggal sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kedepan kami mengandalkan tanaman selang yang ada di kebun, alhamdullilah bisa menghasilkan 25 kg sampai 50 kg” jelas Sunyoto.

Namun demikian, ada juga beberapa daerah di dataran rendah yang masih memiliki stok kopi yang cukup banyak diantaranya di daerah Ranau, Bukit Kemuning, dan Palembang.

Meski harga kopi robusta diprediksi akan naik, namun tidak demikian halnya dengan produksi kopi. Diprediksi tahun 2014 ini akan mengalami penurunan yang cukup berarti karena curah hujan yang tinggi.

“Kopi lokal nonkelompok tani tahun lalu produksinya bisa mencapai 1,5 ton /hektare sekarang dalam satu hektare hanya sekitar 5 kwintal saja.Untuk mencapai 50 persen produksi tahun ini dibandingkan tahun lalu saja susah mencapainya. Cuaca yang tidak menentu salah satu factor penyebabnya,” ujar Sunyoto.

Menurut Sunyoto curah hujan yang cukup tinggi, petani kopi mengalami kesulitan mengeringkan kopi mereka.

“Di Liwa, Lampung Barat, hujan terus. Petani sulit menjemur kopi. Setengah hari panas, tapi dari siang sampai sore bahkan malam hujan terus,” kata Sunyoto.