Merdeka.com – Bagi Anda penikmat kopi pasti tak asing lagi dengan Hawaian Cona, Panama Gheisha atau Blue Montain. Tiga kopi mendunia ini menjadi primadona di kalangan para penikmat kopi.
Namun, tahukah Anda, bahwa ada tiga jenis kopi yang tak kalah mendunia asal Indonesia? Adalah Sumatra Mandailing, Java Mocca dan Toraja Kalofi, tiga jenis kopi yang namanya sudah dikenal penikmat kopi dunia. Ketiga kopi ini memiliki karakteristik yang berbeda dan sulit ditemukan di luar Indonesia.
“Indonesia kaya akan jenis kopi. Karakter dan kepribadian dari tiap jenis kopi di Indonesia itu berbeda-beda,” kata Asosiasi Ekspor-Impor Holikultura Indonesia Kafi Kurnia saat berbincang dengan merdeka.com, Jumat (22/1).
Sebagai pencinta kopi ia tahu benar rasa dari jenis-jenis kopi yang mendunia. Misalnya Toraja Kalofi. Jenis kopi ini memiliki rasa yang mirip dengan kopi asal Hawai, Hawaian cona. Rasa lembut dari kopi arabika ini digandrungi pecandu kopi asal jepang.
Seiring perkembangan waktu, kini muncul jenis kopi baru yang dikenal dengan single origin. Jenis kopi ini sangat spesifik dari suatu daerah yang tidak dicampur dengan jenis kopi lainnya. Misalnya Blue Lintong dari Sumatera Utara, Bali Kintamani dari Bali dan Papua Wamena dari Papua.
“Sesuai namanya, Blue Lintong, blue itu darah biru jadi kopi ini kopi ningrat. Kalau Bali Kintmani dikenal dengan endnote yang rasa diujung kopinya seperti rasa coklat,” cerita Kafi.
Berbagai kopi mendunia ini memang memiliki harga yang cukup menguras kantong. Namun cukup sebanding dengan cita rasa yang dihasilkan. Semakin langka kertersediaan suatu jenis kopi justru menjadi semakin dicari penikmat kopi. Artinya eksotisme karakteristik dan kepribadian kopi menjadi kunci dari harga secangkir kopi. Meskipun, tangan seorang barista juga tak bisa dipungkiri memegang peran vital dalam meracik secangkir kopi mahal.
Baginya, sudah sepatutnya pemerintah mematenkan Indonesia sebagai Surga Kopi Dunia. Sayangnya, pemerintah gagal dalam memanfaatkan momentum tersebut untuk mendeklarasikan surganya kopi itu di Indonesia.
“Kalau saja jadi pemerintah, saya akan bangun museum kopi Indonesia. Kita punya jenis-jenis kopi yang banyak variaetasnya,” tandasnya.
RMOL. Kedutaan besar Republik Indonesia (KBRI) Oslo bekerja sama dengan Yayasan GreenIndonesia dan Norwegian Coffee Association (NCA) memperkenalkan 4 jenis kopi arabika kepada ekspertise kopi Norwegia di kantor NCA, Oslo, Selasa (19/1).
Kopi-kopi yang diperkenalkan arabika jenis single origin yang dihasilkan para micro roaster dari kebun petani-petani kecil di bawah jejaring Yayasan GreenIndonesia, organisasi yang berupaya membantu pemerintah dalam mengangkat kesejahteraan hidup masyarakat kecil. Kopi-kopi yang dimaksud yaitu Arabica Java Preanger (GreenIndonesia), Arabica Mandailing (GreenIndonesia), Arabica Mt. Arjuna (Javaroma), danArabica Garut (Mahkota Jawa Coffee).
Duta Besar RI untuk Norwegia di Oslo Yuwono A. Putranto, seperti diinformasikan Fungsi Pensosbud KBRI Oslo, menyampaikan acara promosi kopi ini mendapatkan perhatian yang cukup spesial dari pelaku industri kopi di Norwegia.
“NCA sebagai tuan rumah kegiatan memberikan dukungan yang besar. NCA juga telah membantu menghadirkan wakil-wakil dari perusahaan, importir, coffee house papan atas Norwegia (diantaranya COOP, Solberg&Hansen, Kaffebreniet, Pals dan DGB), serta para pakar kopi lainnya,” kata Yuwono.
Chairman NCA Marit Lynes mengatakan tingkat kehadiran para pakar kopi di Norwegia pada acara promosi kopi Indonesia ini lebih besar dari dua kegiatan terakhir, yaitu kopi Brasil dan kopi Ethiopia. Faktor utamanya adalah sentimen ‘kerinduan’ atas kopi Indonesia yang pernah menjadi salah satu ‘raja’ di Norwegia, namun saat ini market share-nya hanya sekitar 1% dan bahkan kopi Vietnam berhasil mencapai sekitar 2% pasar kopi Norwegia.
Selain itu, Marit menyampaikan mengenai banyaknya keinginan untuk mencoba kopi dengan cita rasa lain dari kopi yang saat ini mendominasi Norwegia, yaitu dari Brasil, Kolombia, Peru dan Ethiopia.
Hasil dari coffee cupping adalah kesamaan pandangan akan keunikan rasa yang berbeda-beda antara jenis yang satu dengan lainnya. Hal ini dinilai sebagai satu kekuatan atau potensi besar untuk mengemas kopi Indonesia tersebut sebagai artisanal coffee di pasar Norwegia. Namun demikian, diamati bahwa cita rasa tersebut belum dibarengi dengan kecantikan penampilan dari biji kopi. Masih diperlukan upaya serius untuk meningkatkan packaging dan branding dari kopi Indonesia tersebut.
Wakil dari perusahaan Solberg &Hansen dan pakar kopi Alf Kramer terketuk untuk mendalami dan menawarkan pendapat ahlinya guna mengembangkan kesamaan kualitas antara rasa dan penampilan.
