Logo
  • Home
    • About Us
    • Visi & Misi
    • Our Services
    • Layanan Kami
    • Team Members
    • Team Members
    • Projects V2
    • Our Services
    • Pricing Table
  • Profil Kopi
    • Profil Kopi Papua
    • Kopi Spesialti Papua
    • Kopi-Kopi Papua
    • Profil Kopi Indonesia
  • Coffee Story
    • Rahasia Proses Pengolahan Kopi Papua
    • Sejarah Kopi Papua
    • Baliem Blue Coffee
    • KBA – Baliem Blue Coffee
  • Perusahaan Kopi
    • KSU Baliem Arabica
  • Contact Us
    • Peluang Usaha
Logo

Organic Arabica - Papua Single Origins

  • Address

    d/a PT PAPUA MAJU BERSAMA, Kompleks Missi, Pos 7 Sentani 99352, Papua, Indonesia
  • Email

    cs@kopipapua.com
  • OFFICE HOURS

    Office Hours: 8:00 AM – 7:45 PM

Kisah Bulir Kopi dari Pedalaman Papua

  • Home
  • Kisah Bulir Kopi dari Pedalaman Papua
  • By admin
  • In Cerita Kopi

Warga Kampung Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua, harus memikul hasil kebun yang akan dijual ke pasar melewati hutan dan menyusuri sungai untuk mencapai jembatan gantung Sungai Mapia, Minggu (25/3/2018). Jembatan permanen yang menjadi penghubung desa-desa tersebut sampai kini hanya berupa fondasi di kedua sisi sungai.

Jika ada cara untuk mengubah rasa kopi dari pahit menjadi manis, cerita adalah salah satunya. Jauh di pedalaman, sekelompok komunitas rela menempuh beratnya medan untuk mengangkat nasib warga lokal.

Setiap kali menjual kopi, warga di pedalaman Modio, Distrik Mapia Tengah, Kabupaten Dogiyai, Papua, harus berjibaku dengan buruknya jalur transportasi. Jalan panjang harus mereka tempuh agar bisa sampai di kota.

Saat panen kopi, mereka akan menjual kopi ke kota. Kopi dimasukkan ke noken dan mereka berjalan bertelanjang kaki menyusuri jalan berbatu seharian. Beberapa mama kadang membawa serta anak mereka di perjalanan. Anak disunggi bersama noken berisi kopi. Ubi atau nota rebus dibawa sebagai bekal di jalan.

Perjalanannya tak mudah. Terkadang mereka harus mendaki menuruni bukit berbatu, menyeberangi Sungai Mapia yang berarus deras, dan menyusuri hutan.

Alat transportasi satu-satunya hanya ojek, tetapi tak selalu ada dan berbiaya tinggi. Ongkosnya mencapai Rp 50.000 sekali jalan. Ojek pun hanya mengantar sampai di tepi Sungai Mapia. Jembatan yang ada hanya bisa dilewati pejalan kaki, itu pun harus memutar menyusuri hutan tepian sungai. Sesampainya di seberang, warga masih harus menunggu angkutan kota dengan biaya Rp 50.000 sekali jalan.

Sulitnya akses di pedalaman Papua dirasakan betul oleh Sesilius Kedeikoto, pekebun dari Modio. Dulu, setiap kali panen, ia harus ke kota untuk menjualnya. Ia bisa saja memilih ojek, tetapi ia harus membawa panen dalam jumlah banyak agar ongkos transportasi bisa seimbang dengan uang yang ia hasilkan. ”Kalau hanya panen sedikit, saya bawa saja. Su biasa jalan,” kata Sesilius.

Bagi warga pedalaman, mengeluarkan uang Rp 200.000 sekali jalan untuk menjual kopi sangatlah berat. Dulu, saat kopi berharga Rp 35.000 per kg greenbean, sedikit warga yang mau memanen, apalagi menjual ke kota.

Sesilius beruntung kini kopinya ditampung Pater Biru Kira Pr. Ia tinggal menyetor ke Modio, tempat Pater tinggal. Pater Kira akan membeli kopinya tanpa harus ke kota. Kopi warga dihargai tinggi, Rp 50.000-Rp 70.000 per kg biji beras kopi (greenbean). Ia pun tak perlu kehilangan ongkos transportasi.

