Categories
Berita Perusahaan

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial

Penawaran Kopi dengan Harga Spesial untuk 10 Pembeli Pertama Musim Kopi Juli – September 2014

Dear Penikmat dan Pengusaha Kopi di Seluruh Indonesia dan Team Kerja KSU Baliem Arabica,
Selamat Pagi!, semangat Pagi!
Dari Kantor Pusat KSU Baliem Arabica sebagai pusat pembelian Kopi di Pegunungan Tengah Papua dengan ini kami sampaikan PENAWARAN KHUSUS kepada 10 Pembeli Pertama untuk Musim Panen 2014 (Juli – September 2013) dengan harga khusus.
Koperasi Baliem Arabica ingin menawarkan penjualan kopi Biji ke beberapa Pembeli lokal yang selama ini aktif dengan harga special. Bagi pembeli baru, kami sarankan menjelaskan kepada Koperasi seberapa sering mereka akan beli dan berapa jumlah pembelian regular yang direncanakan untuk kami ketahui sebelum memutuskan apakah kami akan jual kepada pembeli baru atau tidak.
Karena Tahun ini kami punya stock beberapa ton.
Berikut Informasi Kopi.
1. Coffee Variety : Arabica
2. Kadar Air/ Moisture : 11,5-12,5 %
3, Grade : Grade One
4. Certification : Organic RA
5. Price : FOB Sentani Wirehouse, Jayapura dengan harga special Rp. 67.000/ kg.

Info Selengkapnya silahkan hubungi

  1.  Email: coffeebaliemblue@yahoo.com; info@coffea.asia; info@baliemarabica.com
  2. SMS/ Telepon: 081248129978 / 081238301001
Demikian informasi penawaran, jika ingin membeli/ memesannya mohon info balik dalam waktu dekat.
Terima kasih atas kerja sama dan jawaban anda sangat kami nantikan.
wa wa wa
On behalf KBA Wamena

SUmber: PapuaCoffees.com

Categories
Berita Perusahaan

KSU Baliem Arabica membuka Peluang bagi Siapa saja

 KSU Baliem Arabica membuka Peluang bagi Siapa saja untuk Menjadi Reseller dan Agen Kopi Papua

Dalam pernyataan tadi siang dijelaskan oleh bagian Sales dan Marketing KSU Baliem Arabica bahwa telah dibuka peluang bagi siapa saja yang ada di Indonesia, Malaysia dan Singopore untuk menjadi agen atau reseller dari Kopi Papua dengan berbagai single origins seperti

  • Wamena Single Origin
  • Moanemani Single Origin
  • Pegunungan Bintang Single Origin
  • Dogiyai SIngle Origin
  • Goroka Single Origin
  • Deiyai Single Origin
  • Hagen Single Origin
  • Arfak Single Origin
  • Sigiri Single Origin

dengan syarat dan ketentuan seperti disampaikan dalam bagian “KARIER” situs ini.

Sumber Berita: http://papuacoffees.com

 

Categories
Bisnis Kopi

Kisah Unik Kopi Senang dari Sorong, Papua

Penjualan Kopi Papua di Sorong
Penjualan Kopi Papua di Sorong

Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!

Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.

Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.

Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.

Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.

“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.

Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.

“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.

Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.

Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.

“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.

Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.

“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.

Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.

Sumber Berita: travel.detik.com/read/2013/10/07/091902/2379498/1519/2/kisah-unik-kopi-senang-dari-sorong-papua

Sumber Cerita: PAPUACoffees.com

Categories
Bisnis Kopi

Profil Kegelisahan Seorang “Pahlawan” Kopi di Moanemani

Ir. Dominikus Tebay
Ir. Dominikus Tebay

Kalau saya masuk dalam pemerintahan, saya akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri”

Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH — Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu pernah menyebut Papua sebagai ‘si cantik yang sedang tertidur lelap’. Pantas, sebutan itu dialamatkan kepada pulau ini karena ia berbentuk burung dan memiliki panorama yang indah.

Ia juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah (flora, fauna dan aneka tambang, pariwisata, hutan, kebudayaan, hasil perkebunan dan tentu saja luas wilayah dengan letaknya yang strategis.

Kopi adalah salah satu hasil perkebunan di Papua, khususnya di pegunungan yang dikenal banyak orang. Pegunungan di bagian Timur kita kenal Kopi Wamena dan pegunungan bagian barat kita kenal Kopi Moanemani. Kopi dikenal luas karena murni, 100% organic. Produk kopi dari dua daerah ini diekspor hingga keluar negeri.

