Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia Makin Mendunia dalam Ajang World of Coffee Expo Dublin 2016

JAKARTA, KOMPAS.com – KBRI Brussels dan KBRI London bersama Kementerian Perindustrian, Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia (AKSI) mempromosikan kopi Indonesia di kancah Internasional “World of Coffee Expo Dublin 2016”.

“Mengingat Eropa merupakan pangsa pasar terbesar untuk kopi Indonesia, melalui kolaborasi ini, kita berharap promosi kopi Indonesia lebih kuat, dan lebih luas, sehingga pada akhirnya ekspor kita juga lebih besar,” ujar Duta Besar Indonesia untuk Inggris Rizal Sukma dalam keterangan resminya.

“Tahun depan kita rencanakan untuk berpartisipasi juga di London Coffee Festival dan saya harapkan para eksportir kopi Indonesia dapat turut serta,” ucap Rizal.

“Melalui kopi, kita juga bisa menampilkan keberagaman Indonesia,” tambah Rizal.

Dalam kesempatan tersebut KBRI Brussel bersama delegasi 16 perusahaan atau eksportir kopi Indonesia termasuk beberapa koperasi petani kopi dan Asosiasi Kopi Spesial Indonesia membawa produk-produk kopi unggulan Indonesia.

Produk-produk seperti sustainable dan specialty coffee asal Gayo, Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, Flores, sampai Papua turut dipamerkan dalam acara yang dilaksanakan mulai 23 Juni 2016.

Untuk pengembangan industri dan perdagangan kopi Indonesia yang berkelanjutan di pasar dunia, pihak KBRI melakukan update informasi kepada para buyers tentang bagaimana proses pengolahan kopi Indonesia.

Sementara itu, tahun 2017 World Coffee Expo akan diadakan di Budapest-Hongaria.

Sejalan dengan akan diikutinya Europalia di 70 kota besar di UE, kopi juga akan menjadi duta perdagangan dan pariwisata Indonesia di pasar Eropa.

Penulis : Pramdia Arhando Julianto
Editor : M Fajar Marta

Categories
Bisnis Kopi

Rajai Kopi Dunia, Indonesia Berharap Bantuan Vietnam

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 19:20 wib

JAKARTA – Posisi Indonesia saat ini terus menurun dalam produksi kopi global. Bahkan, saat ini kopi robusta di Indonesia telah berada pada posisi tiga dari sebelumnya berada pada peringkat pertama. Untuk itu, pemerintah berencana untuk meningkatkan nilai jual kopi di Indonesia.

Salah satunya adalah dengan menjual kopi melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Namun, saat ini BBJ masih dikuasai oleh broker asing. Padahal, seharusnya Indonesia juga turut serta dalam perdagangan kopi tersebut.

Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengungkapkan, saat ini perlu dukungan dari Vietnam agar kopi di Indonesia dapat kembali bersaing menjadi kopi terbaik di dunia. Vietnam pun diharapkan dapat masuk ke dalam BBJ agar meningkatkan daya saing Indonesia dalam hal produksi kopi.

“50 persen saja Vietnam masuk ke sini dan ke London, kita bisa meningkatkan penjualan,” ujarnya saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Indonesia kini memang telah berjuang untuk kembali ke posisi puncak dalam hal produksi kopi pada tingkat global. Pasalnya, untuk kopi robusta Indonesia kini telah berada posisi tiga, turun dua peringkat dari sebelumya pada posisi pertama.

(dni)

Categories
Berita Kopi

Kopi Indonesia Belum Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 17:44 wib

JAKARTA – Kualitas kopi di Indonesia memang tak perlu diragukan. Dunia Internasional pun telah mengakui kualitas kopi di Indonesia. Namun, saat ini kopi Indonesia masih belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Harga kopi asal Indonesia pun masih didikte oleh Amerika dan Brazil.

Keadaan ini tentunya sangat merugikan petani. Bahkan, hingga saat ini petani kopi di Indonesia masih belum sejahtera akibat rendahnya harga jual kopi di Indonesia.