Perkenalan kopi Indonesia ke publik Norwegia ini merupakan salah satu upaya untuk menggenjot ekspor kopi ke Norwegia. Bagi KBRI Oslo, upaya promosi ini dapat dijadikan sebagai kegiatan awal bagi upaya promosi dan penetrasi kopi Indonesia di pasar Norwegia, tutur Dubes Yuwono.
Norwegia merupakan pasar kopi spesial,dengan masyarakatnya merupakan peminum kopi terbanyak per kapita nomor dua di dunia. Pasar Norwegia selalu memburu kopi-kopi dengan kualitas terbaik, dan kopi Indonesia dengan cita rasa uniknya mempunyai potensi yang sangat besar. Namun demikian, upaya untuk menembus pasar Norwegia yang sangat strictini perlu dibarengi dengan peningkatan sinergi antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah dan Perwakilan RI di luar negeri.[dem]
Sejak tahun 2007, KSU Baliem Arabica didirikan, dan bergiat dalam memproduksi kopi biji hijau.
Sejak tahun 2009, hasil kerja keras Ketua Koperasi Baliem Arabica, Ev. Selion Karoba, S.Th. sudah menunjukkan bukti, yaitu pertama kali produk Asli dari Tanah Papua, olahan anak Asli Tanah Papua, diekspor ke pasar internasional. Sejak ekspor itu, maka KSU Baliem Arabica menjadi anggota Exportir Kopi Indonesia sampai saat ini.
Walaupun sejak 2014, yaitu Jhon Yonathan Kwano bergabung ke dalam bisnis Kopi Papua sebagai Kepala Unit Sales & Marketing dari Kopi Papua diupayakan agar Kopi Grade A, B, C dan D semuanya dijual di Indonesia dan di Tanah Papua.
Hasilnya pada tahun 2015 semua kopi produk KSU Baliem Arabica dijual di Indonesia sebagai Biji Hijau dan di Tanah Papua dalam bentuk Kop Bubuk dengan nama Baliem Blue Coffee Papua.
Menyusul kemajuan ini, maka pada awal bulan Desember 2015 telah dirintis sebuah kerjasama magang dan pelatihan bersama The Jakarta Coffee House di Jl. Cipete Raya No. 02, Jakarta Selatani. Easter P. K. Tawy dan Minus Rad Kwano saat ini sedang mengikuti magang dimaksud. Silahkan lihat clip Video ini:
Sebagaimana diberitakan oleh PAPUAmart.com dalam blognya, Kopi Papua, pertama-tama Wamena Single Origin kini telah tersedia di Gudang PAPUAmart.com atau Gudang Kopi Papua di Jakarta dengan alamat lengkap berikut:
Jl. Muhammad Kahfi no. 1
Gg, Nila No. 75
Kel. Ciganjur
Kec. Jagakarsa
Jakarta Selatan
SMS: 0856-9135-0287 (Mas Gito) / WA: 085769223000 (Jhon Kwano)
Harga Kopi yang kami sediakan di Jakarta per kg Green Beans ialah Rp.130.000,-
Anda dapat membelinya sebanyak 1 kg – 599 kg dengan harga Rp.130.000,-
Kami berikan harga khusus untuk pembelian lebih dari 600 kg.
Dengan ini maka kami berharap para tengkulak yang telah lama menipu dengan memanipulasi dan mencampur kopi sembarangan lalu memberi nama “Kopi Papua” dapat kami hentikan dan kami maju memperbaiki nama “Kopi Papua” sebagai Kopi Specialty yang memiliki citarasa tersendiri dan unik.
Indonesia mendapat julukan baru, Surga Kopi Dunia atau The World Coffee Heaven. Julukan itu disematkan kepada Indonesia pada acara ekshibisi ke-27 Specialty Coffee Association of America di Seattle, Amerika Serikat, pada 9—12 April 2015.
Sebutan yang sangat istimewa dan tentu saja tidak sembarangan. Apalagi, SCAA adalah tempat berkumpulnya komunitas kopi khusus paling besar dan berpengaruh di Negeri Paman Sam serta dunia. Sejak didirikan pada 1982, asosiasi ini telah memiliki jaringan anggota yang tersebar di 40 negara.
Di sisi lain, AS termasuk salah satu pangsa pasar utama kopi Indonesia. Data statistik Biro Sensus Departemen Perdagangan AS menyebutkan impor kopi AS dari Indonesia sepanjang tahun lalu mencapai US$323,10 juta. Nilai impor itu meningkat US$32,76 juta atau 11,29% dibandingkan dengan 2013 sebanyak US$290,34 juta.
Komunitas kopi khusus itu menyematkan julukan Surga Kopi Dunia setelah melihat varian kopi dari Indonesia. Pada ekshibisi itu, Indonesia berhasil memikat komunitas dengan sajian 39 varian kopi khusus terbaik dari berbagai tempat di Tanah Air.
Kopi-kopi ini disajikan di Indonesian Café di Paviliun Indonesia setiap hari selama acara SCAA berlangsung. Mereka antara lain Flores Arabica Manggarai, West Java Arabica Preanger ‘Malabar Moun tain’, Sulawesi Arabica Toraja ‘Toarco-PB’, Sumatra Arabica Wahana Natural, Flores Arabica ‘Blue Flores’, Bali Arabica ‘Kintamani Natural’, Sumatra Arabica ‘Lintong Boemi Coffee’, Sumatra Arabica ‘Solok Minang’, dan Sumatra Arabica Gayo ‘Retro’.
Selain kopi, pada acara itu pula Indonesia memutar Aroma of Heaven, sebuah film dokumenter besutan sutradara Budi Kurniawan yang mengisahkan tentang perjalanan kopi Nusantara.