Bagaimana kisah kopi Moanemani?
Kopi Moanemani dikelola oleh salah satu putra terbaik Papua, Ir. Dominikus Tebay. Ia memilih kembali ke kampung halamannya (Kampung Mauwa) untuk kelola potensi yang ada di pegunungan Mapiha dan Lembah Kamuu (kopi), kini Kabupatem Dogiyai setelah menyelesaikan pendidikan pertanian di negeri Belanda.

Ketika itu, kehadirannya member warna baru bagi masyarakat. Ia membangkitkan rakyat dengan potensi yang ada di sana dengan membuat perusahaan kopi dan mengajarkan berbagai ketrampilan di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan kepada masyarakat.

Tapi, waktu terus berjalan dan zaman berubah, semua yang ia ajarkan itu kini tinggal kenangan. Program-program instan dari pemerintah dan akses pasar yang sulit membuat warga di sana, pelan-pelan meninggalkan semua yang telah diajarkan Ir Tebay, cara menanam, merawat, panen, dan lainnya.

Tempat produksi kopi yang dikenal P5 itu telah lama redup. Selain karena larangan bantuan luar negeri oleh negara, juga karena masyarakat tidak lagi menanam dan merawat kopi yang dimilikinya sebagai bahan mentah. Koperasi Kopi Moanemani (P5)  yang beralamat Jalan  Kimuupugi, Kampung Kimupugi, Moanemani, Kab. Dogiyai itu kini hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.

Nama besar P5 yang dikenal luas sejak puluhan tahun itu kini hampir tidak terdengar. Ironis, Kabupaten Dogiyai yang merupakan pusat produksi kopi justru dibanjiri kopi olahan dari luar yang dibawa oleh para pedagang dari Bugis.

Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang sudah lebih dari 5 tahun hadir itu belum memperlihatkan komitmennya untuk hidupkan kembali Kopi Moanemani sebagai produksi unggulan.

Melihat kondisi ini, beberapa waktu, reporter majalahselangkah.com menemui Ir. Dominikus Tebay di koperasi P5. Berikut petikan wawancara bersamanya.

Selamat pagi Bapak, senang bisa bertemu dengan Bapak. Bapak, usaha kopi ini, Bapak mulai sejak kapan?

Saya mulai usaha kopi ini sudah puluhan tahun. Tidak ada modal pada awalnya, saya mulai bermodalkan ‘komitmen’. Saya memulai dengan membuka koperasi kopi. Karena di sini ada potensi kopi.

Apakah kondisi saat ini masih sama seperti dulu?

Menurut pandangan saya, memang ada perubahan. Khusus untuk di bidang penanaman dan penjualan kopi di Kamuu sudah ada perubahan.

Setelah hadirnya kabupaten, ada berbagai tawaran kerja/borongan yang sangat menjanjikan untuk mendapatkan uang lebih besar dari menjual kopi. Kalau sebelum masuknya pemerintahan, waktu hanya masih distrik itu, kopi merupakan salah satu kerja yang paling laris buat masyarakat Kamuu di mana dengan cepat mendapatkan uang melalui penjualan kopi. Sekarang keadaan sudah terbalik.

Kopi semakin terkenal (mungkin karena juga kehadiran pemerintah) di mana-mana bahkan hingga di luar negeri tetapi orang yang membudidayakan kopi (buah kopi dikebun) sudah mulai tidak ada, padahal waktu masih distrik banyak orang yang sangat antusias untuk menjual kopi bahkan hingga setiap kampung ada kebun kopi.

Dulu kopi belum terkenal banyak masyarakat yang menjual, sekarang kopi terkenal, antusias masyarakat terhadap mulai kurang bahkan terancam tidak ada. Nama sudah mulai besar, peminat tambah banyak tetapi yang tanam kopi mulai tidak ada.

Apakah masih ada masyarakat yang masih tanam kopi sekarang?

Saya melihat masih ada yang tanam, tetapi tidak bisa saya pungkiri, tidak seramai dulu. Fakta bahwa, kopi masih dipegang oleh generasi tua yang sudah biasa bawa ke sini dari dulu. Belum ada generasi muda yang saya lihat secara serius untuk usaha kopi di tiap kampung.

Saya berharap harus ada “Pahlawan Kopi” di lembah Kamuu ini. Saya juga berharap kepada generasi muda, semoga ada yang jadi pahlawan-pahlawan di bidang ini lagi. Saya melihat peluang ekonomi sangat terbuka lebar sekali untuk usaha kopi untuk ke depan.