“Kita belum bisa menentukan harga. Karena kopi kita masih mengikuti harga internasional. Padahal untuk kopi robusta kita salah satu yang terbaik,” kata Ketua Umum Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi (AEKI) Irfan Anwar dalam acara diskusi perkopian nasional di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Untuk itu, saat ini pemerintah berencana akan memperdagangkan kopi dalam Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Diharapkan, kopi Indonesia dapat kembali menjadi tuan di negeri sendiri dan dapat menentukan harga secara nasional.

“Itu dia sekarang lagi diomongin. Tapi (arahnya) akan kesitu. Supaya kayak timah bagus, kita bisa jadi pelopor harga dunia,” jelas Plt Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Karyanto Suprih pada kesempatan yang sama.

Untuk diketahui, saat ini pemerintah akan mencoba memberdayakan anak muda untuk dapat mengolah kopi guna memiliki nilai jual lebih. Salah satunya adalah dengan proses pembuatan kopi yang menarik bagi konsumen.

Anak muda pun dituntut untuk dapat kreatif agar kopi di Indonesia memiliki nilai jual tinggi. Diharapkan, kopi nantinya dapat mengurangi jumlah penggangguran di Indonesia.

(dni)

Categories
Bisnis Kopi

Kopi Indonesia Terancam Terlibas Ethiopia

http://economy.okezone.com/, Dedy Afrianto, Jurnalis, Jum’at, 3 Juni 2016 – 18:55 wib

JAKARTA – Indonesia selama ini telah menjadi salah satu bidikan dunia internasional dalam hal produksi kopi. Pengalaman Indonesia dalam menanam kopi sejak zaman Hindia Belanda hingga saat ini telah menyebabkan petani kopi di Indonesia dalam menanam kopi dengan kualitas terbaik.

Saat ini, Wakil Ketua Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) Pranoto Soenarto mengungkapkan, kualitas kopi Indonesia telah berada pada peringkat tiga dunia, khususnya untuk kopi robusta. Namun, saat ini Indonesia berada dalam ancaman kopi Vietnam yang menggeser kopi Indonesia yang sebelumnya berada pada peringkat satu dunia.

“Vietnam bisa gusur kita. Dulu robusta kita nomor satu sekarang nomor tiga,” jelasnya saat ditemui di kantor Kementerian Perdagangan, Jakarta, Jumat (3/6/2016).

Bahkan, apabila pemerintah tidak kunjung memperbaiki nilai jual dan hasil kopi di Indonesia, posisi kopi di Indonesia dapat dikalahkan oleh Ethiopia. Pasalnya, saat ini Ethiopia mulai memiliki manajemen penjualan kopi yang profesional.

“Kita sekarang juga bisa disalip oleh Ethiopia lho. Jangan salah. Kita terancam berada pada posisi kelima,” tegasnya.

Untuk itu, saat ini pemerintah telah berusaha untuk meningkatkan nilai jual kopi di Indonesia. Salah satunya adalah dengan mencoba memberdayakan anak muda untuk dapat mengolah kopi guna memiliki nilai jual lebih.

Selain itu, perdagangan kopi nantinya juga akan lebih didorong untuk dilakukan melalui Bursa Berjangka Jakarta (BBJ). Diharapkan, harga kopi dapat semakin melejit, khususnya harga kopi asal Indonesia yang telah menjadi produsen utama di dunia.

(dni)

Categories
Bisnis Kopi

Cita Rasa Unik Petani Kopi Kecil Indonesia Dipuji di Norwegia

KAMIS, 21 JANUARI 2016 , 08:48:00 WIB

RMOL. Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo bekerja sama dengan Yayasan GreenIndonesia dan Norwegian Coffee Association (NCA) memperkenalkan 4 jenis kopi arabika kepada ekspertise kopi Norwegia di kantor NCA, Oslo, Selasa (19/1).