Adegan petani kopi di Takengon, dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah, membuka film berdurasi 3 menit 45 detik itu. Sang sutradara pun membawa penonton ke Flores untuk menyaksikan kopi bajawa.
Terlihat bagaimana tanaman kopi tumbuh di berbagai tempat dengan kebudayaan berbeda, dan bagaimana para petani mencintai komoditas yang ditanamnya.
Siapa yang tidak kenal kopi, si “emas hitam” yang beraroma wangi dan menggugah selera ini? Kopi pertama kali dibawa ke Nusantara oleh kongsi dagang Be landa, VOC pada pertengahan abad ke-16.
Sejak itu, penduduk di negeri ini membudidayakan kopi sehingga tersebar ke berbagai wilayah. Mulai dari Aceh, Toraja, Flores, Jawa, hingga Papua.
Di negeri ini, setiap wilayah berbeda menghasilkan kopi dengan karakteristik berbeda pula, baik dari sisi tingkat keasaman aroma dan cita rasa. Rasa dan aroma kopi di dataran tinggi Gayo, misalnya, tidak akan sama dengan rasa dan aroma kopi Kintamani.
Karakteristik kopi Toraja juga tidak sama dengan karakteristik kopi Jawa. Belum lagi kehadiran kopi unik yang menjadi kopi paling mahal di dunia,
yakni kopi luwak.
Keunikan dan kekayaan inilah yang menjadi nilai tambah Indonesia saat mengekspor dan memperkenalkan biji kopinya kepada dunia. Baik kopi jenis robusta maupun arabika asal negeri ini selalu mengalami kenaikan permintaan.
Total ekspor kopi dari Indonesia pada 2014 mencapai US$1,1 miliar. Pemerintah menargetkan nilainya dapat tumbuh tiga kali lipat menjadi US$3,3 miliar pada 2019. Sebuah target yang patut di apresiasi, meskipun bukan hal mustahil.
Apalagi, mengingat realisasi ekspor kopi nasional sepanjang 2008—2013 yang berfluktuasi dari angka US$1,08 miliar (2008), turun menjadi US$929,82 juta (2009), naik kembali ke angka US$983,99 (2010), dan sempat bertengger pada angka US$1,56 miliar (2012).
Hanya saja, yang perlu mendapatkan perhatian adalah, kopi yang bagaimana dan dalam bentuk apa yang akan menjadi andalan ekspor? Apakah dalam bentuk mentah seperti yang sudah-sudah? Ataukah dalam bentuk produk bernilai tambah lebih, seperti biji yang sudah dipanggang
atau bahkan kopi bubuk?
Kemudian, apakah semua kopi dengan kualitas terbaik yang akan dilempar ke pasar luar? Sementara itu, hanya sedikit kopi berkualitas top yang disisakan untuk konsumsi pecinta kopi di dalam negeri?
Jangan lupakan, selain masyarakat global, kopi Indonesia juga digemari pecinta kopi di tataran nasional. Terbukti dari tingkat konsumsi kopi nasional yang terus tumbuh dari 0,8 kg per kapita per tahun pada 2010 menjadi 1,03 kg per kapita per tahun pada 2014.
Pada tahun depan, tingkat konsumsi kopi nasional diperkirakan menyentuh 1,1 kg per kapita. Tentu, sebuah ironi apabila penduduk Surga Kopi Dunia ini tidak dapat mencecapi kopi berkualitas terbaik di negeri sen diri karena sudah habis untuk diekspor.
SERAMBINEWS.COM, JAKARTA – Kekeringan yang melanda Brasil, salah satu negara produsen kopi dunia ditelah mengerek harga kopi dan akan terus mendorong kenaikan harga di pasar global. Asosiasi Eksportir dan Industri Kopi Indonesia (AEKI) memprediksi tren kenaikan harga akan berlanjut hingga enam bulan ke depan.
Pranoto Soenarto, Ketua Kompartemen Industri dan Spesialti Kopi AEKI menuturkan, dalam tiga pekan terakhir harga kopi naik cukup signifikan gara-gara kondisi di Brazil tersebut. Kenaikan harga kopi itu terjadi baik untuk jenis kopi arabika maupun kopi robusta. “Naiknya harga kopi internasional juga berpengaruh pada harga kopi Indonesia,” jelasnya kepada KONTAN Senin (10/3/2014).
Pranoto bilang, saat ini harga kopi arabika ada di kisaran US$ 4 per kilogram (kg), naik 81,8% ketimbang tiga pekan lalu yang ada di kisaran US$ 2,2 per kg. Sedangkan harga kopi robusta saat ini ada di kisaran US$ 2,1 per kg, naik 31,25% dari tiga pekan yang lalu yang ada di kisaran US$ 1,6 per kg.
Pranoto memperkirakan, dalam enam bulan ke depan harga kopi arabika akan mencapai US$ 5 per kg. Sementara untuk harga kopi robusta diprediksi bakal terkerek ke kisaran US$ 2,5 per kg.
Saimi Saleh, Presiden Direktur PT Indokom Citra Persada bilang, fluktuasi harga kopi sangat dipengaruhi oleh hasil panen di negara produsen kopi dunia. Selain itu kondisi ekonomi global seperti adanya perlambatan ekonomi di Eropa dan Amerika juga turut berpengaruh terhadap permintaan kopi.
Seperti dikutip Bloomberg pekan lalu, cuaca kering dan panas melanda Brasil yang merupakan salah satu sentra produksi kopi pada Januari hingga Februari lalu. Kondisi tersebut diperkirakan bakal berdampak pada produksi kopi dunia di dua tahun ini, yaitu 2014 – 2015.
Mengenai Indonesia sendiri, menurut data Kementerian Pertanian, realisasi produksi kopi 2013 mencapai 670.000 ton, naik 1,97% dari 657.000 ton di tahun 2012. Sementara itu, secara global produksi kopi dunia untuk periode 2013-2014 sekitar 526,77 juta ton, turun dari periode 2012-2013 sekitar 542,56 juta ton.