Sekarang sudah ada jurang pemisah yang tercipta antara generasi tua dengan generasi muda untuk usaha kopi ini di tiap kampung. Belum ada anak-anak muda yang berani mengambil alih untuk melanjutkan usaha kopi. Sekarang yang menjadi tugas berat yang harus dilakukan oleh semua pihak termasuk  saya itu, membangun sebuah komitmen pahlawan kopi kepada generasi muda.

Petani model harus dibangun. Ia lebih fokus kepada generasi muda, karena mereka yang melanjutkan nanti ke depan. Sekali pun ada generasi tua tetapi akan kita fokus kepada generasi muda. Dalam usaha semacam kopi itu memang berat rasanya, tetapi modal utama yang perlu dimiliki oleh para generasi muda yang mau kembangkan usaha kopi ke depan itu, sebuah komitmen.

Bagaimana dukungan pendanaan dan fasilitas dari pemerintah daerah Kabupaten Dogiyai saat ini?

Sekalipun ada dukungan dari pemerintah Dogiyai sama kami (usaha kopi Moanemani:red) tetapi secara nyata hingga saat ini belum ada. Memang kami sempat bicara tetapi sekarang ada tercecer di mana kami juga tidak tahu. Mereka (pemerinta Dogiyai:red) bisa jadi lupa karena mereka punya kesibukan banyak.

Ada perhatian yang nyata saat karateker saja (Bapak Drs. Adauktus Takerubun:red). Bupati karateker sempat menggunakan tenaga saya sebagai tenaga pemberi input kepada pemerintah bagian Perkebunan, pertanian dan perikanan.

Untuk baru-baru ini, waktu MUSREMBANG kemarin saya juga sempat diundang dan saya sempat memberikan beberapa ide dan pendapat saya terkait kopi ini. Saya sampaikan, pemerintah harus buat titik-titik pembelian kopi di tiap distrik dengan ongkos yang sama dengan yang kami beli. Pendapat saya itu sudah diterima oleh pemerintah dan ditanggapi positif jadi tidak tahu nanti akan dilaksanakan atau tidak, kita tunggu realisasi dari mereka.

Saya dibantu hanya waktu di sini distrik (distrik Kamuu). Tahun 2001, saat itu Bapak AP You menjadi Bupati Nabire, jadi saya merasa sangat berterimakasih kepada beliau.  Waktu itu kami ajukan proposal bantuan kepada beliau, beliau membantu kami 1 Milyar. Selanjutnya, hingga saat ini tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah kepada kami.

Bagaimana penggunaan uang itu?

Setelah kami terima uang itu kami pakai secara bertahap. Kami keluarkan banyak uang ketika kami pesan plastik untuk bungkus kopi dan kantong plastik, kami masih pakai sampai saat ini. Uang itu kami sudah kelola dan sudah kami pakai selama 13 tahun.

Stok untuk plastik dan pembungkus masih memadai hingga beberapa tahun ke depan. Uang itu telah member warna dan membangkitkan lagi koperasi ini dan masih jalan hingga saat ini.
Bapak, tempat ini  (Kopersi) dibangun puluhan tahun lalu. Fasilitas juga mungkin sudah lama.

Bagaimana dengan kondisi tempat dan fasilitas sekarang?

Seperti yang anak sendiri lihat ini. Kami masih pakai rumah yang lama dengan kondisi seperti ini (apa adanya). Kalau nanti ada dana, kami rencana perjelas status tanah ini terlebih dahulu karena tempat yang kami sedang pakai ini juga milik masyarakat di sini dan status belum jelas.

Fasilitas juga sudah lama semua. Harapan perhatian dari pemerintah daerah kepada koperasi Kopi Moanemani tentu ada, tetapi yang paling penting adalah harus ada ‘petani model’ kepada generasi muda dengan maksud usaha kopi ini terus ada terus hingga beberapa tahun mendatang.

Cara agar kopi tetap dipertahankan dalam perubahan, apa yang perlu dilakukan?

Saya pikir, pemerintah harus ajarkan skill yang memadai kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat yang sudah punya kebun kopi, agar kopi tetap ada terus untuk beberapa puluh tahun yang mendatang Kalau dibiarkan terus, siapa yang pertahankan kopi ini?

Pemerintah juga harus ajarkan petani dengan baik agar ada petani model di tiap distrik, lebih khususnya di bagian penanaman kopi dengan tujuan mereka yang akan dilatih itu memelihara kopi dan lahirkan kopi yang berkualitas.

