Categories
Cerita Kopi

Minum Kopi (di) Papua

OLEH ONNY WIRANDA, 15 Desember 2012 Lumbung

LEMBAH BEANEKOGOM, TSINGA

Seperti sebuah pementasan, hari memasuki babak baru ketika matahari menyingkir dari langit. Rombongan kecil kami yang baru saja datang memeriksa pembangkit listrik di Sungai Beanagogom, Tsinga, kini berkumpul di depan perapian untuk menikmati makan malam dan mengakhirinya dengan beberapa gelas kopi. Beberapa kali aku menawari Pak Yoap Beanal, kepala suku di Tsinga dan Pak Jack Dendegau Kepala Desa Tsinga untuk ikut minum kopi. Tapi mereka selalu hanya menjawab singkat, “Ah, tidak, terima kasih pak.”

Beberapa meter dari tempat kami berkumpul, sekelompok anak muda Tsinga sedang berkumpul di sebuah honai. Di rumah bujang itu, mereka sedang melepas kepergian seorang guru yang akan turun gunung ke Timika.

Berbagai macam sajian khas pegunungan Papua disajikan. Mulai dari betatas (ubi), sayur pakis, teh hangat, dan tembakau gulung. Tidak ada segelas kopi pun yang tersaji di honai. Padahal tidak jauh dari situ, terletak perkebunan kopi skala kecil yang menjadi salah satu tumpuan produksi sebuah merk kopi yang terkenal: Amungme Gold Arabica Coffee.

PERTEMUAN PERTAMA DENGAN KOPI

Paling tidak di Mimika, tempat saya tinggal selama beberapa tahun ini, nampak bahwa minum kopi masih belum sepenuhnya jadi bagian dari budaya kuliner setempat. Di Mimika, orang Kamoro yang tinggal di pesisir pantai mengenal kopi dari pos misionaris di Kaokanao. Pada sekitar tahun 1930an, tempat itu berubah menjadi pos pemerintahan.

Menurut Lodefikus Saklil, pada saat itu kesempatan untuk mencicip barang yang namanya kopi biasanya terjadi di Pastoran. Istilah untuk tempat tinggal para pastor dan bruder. Hal berikutnya yang terjadi sudah bisa diduga. Orang-orang Kamoro yang telanjur suka kopi dan tembakau, banyak yang datang menukar keduanya dengan hasil bumi, seperti sagu atau ikan.

Kopi baru tersedia dalam jumlah yang banyak ketika perusahaan tambang raksasa Freeport McMoran memulai operasinya di Mimika. Pada tahun 1967, industri itu membuka landasan udara perintis dan kamp di Timika Pantai. Demikian pula di Tsinga, tempatku mulai menulis catatan ini, kopi bersama dengan teh dan mie instan baru dikenal masyarakat Amungme pada awal tahun 1990an.

Para misionaris tidak mengajari masyarakat untuk menanam kopi di pesisir Mimika. Alasannya, kondisi geografis daerah pesisir Mimika yang terdiri dari rawa-rawa dan delta sungai.

Catatan paling tua mengenai kopi di Papua adalah dari HW Moll (1959). Ia mengkaji kemungkinan penanaman kopi di area sekitar Danau Wisselmeren (sekarang disebut Danau Tigitane) di dataran tinggi Paniai. Tapi kopi baru dikembangkan oleh misionaris pada tahun 1980. Saat itu, seorang bernama Bruder Jan Sjerps, OFM menanam 1000 pohon kopi jenis Arabica untuk melatih anak-anak SMP dan petani di Moanemani, Paniai, Papua. Selain mengajar cara menanam dan merawat kopi, Bruder Jan juga mengajarkan cara menggoreng biji kopi. Sejak itu Kopi Moanemani mulai terkenal.

PERTEMUAN DENGAN KOPI PAPUA

Bagi saya, menjajal berbagai macam kopi Papua selalu menimbulkan sensasi istimewa. Serupa halnya ketika menjajal berbagai penganan Papua yang sebelumnya asing bagiku seperti tambelo (ulat sagu), pinang, dan papeda.