Tahun ini AEKI memperkirakan produksi biji kopi nasional sekitar 480.000-500.000 ton. Jenis produksi kopi Indonesia ini terdiri dari 75% merupakan jenis kopi robusta, dan sekitar 25% kopi arabika. Sementara itu, ekspor kopi Indonesia tahun ini diperkirakan sama seperti tahun lalu yang sekitar 400.000 ton.
Selama ini Indonesia mengekspor kopi ke lebih dari 80 negara. Diantaranya, Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Belgia, Italia, Inggris, Afrika, Timur Tengah, dan negara-negara ASEAN seperti Filipina, Malaysia dan Singapura.
JIKA Anda penikmat kopi dan penggemar musik jazz, datanglah ke kafe Intro Jazz di BSD, Serpong, Tangerang Selatan, Banten. Di kafe ini, setiap Jumat malam dan Sabtu malam, pengunjung dapat menikmati pertunjukan musik jazz yang dimainkan berbagai komunitas dan grup jazz berganti-ganti.
Sabtu (4/10/2014) malam lalu, grup jazz yang terdiri dari Cendy Luntungan, Aga Hamzah, Happy Pretty, dan Gomez tampil di tempat ini. Malam itu mereka membawakan lagu-lagu di antaranya “As Time Goes By” dan “Just The Two of Us”.
Kehadiran kafe khusus jazz yang dibuka satu pekan sebelum Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tentu saja disambut gembira oleh penggemar jazz. “Sudah lama saya mencari kafe khusus jazz. Saya gembira menemukan kafe ini,” kata Andin, seorang pecinta musik jazz. Andy Noya, “host” program Kick Andy di Metro TV juga pelanggan tetap kafe ini.
Direktur Operasi Intro Jazz Cafe & Bistro, Ivan Tanuwijaya, mengungkapkan, dia dan 12 mitra pemilik kafe ini memilih konsep kafe jazz karena bertujuan ingin memajukan jazz di Indonesia.
“Kami tahu ini tidak mudah karena jazz bukanlah musik sehari-hari yang disukai banyak orang. Biasanya kafe jazz tidak tahan lama dan terpengaruh musik lain. Tapi kami yakin kafe jazz di Serpong ini akan berkembang,” cerita Ivan. Di Serpong sendiri, sudah berkembang komunitas jazz BSD.
Pada awalnya Ivan dan kawan-kawannya hanya ingin menyediakan kopi. Tetapi kemudian mereka berpikir perlu menyediakan juga mocktail dan makanan. Yang menarik, semua kopi yang disediakan di Intro Jazz berasal dari Papua. “Kami menggunakan kopi Papua karena ingin mempromosikan Papua sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani kopi Papua. Selain itu, kopi Papua lebih organik, rasanya fruity, dan diambil langsung dari hutan,” jelas Ivan.
Ivan yang menyelesaikan kuliah di Amerika Serikat dan bekerja di sana selama 12 tahun itu, bermimpi, suatu hari Intro Jazz menjadi basecamppemain-pemain jazz di Indonesia, seperti klub-klub jazz Blue Note di Tokyo, Jepang, atau Baked Potato di Los Angeles, Amerika Serikat. “Ada rasa bangga bila bermain di klub jazz itu. Kami berharap siatu hari Intro Jazz mencapai itu,” ungkap Ivan.
Dia juga merencanakan mengajak pemain jazz internasional bermain di Intro Jazz agar menjadi bagian edukasi bagi pemain-pemain jazz Indonesia.
Atmosfer Kafe Intro Jazz seperti gudang, tak ada pembatas dan plafon. Yang ada hanya foto-foto para pemain jazz terkenal yang dipajang di sekeliling kafe yang dipinjamkan jazzer Ireng Maulana. Foto-foto pemain jazz dunia itu mulai dari George Benson, Al Green, Wynton Marsalis, Herbie Hancock, Candy Dulfer, Pat Metheny, John Scofield, sampai Miles Davis.
Makanan
Suasana nge-jazz di kafe ini diimbangi dengan makanan yang disajikan, kombinasi makanan Indonesia dan barat. Salah satu yang terkenal adalah Fat Man Burger 750 gram. Burger setebal itu biasanya dihabiskan oleh empat sampai delapan orang. Makanan barat lainnya yang digemari tamu yaitu Sirloin. Daging empuk ini diimpor khusus dari Amerika Serikat.
Adapun makanan Indonesia yang dicari pengunjung adalah ayam panggang madu dan mi tek-tek. Makanan-makanan ini hasil racikan chef yang “dibajak” dari sebuah hotel bintang empat di Jakarta.
Meskipun masih baru, kafe ini sudah menjadi tempat nongkrong dan hang-out para mahasiswa di kawasan Serpong, mulai dari Swiss German University, Universitas Multimedia Nusantara, sampai Universitas Pelita Harapan. “Keunggulan kami adalah akses internet yang cepat,” kata Ivan.
Intro Jazz Cafe & Bistro berlokasi di kawasan CBD BSD, di antara McDonald’s dan Lembur Kuring, di belakang Giant BSD. Akses ke BSD saat ini makin cepat dan mudah setelah jalan tol JORR W2 beroperasi. Penggemar jazz dari Tangerang, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Timur dan Bekasi, lebih cepat mencapai lokasi ini.
Sorong – Ada yang menarik dari Sorong, Papua Barat. Di sana, ada kopi yang bernama cukup unik yaitu Kopi Senang. Seperti apa kopi tersebut, ini kisahnya!
Lain timur lain barat. Di Aceh, masyarakat dan wisatawan pada umumnya suka berkumpul sambil minum kopi. Itu sebabnya, di Indonesia bagian barat ini, banyak warung kopi yang mudah ditemukan di tepi jalan.