Sementara yang biasa saya amati pada masyarakat Lembah Kamuu itu, sekalipun ada kebun kopi yang besar, masyarakat biarkan begitu saja. Petani model yang saya maksud itu, ajarkan masyarakat itu cara baik untuk menanam kopi yang baik, memelihara, melihat kopi mana yang sudah kena hama, cara memotong dahan dengan baik, dll.

Pokoknya ajarkan ketrampilan tentang pemeliharaan kopi yang baik kepada masyarakat di tiap distrik. Kalau hal itu diwujudkan oleh pemerintah melalui tiap distrik, saya yakin sekali, kopi tetap akan hidup di Lembah Kamuu.

Pak, selain karena ada tawaran baru, kadang-kadang masyarakat yang jauh kadang mengelu soal angkutan. Bagaimana Bapak melihat hal ini?

Untuk mempertahankan usaha kopi itu, saya sudah usulkan ke pemerintah Dogiyai untuk harus ada kendaraan khusus mengangkut kopi di tiap distrik, agar masyarakat tidak lagi datang jual di sini (Moanemani). Biar pemerintah beli di masyarakat langsung di tempat.

Apakah ada kekhatiran khusus bagi generasi muda dan kopi di Dogiyai?

Paling utama yang generasi muda tidak dipahami itu “kerja yang dengan muda kita mendapatkan uang itu, sangat muda juga kerja itu akan pergi”. Kita tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.

Generasi muda sekarang itu lebih suka pada pekerjaan yang instan saja. Generasi muda harus ingat itu, pekerjaan instan akan melahirkan generasi bermental instan juga. Kalau kita bekerja pada sesuatu yang pekerjaannya yang membutuhkan waktu itu, akan ada hasil yang memuaskan. Untuk mencapai hasil yang memuaskan ‘kan harus bayar dengan harga yang mahal.

Bapak itu salah satu figur masyarakat di sini. Banyak masyarakat menginginkan Bapak harus menjadi kepala dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP). Bagaimana?

Saya secara pribadi suka apa adanya. Kalau masyarakat nilai saya begitu, itu terserah mereka. Saya suka yang ada ini hahahahahaha. Kalau saya dipanggil dari pemerintah untuk memberikan ide saya, saya siap berikan tetapi saya tidak suka masuk dalam sistim.

Kalau saya masuk dalam sistim, saya naik dalam mobil dan saya akan lupa dengan apa  yang saya kerjakan di kebun atau  di dalam lumpur, lebih baik saya jadi apa adanya.

Misalnya, kalau kalau uang datang atas nama kopi, kami berterimakasih tetapi yang saya lihat sekarang uang kebanyakan lari ke CV dan PT yang menang teori tetapi tidak pernah ada kenyataan kerja di lapangan.

Kami di sini itu Koperasi Kopi. Untuk pengaturan tentang Koperasi padahal sudah diatur dalam UUD 1945. Kita itu cinta miskin tetapi kita tidak cinta orang miskin.

Kalau saya masuk dalam pemerintahan (PPP), saya nanti akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri. Lebih baik saya bekerja tanpa nama besar dan tanpa pakaian  dinas. Ada berbagai cara untuk datangkan uang, bukan hanya menjadi PNS saja. (Pilemon Keiya/MS)

Penulis : Pilemon Keiya
Sumber :  Majalahselangkah.com

Sumber dicopy dari: PapuaCoffees.com

Categories
Bisnis Kopi

Teh dan Kopi Indonesia Kuasai Pasar Malaysia

Senin , 21 April 2014 02:17 | Ekonomi & Bisnis; 14 April 2014 02:16:47, dari Deiyaikab.go.id

DEIYAI – Indonesia tercatat sebagai pemasok utama produk teh dan kopi di Malaysia dengan pangsa pasar yang terus meningkat, di mana nilainya kini mencapai hingga ratusan juta ringgit dalam setahun.

Dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa tren ekspor teh dan kopi asal Indonesia ke negara ini terus meningkat dengan nilai yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data ekspor teh Indonesia ke Malaysia, pada 2013 mencapai 57,96 juta ringgit (Rp200 miliar) dan ekspor kopi senilai 281,22 juta ringgit (Rp973 miliar).

Pangsa pasar teh Indonesia di Malaysia pada 2013 mencapai 36 persen, diikuti Tiongkok 18,5 persen, India (7,2 persen), Vietnam (7 persen) dan Sri Lanka (5,5 persen). Sedangkan pangsa pasar kopi Indonesia di negara ini sebesar 43,2 persen diikuti Vietnam (32,7 persen), dan Brasil (10 persen).