Kopi-kopi itu kemudian diolah dan dikemas oleh Kira. Dialah yang menggantikan warga menempuh medan berat menuju kota untuk menjual kopi dalam bentuk jadi.

Di Bomomani, Dogiyai, para pater lebih dulu memulai gerakan itu. Mereka membeli kopi dari petani sejak 2008.

Pater Johan Ferdinand Wijshijer, pastor pertama yang bertugas di Bomomani, tergerak membeli kopi petani karena melihat banyak kebun kopi tak digarap. Kebun telantar karena petani tak punya akses pasar.

”Dulu, harga kopi sangat rendah, sekitar 15.000 per kg (biji beras). Kami coba membeli dan membantu pemasarannya walau saat itu sulit karena akses belum terbuka,” ujar Ferdinand.

Saat itu, jalur Trans-Nabire hingga Dogiai belum mulus. Untuk menuju Bomomani dari Nabire, butuh dua hari berkendara gardan ganda. Ketika musim hujan, kendaraan penuh lumpur.

Hingga kini, kopi yang dibawa petani pun selalu dibeli bagaimanapun kondisinya. Pernah kopi-kopi itu menyita kas mereka dan para pater memilih memakai uang sendiri untuk membeli.

”Ada kegembiraan di hati kami ketika melihat mereka bisa pulang membawa uang dari hasil kebun kopi. Uang itu katanya untuk sekolah anak. Jadi, sampai sekarang, punya modal atau tidak, kopi tetap kami beli,” kata Romo Reynaldo Antoni Haryanto Pr, pastor di Paroki Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani, Papua.

Ada kegembiraan di hati kami ketika melihat mereka bisa pulang membawa uang dari hasil kebun kopi. Uang itu katanya untuk sekolah anak. Jadi, sampai sekarang, punya modal atau tidak, kopi tetap kami beli.

Sederhana

Kopi yang dibeli pun diolah. Jangan bayangkan penyangraian kopi berstandar kafe-kafe besar di Jakarta. Reynaldo menyangrai kopi dengan sumber api dari tenaga diesel. Suara mesin yang keras sering kali mengalahkan bunyi ”krek” rekahan biji kopi yang telah masak. Sangrai kopi pun kerap tertunda jika mesin diesel rusak.

Proses pendinginan biji kopi setelah disangrai di Pastoran Bomomani, Kabupaten Dogiyai, Papua, Minggu (25/3/2018). Masyarakat, selain menjual kopi hasil kebun mereka ke beberapa pengepul, juga menjual kopi kepada pihak gereja.

Kopi olahan itu diberi nama Mamo (Mapia Mountain). Kopi yang ditanam di Pegunungan Mapia merupakan varietas langka, typika. Kopi ini merupakan kopi organik karena warga benar-benar merawatnya secara alami.

Dari hasil penjualan kopi, mereka bisa menyuplai bantuan bibit tanaman, mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air untuk warga sekitar, hingga memenuhi kebutuhan hidup dan pendidikan anak-anak petani. Tahun ini ada tujuh anak petani tak mampu yang ditampung di Asrama Bomomani. Hitungan bisnis benar-benar tak bisa diterapkan dalam perdagangan kopi di sini.

Inisiatif membantu petani pun dilakukan Deni, pilot yang bertugas hingga pedalaman Papua. Ia memotong rantai distribusi dengan membawa langsung hasil kopi petani kepada pemilik kedai di sejumlah kota.

Ia masih ingat, rasanya setengah mati memanggul sekarung kopi hasil panen dari kebun sendiri di Kabupaten Lanny Jaya. Akses jalan masih sulit. Jalan kaki ditempuh 95 km menuju Wamena, ibu kota Jayawijaya. ”Perjalanan bisa dua hari naik turun bukit dan melintasi hutan,” ujarnya mengenang.

Kini akses jalan sudah membaik, tetapi harga kopi petani belum bagus. Belakangan, ia membuka kedai kopi di Timika sehingga dapat menampung kopi petani dari Lanny Jaya. Dengan membeli langsung kopi petani, panjangnya mata rantai terputus. Petani menerima selisih harga lebih tinggi hingga Rp 10.000 per kg dibandingkan di tengkulak.