Kondisi tersebut kontras dengan Kota Sorong yang ada di Indonesia bagian timur. Hampir di sepanjang jalan yang ada di kota, jarang terlihat kedai kopi. Satu-satunya warung kopi yang terlihat adalah Phoenam, cabang dari Makassar.
Minum kopi sambil ngobrol berjam-jam mungkin belum sepenuhnya jadi budaya kuliner masyarakat di pulau Kepala Burung ini. Tapi saya penasaran untuk mencicipi kopi setempat. Hampir semua yang saya tanya merekomendasikan Kopi Senang yang memang populer.
Maka bertandanglah detikTravel bersama rombongan dari Kemenparekraf ke rumah produksi sekaligus pemasaran Kopi Senang pada pekan lalu. Perjalanannya hanya sekitar 15 menit dari Hotel Mariatt di pusat kota. Begitu tiba di pintu gerbang bangunan tiga tingkat itu, kami disambut aroma kopi yang sedap.
“Di Sorong hanya ada kami satu-satunya produsen kopi,” kata pemilik Kopi Senang, Pak Budi yang berumur 53 tahun.
Melihat ada potensi bisnis, pria Tionghoa asal Padang ini mulai mendirikan rumah pengolahan kopinya pada tahun 1985. Sorong bukanlah wilayah penghasil kopi. Bahkan, hampir tak ada perkebunan kopi di daerah ini. Tapi Budi tak habis pikir dan memutar otak untuk mencari biji kopi. Dia berkeliling “mengimpor” kopi Robusta dari berbagai daerah yang memang terkenal punya kopi enak.
“Sorong tak ada kopi, jadi kita keliling cari kopi. Mulai dari Sulawesi, Sumatera Utara, Lampung, sampai Manokwari. Kita ambil biji mentah kualitas ekspor lalu mengolahnya di sini,” lanjut Budi saat ditemui di kantor sekaligus kediamannya.
Perpaduan biji kopi dari berbagai daerah membuat aroma kopinya sungguh harum. Namun menurut beberapa penikmat kopi, citarasa kopi Senang masih kalah dibanding dengan hasil racikan biji kopi yang tumbuh di Papua seperti kopi Moanemani, Pogapa, dan Amungme Gold.
Meski begitu, kerja keras Budi tak sia-sia. Sasarannya sejak awal memang ingin memasyarakatkan budaya ngopi di Papua Barat, sekaligus membidik pasar wisatawan. Kopinya kini tenar di kalangan masyarakat Papua, bahkan hingga ke pedalaman dan pesisir.
“Pasar kita Sorong, Papua dan sekitarnya. Tapi kopi kita juga sampai ke Sumatera dan Jawa sebagai oleh-oleh khas,” ujarnya.
Lalu kenapa namanya ‘Senang’? Sambil terkekeh, Budi mengatakan nama tersebut punya cerita tersendiri. Saat memutuskan merantau ke Papua Barat, Budi dan istrinya ingin berbisnis kopi. Mereka lalu bercerita kepada orangtua mereka.
“Orangtua saya cuma bilang, ‘oke bisnis kopi itu bagus juga, semoga bisa bikin senang ya’. Saat mau memberi nama merek, saya terpikir untuk membuat ‘Senang’ karena mudah diingat. Sekarang memang kopi ini bikin kami senang dan orang yang meminumnya pun mudah-mudahan bisa senang,” ujarnya sambil memasukkan kopi pesanan kami ke dalam boks karton.
Sayangnya, Budi belum menyediakan kafe atau kedai di tokonya. Dalam waktu dekat dia berencana mendirikan warung tempat para wisatawan bisa bersenang-senang menikmati Kopi Senang. Kita lihat saja nanti.
Sumber Berita: travel.detik.com/read/2013/10/07/091902/2379498/1519/2/kisah-unik-kopi-senang-dari-sorong-papua
Kalau saya masuk dalam pemerintahan, saya akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri”
Dogiyai, MAJALAH SELANGKAH — Mantan Gubernur Papua, Barnabas Suebu pernah menyebut Papua sebagai ‘si cantik yang sedang tertidur lelap’. Pantas, sebutan itu dialamatkan kepada pulau ini karena ia berbentuk burung dan memiliki panorama yang indah.
Ia juga memiliki kekayaan alam yang berlimpah (flora, fauna dan aneka tambang, pariwisata, hutan, kebudayaan, hasil perkebunan dan tentu saja luas wilayah dengan letaknya yang strategis.
Kopi adalah salah satu hasil perkebunan di Papua, khususnya di pegunungan yang dikenal banyak orang. Pegunungan di bagian Timur kita kenal Kopi Wamena dan pegunungan bagian barat kita kenal Kopi Moanemani. Kopi dikenal luas karena murni, 100% organic. Produk kopi dari dua daerah ini diekspor hingga keluar negeri.
Bagaimana kisah kopi Moanemani?
Kopi Moanemani dikelola oleh salah satu putra terbaik Papua, Ir. Dominikus Tebay. Ia memilih kembali ke kampung halamannya (Kampung Mauwa) untuk kelola potensi yang ada di pegunungan Mapiha dan Lembah Kamuu (kopi), kini Kabupatem Dogiyai setelah menyelesaikan pendidikan pertanian di negeri Belanda.
Ketika itu, kehadirannya member warna baru bagi masyarakat. Ia membangkitkan rakyat dengan potensi yang ada di sana dengan membuat perusahaan kopi dan mengajarkan berbagai ketrampilan di bidang pertanian, perkebunan dan peternakan kepada masyarakat.
Tapi, waktu terus berjalan dan zaman berubah, semua yang ia ajarkan itu kini tinggal kenangan. Program-program instan dari pemerintah dan akses pasar yang sulit membuat warga di sana, pelan-pelan meninggalkan semua yang telah diajarkan Ir Tebay, cara menanam, merawat, panen, dan lainnya.