Besarnya permintaan akan hasil komoditas perkebunan dari sejumlah daerah di Tanah Air ini sejalan dengan terus menjamurnya tempat minum teh ataupun kedai kopi di negara jiran itu.

Teh hitam jenis dust dari Indonesia merupakan produk yang paling dicari karena menjadi bahan pencampur utama bagi produk teh Malaysia.
Sebelumnya, dalam pameran Malaysia International Tea & Coffee Expo (MITCE) yang berlangsung 27-31 Maret di Kuala Lumpur, aneka produk teh dan kopi asal Indonesia juga mendapatkan peminat yang besar.

Contohnya, perusahaan perkebunan milik negara, dalam hal ini PTPN VIII yang ikut serta dalam pameran tersebut berhasil mendapatkan pembelian teh dalam jumlah besar mencapai 290 ton dengan nilai mendekati 600 ribu dolar AS. Marketing Manager PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), Ahmad Kertabumi, mengungkapkan bahwa Malaysia merupakan pasar utama dengan menyerap 23 persen dari total ekspor teh dari perkebunan milik negara ini.

Sementara itu, sebelumnya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Pagaralam sebagai produsen teh telah membangun unit pengolahan teh dengan metode CTC (crushing tearing curling). Tujuan pembangunan unit pengolahan teh CTC itu adalah untuk melakukan diferensiasi produk teh agar dapat memenuhi selera konsumen, termasuk mengincar pasar teh global yang mampu menciptakan produk brand new and different from the others.

Keistimewaan serta keunggulan teh produk PTPN VII Unit Usaha Pagaralam di Sumatera Selatan itu adalah pada rasa dan aroma teh yang unik dan khas. Kekhasan itu diperoleh tidak lain karena letak geografis kebun teh yang berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan dataran tertinggi di Sumsel.

Dalam upaya menciptakan produk yang memenuhi kriteria food grade tersebut, PTPN VII menerapkan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip higienis, dan juga didukung oleh peralatan full automatic processing serta konsultan produk berpengalaman dari India, sehingga menjamin mutu produk terjaga dan bisa memenuhi selera serta memberikan kepuasan konsumen. Beberapa produk CTC yang ada, antara lain mutu I, yakni BP, PF, Dust I, dan untuk mutu II yakni Dust II.

Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dan umum dikonsumsi di dunia. Teh berasal dari China, di mana sekitar abad ke-16 ketika Portugis ke daerah tropis, kolonialnya, maka minuman teh diperkenalkan dan diimpor ke Eropa dan dengan cepat meraih popularitas. Popularitas ini membuat Portugis dan Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan teh skala besar di daerah tropis koloni mereka.

Saat ini, perkebunan teh di Indonesia kondisinya terus menurun diakibatkan karena luas lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang, saat ini 120.000 hektar di mana sebelumnya adalah 150.000 hektar.

Sampai saat ini Indonesia masih berada di peringkat ketiga untuk penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Hasil produksi kopi pada tahun 2012 sebesar 748 ribu ton atau 6,6% dari produksi kopi dunia.

Dalam kurun waktu dari Januari-November 2013 tercatat 32 juta dolar AS dari total 47 juta dolar impor kopi mesir, yakni menguasai 71 persen pangsa pasar dinegeri itu. Namun impor kopi Mesir dari Indonesia pada Januari-November 2013 menurun 9,43 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat 35,32 juta dolar.

Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta mencapai lebih dari mencapai lebih dari 601 ribu ton atau sebesar 80,4% dan produksi kopi arabika mencapai 147 ribu ton atau sebesar 19,6%. Kopi Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.

Indonesia sangat kaya dengan letak geografisnya yang cocok untuk lahan perkebunan kopi. Dengan memiliki luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan arabika 0,30 ha. Dengan demikian industri kopi menjadi salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan.

Beberapa produk kopi yang menjadi andalan bagi penikmatnya ada Gayo Coffee, Mandaling Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee, dan juga Luwak Coffee.

Categories
Bisnis Kopi

Harga Kopi Robusta Diprediksi Naik pada 2014

Kamis , 17 April 2014 00:45 | Ekonomi & Bisnis, Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Harga biji kopi robusta pada 2014 diprediksi akan naik. Itu karena Vietnam yang selama ini menjadi pesaing kopi di pasar kopi robusta dunia, beberapa waktu lalu diserang Topan Haiyan.