Kopi-kopi yang diperkenalkan arabika jenis single origin yang dihasilkan para micro roaster dari kebun petani-petani kecil di bawah jejaring Yayasan GreenIndonesia, organisasi yang berupaya membantu pemerintah dalam mengangkat kesejahteraan hidup masyarakat kecil. Kopi-kopi yang dimaksud yaitu Arabica Java Preanger (GreenIndonesia), Arabica Mandailing (GreenIndonesia), Arabica Mt. Arjuna (Javaroma), danArabica Garut (Mahkota Jawa Coffee).

Duta Besar RI untuk Norwegia di Oslo Yuwono A. Putranto, seperti diinformasikan Fungsi Pensosbud KBRI Oslo, menyampaikan acara promosi kopi ini mendapatkan perhatian yang cukup spesial dari pelaku industri kopi di Norwegia.

“NCA sebagai tuan rumah kegiatan memberikan dukungan yang besar. NCA juga telah membantu menghadirkan wakil-wakil dari perusahaan, importir, coffee house papan atas Norwegia (diantaranya COOP, Solberg&Hansen, Kaffebreniet, Pals dan DGB), serta para pakar kopi lainnya,” kata Yuwono.

Chairman NCA Marit Lynes mengatakan tingkat kehadiran para pakar kopi di Norwegia pada acara promosi kopi Indonesia ini lebih besar dari dua kegiatan terakhir, yaitu kopi Brasil dan kopi Ethiopia. Faktor utamanya adalah sentimen ‘kerinduan’ atas kopi Indonesia yang pernah menjadi salah satu ‘raja’ di Norwegia, namun saat ini market share-nya hanya sekitar 1% dan bahkan kopi Vietnam berhasil mencapai sekitar 2% pasar kopi Norwegia.

Selain itu, Marit menyampaikan mengenai banyaknya keinginan untuk mencoba kopi dengan cita rasa lain dari kopi yang saat ini mendominasi Norwegia, yaitu dari Brasil, Kolombia, Peru dan Ethiopia.

Hasil dari coffee cupping adalah kesamaan pandangan akan keunikan rasa yang berbeda-beda antara jenis yang satu dengan lainnya. Hal ini dinilai sebagai satu kekuatan atau potensi besar untuk mengemas kopi Indonesia tersebut sebagai artisanal coffee di pasar Norwegia. Namun demikian, diamati bahwa cita rasa tersebut belum dibarengi dengan kecantikan penampilan dari biji kopi. Masih diperlukan upaya serius untuk meningkatkan packaging dan branding dari kopi Indonesia tersebut.

Wakil dari perusahaan Solberg &Hansen dan pakar kopi Alf Kramer terketuk untuk mendalami dan menawarkan pendapat ahlinya guna mengembangkan kesamaan kualitas antara rasa dan penampilan.

Perkenalan kopi Indonesia ke publik Norwegia ini merupakan salah satu upaya untuk menggenjot ekspor kopi ke Norwegia. Bagi KBRI Oslo, upaya promosi ini dapat dijadikan sebagai kegiatan awal bagi upaya promosi dan penetrasi kopi Indonesia di pasar Norwegia, tutur Dubes Yuwono.

Norwegia merupakan pasar kopi spesial,dengan masyarakatnya merupakan peminum kopi terbanyak per kapita nomor dua di dunia. Pasar Norwegia selalu memburu kopi-kopi dengan kualitas terbaik, dan kopi Indonesia dengan cita rasa uniknya mempunyai potensi yang sangat besar. Namun demikian, upaya untuk menembus pasar Norwegia yang sangat strictini perlu dibarengi dengan peningkatan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Perwakilan RI di luar negeri.[dem]

Categories
Bisnis Kopi

SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini

Anggi Oktarinda  Jum’at, 24/04/2015 05:12 WIB

Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.

Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.

Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.

Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.

Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.

Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.

Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.

Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.

Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.

Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.

Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.

Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.

Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.

Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.

Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).

Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?

Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?

Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.

Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.