Pemilik kedai kopi Otentik di Jayapura, Glorio Ledang, juga keluar dari rantai perdagangan konvensional. Ia mulai membangun sumber kopinya sendiri. Ia membeli biji beras sekaligus memberdayakan petaninya.

Akses sulit juga dialami warga Waerebo di Flores. Mereka mesti berjalan kaki lebih dari 5 km naik-turun gunung dengan memanggul hasil panen kopi.

Menurut Marten Forma (50), petani kopi, karena jarak ke bawah yang jauh, dulu warga membarter hasil panen kopi dengan kebutuhan pokok, seperti beras dan garam. Kini, mereka tertolong dengan kehadiran salah satu pemilik kafe di Bandung yang tertarik memasarkan kopi arabika Waerebo.

”Pembeli itu langsung mengangkut hasil kopi dari Waerebo. Dia membawa tenaga belasan orang pengangkut dari bawah (lereng gunung). Setelah itu, kopi dikirim ke Bandung dengan pesawat,” ujar Marten.

Di tengah muramnya sketsa perdagangan kopi, petani masih punya harapan. Di jalan sunyi, masih ada sekelompok orang yang berjuang mengangkat nasib warga di pedalaman. (IRMA TAMBUNAN/ SIWI YUNITA C/ GREGORIUS MAGNUS FINESSO/ VIDELIS JEMALI)

bisnis KopiBulir KopiKopi Dogiyai
SPEKTRUM: Surga Kopi Ada Di Sini
”Toki-toki” Angkat Cerita Kopi Papua

Leave a Comment Cancel reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Recent Posts

  • Kopi Wamena Perjalanan Epik dari Tradisi Lokal ke Tren Internasional
  • Biji Kopi Papua: Permata Langka dari Dataran Tinggi Indonesia yang Masih Asri
  • Papua Pemikat Ratu Belanda
  • Membongkar Rahasia Proses Pengolahan Kopi Papua: Dari Kebun ke Cangkir
  • Mengungkap Keunikan Kopi Papua Melalui Penelitian

Recent Comments

  1. A WordPress Commenter on Baliem Blue Coffee: Merek Dagang Kopi Arabika Organik dari Lembah Baliem, Papua
  2. Spart Lee on Unsatiable entreaties may collecting Power.
  3. Spart Lee on Consulted admitting is power acuteness.
  4. Spart Lee on Discovery incommode earnestly no he commanded
  5. Jonathom Doe on Unsatiable entreaties may collecting Power.

Archives

  • January 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • March 2025
  • March 2024
  • August 2022
  • May 2022
  • October 2021
  • July 2021
  • January 2020
  • May 2019
  • March 2018
  • April 2015
  • December 2014
  • October 2014
  • August 2014
  • July 2014
  • May 2014
  • April 2014
  • March 2014
  • February 2014
  • October 2013
  • September 2013
  • August 2013
  • July 2013
  • June 2013
  • March 2013
  • December 2012
  • November 2012
  • June 2011
  • May 2011
  • April 2011
  • January 2008
  • August 2007
  • January 2005

Categories

  • Analysis
  • Berita Perusahaan
  • Bisnis Kopi
  • Cerita Kopi
  • Firewall
  • IT Solutions
  • Security
  • Technology
  • Uncategorized

About aveit

Organic Arabica - Papua Single Origin by KSU Baliem Arabica, PT Papua Mandiri Bersaudara, PT Kimarek Aruwam Agorik, CV BANANA LEAF CAFES

Services

  • SEO Marketing
  • Pay Per Click
  • SEO Services
  • Social Media
  • SEO Audit

Company

  • Rahasia Proses Pengolahan Kopi Papua
  • Contact Us
  • Career
  • Terms
  • Team Members

Contact Us

  • ADDRESS

    California, TX 70240
  • EMAIL

    support@validtheme.com
  • CONTACT

    +44-20-7328-4499

© Copyright 2021 KopiPAPUA.com By PT PAPUA Mandiri Bersaudara

Logo