“Produksi kopi mereka hancur. Sementara itu produksi komoditas ini diperkirakan mengalami penurunan dibawah 50 persen dibandingkan tahun lalu. Cuaca ekstrem menjadi salah satu faktor penyebabnya,” kata Sunyoto,petani kopi di Way Tenong, Lampung Barat, Kamis (2/1/2014).

Menurut Sunyoto, tahun ini diperkirakan harga kopi robusta lebih bagus lagi dibandingkan tahun 2013. Meski begitu, kata Sunyoto, hingga Januari 2014, harga kopi masih rendah dan fluktuatif.

Pada November 2013 masih berada di kisaran Rp 16.000 /kg di tingkat basis (pedagang besar), sedang di tingkat pedagang pengumpul harga di kisaran Rp 15.000/kg. Namun sekarang harga sudah membaik mencapai Rp18.000 sampai Rp19.700/kg,” kata dia.

Sementara itu, stok kopi di tingkat petani tinggal sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, petani mengandalkan tanaman selang kopi dikebun.

“Stok kopi sekarang di petani tinggal sedikit. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari kedepan kami mengandalkan tanaman selang yang ada di kebun, alhamdullilah bisa menghasilkan 25 kg sampai 50 kg” jelas Sunyoto.

Namun demikian, ada juga beberapa daerah di dataran rendah yang masih memiliki stok kopi yang cukup banyak diantaranya di daerah Ranau, Bukit Kemuning, dan Palembang.

Meski harga kopi robusta diprediksi akan naik, namun tidak demikian halnya dengan produksi kopi. Diprediksi tahun 2014 ini akan mengalami penurunan yang cukup berarti karena curah hujan yang tinggi.

“Kopi lokal nonkelompok tani tahun lalu produksinya bisa mencapai 1,5 ton /hektare sekarang dalam satu hektare hanya sekitar 5 kwintal saja.Untuk mencapai 50 persen produksi tahun ini dibandingkan tahun lalu saja susah mencapainya. Cuaca yang tidak menentu salah satu factor penyebabnya,” ujar Sunyoto.

Menurut Sunyoto curah hujan yang cukup tinggi, petani kopi mengalami kesulitan mengeringkan kopi mereka.

“Di Liwa, Lampung Barat, hujan terus. Petani sulit menjemur kopi. Setengah hari panas, tapi dari siang sampai sore bahkan malam hujan terus,” kata Sunyoto.

Categories
Berita Perusahaan

KSU Baliem Arabica Hadir di Indonesian Coffee Festival 2013

KSU – Koperasi Serba Usaha Baliem Arabica Hadir dalam Festival Kopi Indonesia (Indonesian Coffee Festival) 13-15 September 2013

Menanggapi Undangan resmi dari Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian Departemen Pertanian Republik Indonesia No. 288/TU.22d6.2.4/2013, tertanggal 27 Agustus 2013 perihal “Undangan Business Forum 2013” dengan agenda kegiatan “International Business Forum for Special Product” yang dirangkaikan dengan Indonesian Coffee Festival, maka walaupun terdapa berbagai kekuarangan di sana-sini KSU Baliem AraBICA Distributor Jawa Tengah dan DI Yogyakarta ikut meramaikan kegiatan Festival dimaksud dengan apa yang dapat ditunjukkan kepada pengusaha dan penikmat kopi yang hadir dalam acara ini.

KSU Baliem Arabica dengan trademark produknya Baliem Blue Coffee dan telah mendapatkan perhatian khusus mulai dari kementerian sebagai penyelenggara kegiatan ataupun para pengunjung, dan bahkan para supir yang mengankut pegawai KSU-pun ikut meramaikan kegiatan dimaksud dengan mambawa nama Baliem Blue Coffee. Baliem Blue Coffee hadir dengan Baliho, Standing Banner, Brosur dan Sticker, di mana sticker yang berjumlah 500 potong telah terbagi habis.

Sesuai dengan Keputusan Rapat Umum Anggota Koperasi (RUA) Tahun 2012 untuk memfokuskan penjualan Kopi produksi Koperasi ke pasar domestik dan mengupayakan trademark dan branding BBCoffee sebagai produk unggulan Tanah Papua yang selama ini diperjuangkan oleh KSU Baliem Arabica dengan berbagai upaya perbaikan kinerja dan hasil produksi, maka Kantor Distributor Jawa Tengah dan DI Yogyakarta telah dengan sukses memperkenalkan BBCoffee kepada sejumlah pengusaha dan penikmat kopi di Indonesia.