Tempat produksi kopi yang dikenal P5 itu telah lama redup. Selain karena larangan bantuan luar negeri oleh negara, juga karena masyarakat tidak lagi menanam dan merawat kopi yang dimilikinya sebagai bahan mentah. Koperasi Kopi Moanemani (P5) yang beralamat Jalan Kimuupugi, Kampung Kimupugi, Moanemani, Kab. Dogiyai itu kini hanya diproduksi dalam jumlah terbatas.
Nama besar P5 yang dikenal luas sejak puluhan tahun itu kini hampir tidak terdengar. Ironis, Kabupaten Dogiyai yang merupakan pusat produksi kopi justru dibanjiri kopi olahan dari luar yang dibawa oleh para pedagang dari Bugis.
Pemerintah Kabupaten Dogiyai yang sudah lebih dari 5 tahun hadir itu belum memperlihatkan komitmennya untuk hidupkan kembali Kopi Moanemani sebagai produksi unggulan.
Melihat kondisi ini, beberapa waktu, reporter majalahselangkah.com menemui Ir. Dominikus Tebay di koperasi P5. Berikut petikan wawancara bersamanya.
Selamat pagi Bapak, senang bisa bertemu dengan Bapak. Bapak, usaha kopi ini, Bapak mulai sejak kapan?
Saya mulai usaha kopi ini sudah puluhan tahun. Tidak ada modal pada awalnya, saya mulai bermodalkan ‘komitmen’. Saya memulai dengan membuka koperasi kopi. Karena di sini ada potensi kopi.
Apakah kondisi saat ini masih sama seperti dulu?
Menurut pandangan saya, memang ada perubahan. Khusus untuk di bidang penanaman dan penjualan kopi di Kamuu sudah ada perubahan.
Setelah hadirnya kabupaten, ada berbagai tawaran kerja/borongan yang sangat menjanjikan untuk mendapatkan uang lebih besar dari menjual kopi. Kalau sebelum masuknya pemerintahan, waktu hanya masih distrik itu, kopi merupakan salah satu kerja yang paling laris buat masyarakat Kamuu di mana dengan cepat mendapatkan uang melalui penjualan kopi. Sekarang keadaan sudah terbalik.
Kopi semakin terkenal (mungkin karena juga kehadiran pemerintah) di mana-mana bahkan hingga di luar negeri tetapi orang yang membudidayakan kopi (buah kopi dikebun) sudah mulai tidak ada, padahal waktu masih distrik banyak orang yang sangat antusias untuk menjual kopi bahkan hingga setiap kampung ada kebun kopi.
Dulu kopi belum terkenal banyak masyarakat yang menjual, sekarang kopi terkenal, antusias masyarakat terhadap mulai kurang bahkan terancam tidak ada. Nama sudah mulai besar, peminat tambah banyak tetapi yang tanam kopi mulai tidak ada.
Apakah masih ada masyarakat yang masih tanam kopi sekarang?
Saya melihat masih ada yang tanam, tetapi tidak bisa saya pungkiri, tidak seramai dulu. Fakta bahwa, kopi masih dipegang oleh generasi tua yang sudah biasa bawa ke sini dari dulu. Belum ada generasi muda yang saya lihat secara serius untuk usaha kopi di tiap kampung.
Saya berharap harus ada “Pahlawan Kopi” di lembah Kamuu ini. Saya juga berharap kepada generasi muda, semoga ada yang jadi pahlawan-pahlawan di bidang ini lagi. Saya melihat peluang ekonomi sangat terbuka lebar sekali untuk usaha kopi untuk ke depan.
Sekarang sudah ada jurang pemisah yang tercipta antara generasi tua dengan generasi muda untuk usaha kopi ini di tiap kampung. Belum ada anak-anak muda yang berani mengambil alih untuk melanjutkan usaha kopi. Sekarang yang menjadi tugas berat yang harus dilakukan oleh semua pihak termasuk saya itu, membangun sebuah komitmen pahlawan kopi kepada generasi muda.
Petani model harus dibangun. Ia lebih fokus kepada generasi muda, karena mereka yang melanjutkan nanti ke depan. Sekali pun ada generasi tua tetapi akan kita fokus kepada generasi muda. Dalam usaha semacam kopi itu memang berat rasanya, tetapi modal utama yang perlu dimiliki oleh para generasi muda yang mau kembangkan usaha kopi ke depan itu, sebuah komitmen.
Bagaimana dukungan pendanaan dan fasilitas dari pemerintah daerah Kabupaten Dogiyai saat ini?
Sekalipun ada dukungan dari pemerintah Dogiyai sama kami (usaha kopi Moanemani:red) tetapi secara nyata hingga saat ini belum ada. Memang kami sempat bicara tetapi sekarang ada tercecer di mana kami juga tidak tahu. Mereka (pemerinta Dogiyai:red) bisa jadi lupa karena mereka punya kesibukan banyak.
Ada perhatian yang nyata saat karateker saja (Bapak Drs. Adauktus Takerubun:red). Bupati karateker sempat menggunakan tenaga saya sebagai tenaga pemberi input kepada pemerintah bagian Perkebunan, pertanian dan perikanan.
Untuk baru-baru ini, waktu MUSREMBANG kemarin saya juga sempat diundang dan saya sempat memberikan beberapa ide dan pendapat saya terkait kopi ini. Saya sampaikan, pemerintah harus buat titik-titik pembelian kopi di tiap distrik dengan ongkos yang sama dengan yang kami beli. Pendapat saya itu sudah diterima oleh pemerintah dan ditanggapi positif jadi tidak tahu nanti akan dilaksanakan atau tidak, kita tunggu realisasi dari mereka.