Sekalipun kopi bukan barang asing di Jawa, tapi proses mengenali berbagai macam kopi Papua seperti membuka cakrawala baru berpikir saya. Bahwa minum kopi bukan hanya sekedar untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, tapi juga untuk memperkaya ikatan kita dengan tanah asal kopi yang kita minum.

Disalin Ulang dari PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Papua Wamena Manis dan Wangi

Jum’at, 2 November 2012 , Mutya Hanifah – Okezone

Bianca Beatrice, Runner Up 1 Miss Coffee International 2012Bianca Beatrice Runner Up 1 Miss Coffee International 2012

Bianca Beatrice, Runner Up 1 Miss Coffee International SEBAGAI Runner Up I Miss Coffee International, pastilah Bianca Beatrice telah mencoba beragam kopi asli Indonesia. Kopi manakah yang menjadi favoritnya? Bianca Beatrice, yang mewakili Indonesia dalam ajang Miss Coffee International 2012, berhasil meraih posisi Runner Up 1.

Selama ajang pemilihan, Bianca telah mencoba beragam kopi Indonesia.

“Sewaktu pemilihan, ada kegiatan yang namanya cupping, yaitu mencoba semua kopi Indonesia, mulai dari kopi Gayo dari Aceh hingga kopi Papua,”

tuturnya kepada Okezone di Jakarta, belum lama ini. Selama mencoba semua kopi tersebut, ternyata yang menjadi favorit Bianca adalah kopi Papua Wamena.

“After taste-nya enak, manis. Aromanya juga wangi sekali,”

ujarnya. Ia mengaku baru mencoba kopi tersebut selama masa karantina di ajang Miss Coffee International 2012.

“Kopinya memang di Jakarta masih sulit dicari, karena itu jenis kopi baru,” pungkasnya. Kopi Papua Wamena adalah kopi yang tumbuh di daerah Pegunungan Jayawijaya Wamena, di ketinggian 1.600 meter di atas permukaan laut. Kopi ini memiliki aroma dan cita rasa yang khas, serta dapat digolongkan sebagai kopi organik karena proses pertumbuhannya alami. Kopi ini tidak terasa asam karena memiliki kadar asam yang rendah. (ftr)

Sumber : www.okefood.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Torabica Siap Ditantang Kopi Papuabica

Kanal: Wisata, Wikimu.com, Rabu, 22-08-2007 08:58:32 oleh: Engelbertus Pr Degey

Ini berita menarik bagi pecandu kopi. Melalui Yayasan Bina Mandiri Utama (Yabimu), sudah mulai mempersiapkan berbagai hal guna mengangkat kopi arabica asli dari Papua untuk diekspor keluar Papua. Namanya pun sudah diberikan, Papuabica, begitupun logonya sudah dirancang oleh Frans X Wakei.

Direktur Yabimu, Ambrosius Degey, SH belum lama ini di ruang kerjanya mengatakan, pihaknya sedang mempersiapkan nama dan logo untuk ditawarkan kepada lembaga nirlaba asal Inggris, Oxfam Great Britania. Bila disepakati bersama, maka nama itu tetap akan digunakan sebagai nama asli kopi Papua yang sebelumnya lebih terkenal dengan nama, Kopi Murni Moanemani.

Kopi Murni Moanemani yang dikelolah Y-P5 sempat macet, dan potensi tersebut dilirik YABIMU dan ditawarkan kepada lembaga donator agar mendapat dukungan agar kopi asli gunung Papua itu bisa diproduksi kembali. Bagi setiap orang yang pernah mengkonsumsi kopi tersebut, akan menilai sendiri perbedaan rasanya.

Lanjut Ambros, program tersebut telah menjadi pilot project Oxfam dan akan menjadi proyek percontohan di tanah Papua. Program tersebut sudah mendapat dukungan penuh dari Wakil Gubernur Provinsi Papua, Alex Hesegem, SE. Alasannya, program tersebut ikut membantu pemerintah dalam rangka meningkatkan perekomonian rakyat dengan membantu memasarkan kopi milik masyarakat kecil di kampung-kampung (dusun-dusun) tanah Papua.