Dari berbagai diskusi dan pertanyaan disimpulkan bahwa minat masyarakat Kopi Indonesia untuk menikmati Kopi Wamena sangat tinggi dan masa ini ialah masa emas bagi Kopi Papua. Oleh karena itu, perlu disambut oleh pengusaha Kopi di Tanah Papua dengan berbagai upaya meningkatkan mutu produksi dari sisi pemilihan/ sortir Kopi dan pengolahan (processing) produk baik Green Bean, Roasted Bean ataupun Kopi Bubuk Baliem Arabica, disertai perbaikan jenis dan ukuran paket yang dipasarkan.

Kopi Wamena kini berada pada era emasnya, banyak disebut-sebut, banyak dicari-cari, dan banyak yang bertanya-tanya. Dari kementerian sendiri secara gamblang dalam aliea penutup press release sebagai sambutan pembukaan acara ini dinyatakan secara jelas dan tegas:

“…mengingatkan bahwa pentingnya branding bagi kopi asal Indonesia. Kopi Wamena contohnya. Pengamat kopi dunia berpendapat bahwa kopi Wamena adalah salah satu kopi terbaik di dunia. Tiga kata, branding, branding, branding!”

Maksudnya ialah Kopi Wamena harus memiliki merek dagang (Branding) yang jelas dan tegas sehingga Kopi Wamena tidak disebut secara acak sebagai Kopi Papua, Kopi Wamena Papua atau Kopi Wamena, tetapi perlu memiliki branding yang jelas. Sebagai jawabanya KSU Baliem Arabica hadir dengan branding Baliem Blue Coffee, yaitu Blue Coffee kedua setelah Jamaica Blue Mountain Coffee yang terkenal di dunia perkopian.

Dari kesan-pesan dan kesimpulan untuk tindak lanjut (sebagaimana terlampir) dapat dilihat bahwa dari sisi mutu produk Green Bean KSU Baliem Arabica telah banyak dibantu oleh kondisi geografis yang sangat cocok untuk Kopi Arabica sehingga perlu diimbangi dengan kinerja pemrosesan kopi dari pengeringan sampai sortir sehingga terpilih kopi dengan jenis dan ukuran yang bervariasi. Disamping itu perlu diupayakan kemasan yang bervariasi dengan patokan harga yang berdayasaing (tidak terlampau mahal sehingga memberatkan pembeli dan juga tidak terlampau murah sehingga merugikan koperasi).

Dari hasil kegiatan ini juga disimpulkan bahwa para staff distributor KSU Baliem Arabica di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta perlu mengikuti berbagai kegiatan perkenalan dengan Kantor Pusat dan kegiatan-kegiatan terkait dengan kopi seperti kursus, workshop dan sejenisnya sehingga dapat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang cukup agar mampu dimanfatkan dalam dunia usaha Kopi di Tanah Papua, di Indonesia dan di dunia.

Update Kegiatan 13-15 September 2013

Dicopy dari PAPUACoffees.com

Categories
Cerita Kopi

Kopi Papua Wamena, Beda Teknik Seduh Beda Rasa

KOMPAS.com – Bagi penikmat kopi, pastinya sangat menginginkan rasa kopi yang sebisa mungkin memiliki variasi. Sebenarnya Anda bisa mendapatkan rasa kopi yang beda dari biji kopi yang sama, rahasianya ada pada teknik menyeduh.

Biasanya, banyak orang memilih teknik seduh praktis, yakni memasukkan kopi dalam cangkir, lalu diseduh dengan air mendidih. Abud, bagian research and development Djournal Coffee mengatakan, setidaknya ada tiga teknik seduh kopi lainnya yang bisa digunakan. Ketiganya yakni pour over, syphon dan cold drip.

“Masing-masing teknik seduh kopi, menggunakan gadget atau bentuk alat yang juga berbeda,” ujar Abud, saat ditemui di Djournal Coffee, Grand Indonesia, Rabu (11/9/2013).

Pour over, kata Abud merupakan teknik lama yang sekarang menjadi tren. Kopi disaring dengan filter kertas yang mengerucut. Dengan alat ini, beda cara menuang akan melahirkan rasa yang berbeda. Begitu juga dengan filternya, bisa dibasahi terlebih dahulu bisa juga tidak. Lagi-lagi setiap langkah akan membuat rasa kopi berbeda. Untuk pour over, durasinya merentang antara dua sampai tiga menit.