Saya dibantu hanya waktu di sini distrik (distrik Kamuu). Tahun 2001, saat itu Bapak AP You menjadi Bupati Nabire, jadi saya merasa sangat berterimakasih kepada beliau. Waktu itu kami ajukan proposal bantuan kepada beliau, beliau membantu kami 1 Milyar. Selanjutnya, hingga saat ini tidak ada perhatian sama sekali dari pemerintah kepada kami.
Bagaimana penggunaan uang itu?
Setelah kami terima uang itu kami pakai secara bertahap. Kami keluarkan banyak uang ketika kami pesan plastik untuk bungkus kopi dan kantong plastik, kami masih pakai sampai saat ini. Uang itu kami sudah kelola dan sudah kami pakai selama 13 tahun.
Stok untuk plastik dan pembungkus masih memadai hingga beberapa tahun ke depan. Uang itu telah member warna dan membangkitkan lagi koperasi ini dan masih jalan hingga saat ini.
Bapak, tempat ini (Kopersi) dibangun puluhan tahun lalu. Fasilitas juga mungkin sudah lama.
Bagaimana dengan kondisi tempat dan fasilitas sekarang?
Seperti yang anak sendiri lihat ini. Kami masih pakai rumah yang lama dengan kondisi seperti ini (apa adanya). Kalau nanti ada dana, kami rencana perjelas status tanah ini terlebih dahulu karena tempat yang kami sedang pakai ini juga milik masyarakat di sini dan status belum jelas.
Fasilitas juga sudah lama semua. Harapan perhatian dari pemerintah daerah kepada koperasi Kopi Moanemani tentu ada, tetapi yang paling penting adalah harus ada ‘petani model’ kepada generasi muda dengan maksud usaha kopi ini terus ada terus hingga beberapa tahun mendatang.
Cara agar kopi tetap dipertahankan dalam perubahan, apa yang perlu dilakukan?
Saya pikir, pemerintah harus ajarkan skill yang memadai kepada masyarakat, khususnya kepada masyarakat yang sudah punya kebun kopi, agar kopi tetap ada terus untuk beberapa puluh tahun yang mendatang Kalau dibiarkan terus, siapa yang pertahankan kopi ini?
Pemerintah juga harus ajarkan petani dengan baik agar ada petani model di tiap distrik, lebih khususnya di bagian penanaman kopi dengan tujuan mereka yang akan dilatih itu memelihara kopi dan lahirkan kopi yang berkualitas.
Sementara yang biasa saya amati pada masyarakat Lembah Kamuu itu, sekalipun ada kebun kopi yang besar, masyarakat biarkan begitu saja. Petani model yang saya maksud itu, ajarkan masyarakat itu cara baik untuk menanam kopi yang baik, memelihara, melihat kopi mana yang sudah kena hama, cara memotong dahan dengan baik, dll.
Pokoknya ajarkan ketrampilan tentang pemeliharaan kopi yang baik kepada masyarakat di tiap distrik. Kalau hal itu diwujudkan oleh pemerintah melalui tiap distrik, saya yakin sekali, kopi tetap akan hidup di Lembah Kamuu.
Pak, selain karena ada tawaran baru, kadang-kadang masyarakat yang jauh kadang mengelu soal angkutan. Bagaimana Bapak melihat hal ini?
Untuk mempertahankan usaha kopi itu, saya sudah usulkan ke pemerintah Dogiyai untuk harus ada kendaraan khusus mengangkut kopi di tiap distrik, agar masyarakat tidak lagi datang jual di sini (Moanemani). Biar pemerintah beli di masyarakat langsung di tempat.
Apakah ada kekhatiran khusus bagi generasi muda dan kopi di Dogiyai?
Paling utama yang generasi muda tidak dipahami itu “kerja yang dengan muda kita mendapatkan uang itu, sangat muda juga kerja itu akan pergi”. Kita tidak mempunyai pekerjaan yang tetap.
Generasi muda sekarang itu lebih suka pada pekerjaan yang instan saja. Generasi muda harus ingat itu, pekerjaan instan akan melahirkan generasi bermental instan juga. Kalau kita bekerja pada sesuatu yang pekerjaannya yang membutuhkan waktu itu, akan ada hasil yang memuaskan. Untuk mencapai hasil yang memuaskan ‘kan harus bayar dengan harga yang mahal.
Bapak itu salah satu figur masyarakat di sini. Banyak masyarakat menginginkan Bapak harus menjadi kepala dinas Pertanian Peternakan dan Perkebunan (PPP). Bagaimana?
Saya secara pribadi suka apa adanya. Kalau masyarakat nilai saya begitu, itu terserah mereka. Saya suka yang ada ini hahahahahaha. Kalau saya dipanggil dari pemerintah untuk memberikan ide saya, saya siap berikan tetapi saya tidak suka masuk dalam sistim.
Kalau saya masuk dalam sistim, saya naik dalam mobil dan saya akan lupa dengan apa yang saya kerjakan di kebun atau di dalam lumpur, lebih baik saya jadi apa adanya.
Misalnya, kalau kalau uang datang atas nama kopi, kami berterimakasih tetapi yang saya lihat sekarang uang kebanyakan lari ke CV dan PT yang menang teori tetapi tidak pernah ada kenyataan kerja di lapangan.
Kami di sini itu Koperasi Kopi. Untuk pengaturan tentang Koperasi padahal sudah diatur dalam UUD 1945. Kita itu cinta miskin tetapi kita tidak cinta orang miskin.
Kalau saya masuk dalam pemerintahan (PPP), saya nanti akan jadi tamu di atas tanah saya sendiri. Lebih baik saya bekerja tanpa nama besar dan tanpa pakaian dinas. Ada berbagai cara untuk datangkan uang, bukan hanya menjadi PNS saja. (Pilemon Keiya/MS)
Penulis : Pilemon Keiya
Sumber : Majalahselangkah.com
DEIYAI – Indonesia tercatat sebagai pemasok utama produk teh dan kopi di Malaysia dengan pangsa pasar yang terus meningkat, di mana nilainya kini mencapai hingga ratusan juta ringgit dalam setahun.