Hanya saja, menurut Ambros, pemerintah provinsi tidak bisa berbuat apa-apa membantu sedikitpun karena APBD sudah selesai dan bila memungkinkan pada tahun anggaran berikut pemerintah akan mendukung berupa finansial. Tetapi khusus kepada pemerintahan kampung, menurut Wagub, dalam waktu dekat akan menyalurkan dana 100 juta rupiah per kampung. Diharapkan dengan dana itu, terutama masyarakat petani kopi, agar kepala kampungnya mau menggalakkan pertanian kopi selagi ada dukungan dari lembaga dunia untuk membantu memasarkan kepada konsumen.

Selama ini sajian kopi yang terkenal di tanah Papua adalah Kopi Murni Moanemani. Kopi yang digiling oleh Yayasan P-5 Moanemani ini menjadi laku di pasaran, karena kadar aroma kopine (arabika)-nya sangat tinggi. Tidak seperti kopi buatan pabrik lain atau kopi impor. Agar laku, sering kopi impor meniru cap / lebel Kopi Murni Moanemani, tetapi rasanya tetap beda. Hanya saja upaya P-5 Moanemani ini tidak mendapat dukungan sehingga Yabimu-Oxpam mencoba membangkitkan dengan cara mengumpulkan kopi dari masyarakat dan membantu memasarkan kepada konsumen.

Lanjut Ambros, jalur pemasaran akan dicoba lewat Enarotali – Kabupaten Paniai. Karena dari sisi transportasi, Kamuu-Mapia ke Enarotali sangat dekat dan bisa dijangkau dengan biaya murah. Kedua, karena dari Enarotali lebih mudah dipasarkan ke Nabire, Sugapa, Timika atau langsung ke Ibukota Provinsi Papua.

Dikatakan, Oxfam sendiri sedang membangun kantor perwakilan di tanah Papua, tepatnya di Jayapura. Dengan adanya kantor perwakilan ini, Oxfam akan menggalakkan berbagai kegiatan pembangunan yang pada prinsipnya membantu pemerintah daerah dalam membangun masyarakat yang berada di kempung-kampung.

Data Papuapos, selain membantu menggalakan perekomonian daerah, Yabimu juga sering melakukan pendampingan di bidang perkoperasian. Salah satu upaya di bidang kemanusiaan adalah, pasca gempa melanda kota Nabire dan sekitarnya, Yabimu gandeng UNDP membangun sejumlah TK dan SD yang hancur berantakan oleh Gempa.

sumber foto: blog.chosun.com

Sumber: PAPUACoffees.com

Categories
Berita Perusahaan

Website Specialty Coffee Association of Papua telah diluncurkan

kopipapua.com/ dan PapuaCoffees.com sebagai situs industri Specialty Coffee Association of Papua (SCAP) dari KSU Baliem Arabia secara resmi meluncurkan websitenya yaitu http://papuacoffees.com. Misi utama PapuaCoffees untuk SCAP adalah :

Sebagai turunan dari The Specialty Coffee Association of Indonesia, SCAP menyediakan forum efektif, menyatukan semua pelaku industri yang terlibat dalam penanganan kopi spesial dari Tanah Papua mulai dari Sorong sampai Samarai, untuk memajukan dan menetapkan standar penanaman, ekspor, dan penjualan eceran kopi spesial Papua.

Menjadi organisasi jaringan industri kopi di tanah Papua dengan membangun jaringan dan kebersamaan dalam usaha pengembangan dan perdagangan Kopi dalam bidang keahlian, pengalaman dan finansial.

Menjadi jaringan terdepan dalam memberikan gagasan konsep dan pembimbingan terhadap pengembangan dan perdagangan kopi produk Tanah Papua.
Memberikan layanan terbaik dan kualitas produk dengan support yang handal dan cepat kepada pelaku usaha kopi di Tanah Papua.

Dengan diluncurkannya Website ini, diharapkan ke depannya PapuaCoffees.com menjadi lebih maju dan terdepan dalam