Teknik seduh kedua, ada syphon. Bentuknya seperti vacuum pot, yang terdiri dari dua gelas, dengan posisi atas dan bawah. Bagian atas tempat menuangkan kopi, sementara itu bagian bawah menjadi sumber pemanasnya. Kopi dituangkan setelah air yang ada di bagian atas tampak sudah mendidih. Durasinya cukup 40 detik dan setelah pemanas dimatikan, kopi dengan sendirinya turun ke bagian bawah.

Sementara, teknik seduh kopi ketiga ada cold drip. Bentuknya menjulang dengan ukuran lebih besar. Durasi pembuatan bisa berlangsung 8 hingga 10 jam, tapi dengan kapasitas yang bisa mencapai 10 cangkir kopi.

Untuk rasanya, kopi dengan teknik seduh pour over memiliki rasa lebih kuat dibanding syphon yang lebih ringan. Sementara cold drip dengan rasa dingin, ibarat menikmati wine, rasanya menjadi lebih unik, minumlah dan kumpulkan di dalam mulut, kemudian dalam hitungan menit tenggorokan pun akan terasa hangat.

“Bagi mereka penikmat kopi, tiga teknik ini menjadi sensasi tersendiri, dan di sini mereka bisa melihat prosesnya langsung,”

ujar Christine Utomo, asisten brand manager Djournal Coffee.

Ketiga teknik tersebut bisa diimplementasikan pada kopi arabika yang berasal dari Papua Wamena. Selain itu, ada Djournal Daily dan Toraja Kalosi untuk pour over dan syphon, serta kopi enrekang untuk cold drip.

Penulis : Rahman Indra
Editor : D. Syafrina Syaaf
Kamis, 12 September 2013 | 07:26 WIB,  Female Kompas.com

Dicopy Ulang dari: PAPUACoffees.com

Categories
Berita Perusahaan

BBCoffee Punya Penyalur Resmi di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta

Dengan ini diberitahukan kepada seluruh penikmat kopi, kafe dan restoran penyaji kopi khususnya di Pulau Jawa bahwa Koperasi Baliem Arabica dengan merek dangan kopinya BBCoffee kini telah memiliki distributor resmi untuk Jawa Tengah dan DI Yogyakarta.

Untuk sekarang Distributor untuk Jawa Tengah dan DI Yogyakarta menyediakan kopi dengan rincian harga sbb.:

  1. Green Bean Kopi Baliem Arabica – 500 gram [Rp.90.000,-]
  2. Green Bean Kopi Baliem Arabica – 1 kg [Rp.150.000,-]
  3. Roasted Bean/ Sangrai Kopi Baliem Arabica 250 gram [Rp. 60.00,-]
  4. Roasted Bean/ Sangrai Kopi Baliem Arabica 500 gram [Rp. 100.00,-]
  5. Roasted Bean/ Sangrai Kopi Baliem Arabica 1 kg[Rp. 170.00,-]
  6. Kopi Bubuk BBCoffee– 150 gram [Rp. 50.00,-]
  7. Kopi Bubuk BBCoffee– 250 gram [Rp. 60.00,-]
Categories
Cerita Kopi

Kopi Wamena setara dengan kopi kelas dunia

Blue Mountains coffee adalah salah satu kopi terbaik di dunia yang terkenal dengan karakter good acidity, intense aroma, fairly good body, clean. Ditanam di area perbukitan di bagian timur pulau Jamaika bernama Blue Mountains, perpaduan kondisi tanah, curah hujan, dan temperatur yang sesuai menghasilkan kopi berkualitas tinggi dengan rasa menawan.

Menurut sebuah sumber, Indonesia memiliki daerah penghasil kopi yang kualitasnya setara dengan Blue Mountains Coffee yaitu Wamena di Papua. Hal ini dimungkinkan karena menurut sumber tersebut bibit kopi yang ditanam dari Papua berasal dari Blue Mountains yang dibawa oleh orang Belanda pada jaman kolonial.

Saya tidak begitu peduli pada keabsahan cerita tersebut. Saya sendiri belum pernah mencoba merasakan kopi dari Blue Mountains, namun buat saya kopi Papua Wamena adalah kopi terfavorit. Entah apakah kopi ini bisa mewakili rasa Blue Mountains coffee yang legendaris itu atau tidak.

Salah satu kedai kopi tempat saya mampir untuk menikmati Papua Wamena adalah Rumakopi di Jl. Suryo 20 lt. 2, Jaksel. Beda kedai kopi bisa beda rasa Wamena-nya. Dan Rumakopi menyajikan rasa kopi Papua Wamena yang pas untuk saya

Sumber : tukangkopi.com