Dari data yang dihimpun menunjukkan bahwa tren ekspor teh dan kopi asal Indonesia ke negara ini terus meningkat dengan nilai yang cukup menggembirakan. Berdasarkan data ekspor teh Indonesia ke Malaysia, pada 2013 mencapai 57,96 juta ringgit (Rp200 miliar) dan ekspor kopi senilai 281,22 juta ringgit (Rp973 miliar).
Pangsa pasar teh Indonesia di Malaysia pada 2013 mencapai 36 persen, diikuti Tiongkok 18,5 persen, India (7,2 persen), Vietnam (7 persen) dan Sri Lanka (5,5 persen). Sedangkan pangsa pasar kopi Indonesia di negara ini sebesar 43,2 persen diikuti Vietnam (32,7 persen), dan Brasil (10 persen).
Besarnya permintaan akan hasil komoditas perkebunan dari sejumlah daerah di Tanah Air ini sejalan dengan terus menjamurnya tempat minum teh ataupun kedai kopi di negara jiran itu.
Teh hitam jenis dust dari Indonesia merupakan produk yang paling dicari karena menjadi bahan pencampur utama bagi produk teh Malaysia.
Sebelumnya, dalam pameran Malaysia International Tea & Coffee Expo (MITCE) yang berlangsung 27-31 Maret di Kuala Lumpur, aneka produk teh dan kopi asal Indonesia juga mendapatkan peminat yang besar.
Contohnya, perusahaan perkebunan milik negara, dalam hal ini PTPN VIII yang ikut serta dalam pameran tersebut berhasil mendapatkan pembelian teh dalam jumlah besar mencapai 290 ton dengan nilai mendekati 600 ribu dolar AS. Marketing Manager PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero), Ahmad Kertabumi, mengungkapkan bahwa Malaysia merupakan pasar utama dengan menyerap 23 persen dari total ekspor teh dari perkebunan milik negara ini.
Sementara itu, sebelumnya, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VII Unit Usaha Pagaralam sebagai produsen teh telah membangun unit pengolahan teh dengan metode CTC (crushing tearing curling). Tujuan pembangunan unit pengolahan teh CTC itu adalah untuk melakukan diferensiasi produk teh agar dapat memenuhi selera konsumen, termasuk mengincar pasar teh global yang mampu menciptakan produk brand new and different from the others.
Keistimewaan serta keunggulan teh produk PTPN VII Unit Usaha Pagaralam di Sumatera Selatan itu adalah pada rasa dan aroma teh yang unik dan khas. Kekhasan itu diperoleh tidak lain karena letak geografis kebun teh yang berada pada ketinggian rata-rata 1.500 meter di atas permukaan laut yang merupakan dataran tertinggi di Sumsel.
Dalam upaya menciptakan produk yang memenuhi kriteria food grade tersebut, PTPN VII menerapkan teknologi dengan memperhatikan prinsip-prinsip higienis, dan juga didukung oleh peralatan full automatic processing serta konsultan produk berpengalaman dari India, sehingga menjamin mutu produk terjaga dan bisa memenuhi selera serta memberikan kepuasan konsumen. Beberapa produk CTC yang ada, antara lain mutu I, yakni BP, PF, Dust I, dan untuk mutu II yakni Dust II.
Teh merupakan salah satu minuman yang paling banyak dan umum dikonsumsi di dunia. Teh berasal dari China, di mana sekitar abad ke-16 ketika Portugis ke daerah tropis, kolonialnya, maka minuman teh diperkenalkan dan diimpor ke Eropa dan dengan cepat meraih popularitas. Popularitas ini membuat Portugis dan Belanda memutuskan untuk membangun perkebunan teh skala besar di daerah tropis koloni mereka.
Saat ini, perkebunan teh di Indonesia kondisinya terus menurun diakibatkan karena luas lahan perkebunan teh di Indonesia berkurang, saat ini 120.000 hektar di mana sebelumnya adalah 150.000 hektar.
Sampai saat ini Indonesia masih berada di peringkat ketiga untuk penghasil kopi terbesar di dunia setelah Brasil dan Vietnam. Hasil produksi kopi pada tahun 2012 sebesar 748 ribu ton atau 6,6% dari produksi kopi dunia.
Dalam kurun waktu dari Januari-November 2013 tercatat 32 juta dolar AS dari total 47 juta dolar impor kopi mesir, yakni menguasai 71 persen pangsa pasar dinegeri itu. Namun impor kopi Mesir dari Indonesia pada Januari-November 2013 menurun 9,43 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya tercatat 35,32 juta dolar.
Jumlah tersebut terdiri dari produksi kopi robusta mencapai lebih dari mencapai lebih dari 601 ribu ton atau sebesar 80,4% dan produksi kopi arabika mencapai 147 ribu ton atau sebesar 19,6%. Kopi Indonesia memiliki peranan penting bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat Indonesia.
Indonesia sangat kaya dengan letak geografisnya yang cocok untuk lahan perkebunan kopi. Dengan memiliki luas lahan perkebunan kopi Indonesia mencapai 1,3 juta hektar, dengan luas lahan perkebunan kopi robusta mencapai 1 juta ha dan arabika 0,30 ha. Dengan demikian industri kopi menjadi salah satu industri prioritas yang terus dikembangkan.
Beberapa produk kopi yang menjadi andalan bagi penikmatnya ada Gayo Coffee, Mandaling Coffee, Lampung Coffee, Java Coffee, Kintamani Coffee, Toraja Coffee, Bajawa Coffee, Wamena Coffee, dan juga Luwak Coffee.